
Di antara lembah dan perbukitan yang menjulang tinggi, asap mengepul tinggi melalui cerobong. Lao Zi memiliki banyak kenalan yang cukup handal dalam pandai besi, sehingga dalam waktu empat hari saja mereka sudah kedatangan tiga orang pengrajin handal. Mereka bekerja siang-malam, membuat baju tempur, pedang, pisau kecil dan peralatan berperang lainnya.
Pembangunan benteng-benteng dan bangunan lainnya berjalan cukup cepat. Di samping itu jumlah mereka semakin bertambah, sejauh ini pihak Kekaisaran Shang belum mengambil tindakan apa-apa terkait kehadiran Empat Unit Pengintai baru ini. Berita tewasnya tiga puluh lebih anggota Empat Unit Pengintai inti dan 400 prajurit dalam satu malam, dan pula di tangan satu orang membuat geger satu Kekaisaran Shang.
Berita ini mendapatkan perhatian lebih pada Kaisar Qin sehingga di utus beberapa mata-mata Kekaisaran, dia baru menyadari beberapa bawahannya hilang tanpa kabar. Hanya meninggalkan surat kecil berisi pengunduran diri.
Begitu pula para Pilar Kekaisaran yang menduduki kursi dua sampai sembilan. Mereka mulai was-was untuk alasan yang tidak jelas. Sosok yang membunuh hampir seribu orang itu, terhitung dari pertarungan pertama 250 orang dan kedua 431 orang cukup membuat keamanan mereka terganggu.
Apalagi saat salah satu prajurit melapor tentang kejadian ganjil yang terjadi saat salah satu utusan walikota hendak menangkap mantan Aliansi Pedang Suci yang menggerakkan anggota. Pesan di kayu yang ditulis dengan mata pedang; Era Baru Dimulai.
Menjadi pertanda bahwa akan muncul sesuatu yang besar.
Para masyarakat bergejolak dan justru mendukung Empat Unit Pengintai yang baru. Tidak ada cela untuk memerangi mereka. Empat Unit Pengintai menutup diri rapat-rapat tentang siapa mereka. Apalagi pemimpin mereka yang memunculkan banyak sekali dugaan serta kabar burung. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah salah satu dari keturunan bangsa lain, dari semua berita itu hanya satu yang mendekati fakta.
Bahwa sosok itu memiliki mata yang bercahaya biru terang. Layaknya Api Keabadian yang membumihanguskan Kota Renwu. Hingga detik ini pun, tidak ada yang bisa memastikan siapa sebenarnya sosok tersebut. Baik Kaisar Qin dan Pilar Kekaisaran tidak ada yang mampu mengonfirmasikan apa yang sedang terjadi di Kekaisaran mereka.
Meluasnya kejatuhan Empat Unit Pengintai terdengar hingga ke Kekaisaran Qing. Sama seperti pihak Kekaisaran Shang, mereka belum mengambil tindakan apa-apa. Entah Empat Unit Pengintai akan memihak sebelah mana atau justru akan netral. Tak jarang orang-orang Kekaisaran Qing datang, untuk bergabung. Walaupun kebanyakan ditolak oleh Lan Zhuxian sendiri. Dia tak ingin menghancurkan kepercayaan Xin Chen dengan menerima orang-orang yang kemungkinan besar akan bermasalah.
Tujuan utama mereka adalah menjatuhkan pemerintahan Kekaisaran Qing. Lao Zi dan Bai Huang juga secara terang-terangan menentang. Berjalan sepekan semenjak ditinggalkan Xin Chen, perkembangan mereka semakin pesat. Kesembilan unit pertama mengarahkan dengan baik. Nan Ran dan Bai Huang mengambil alih perekrutan anggota, mereka bertambah menjadi 500 orang.
Tentu saja lebih banyak orang-orang kuat bergabung setelah mendengar berita yang mencengangkan tersebut.
Terdengar sebuah percakapan di sebuah pondok kecil tempat arak disajikan.
"Tuan Muda kita itu, seperti apa rupanya?" Salah seorang menyelutuk percaya diri.
__ADS_1
"Yang pasti dia adalah pendekar hebat yang hidup bertahun-tahun dengan menyembunyikan diri, menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan sosoknya. Ah, mengingat atasanku dan membandingkannya dengan orang ini, dia sudah pasti bisa menghancurkan Naga Kegelapan bahkan hanya dengan tangan kosong!"
"Benar, tiga puluh orang Unit itu mati tanpa menyisakan abu. Aku sempat melihat kepala pemimpin mereka Feng Guzu dipajang di ruangan tersendiri. Ini bukan bohongan, itu artinya pemimpin kita ini ... Ck, aku yakin dia bisa melindungi satu kekaisaran ini sendirian."
"Apalagi yang kita tunggu. Orang kuat sepertinya pasti tak pernah terluka sedikit pun. Dia sungguh menakjubkan."
Bai Huang yang mendengar percakapan itu menjadi miris, membayangkan dirinya berada di posisi Xin Chen saat mendengar mereka yang tidak tahu apa-apa soal siapa Xin Chen. Bai Huang bukan tidak tahu bagaimana masa lalu pemuda itu, kehilangan ayahnya di depan matanya sendiri tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia menghilangkan diri hanya untuk menguburkan luka itu dalam-dalam.
Saat semua orang begitu meninggikan namanya, berharap lebih padanya dan melemparkan tugas berat untuk diembannya sendirian karena alasan kepercayaan. Terkadang, hal seperti itu cukup menyakitkan. Saat dirinya sendiri terluka dan mencoba melindungi puluhan ribu orang sendirian.
'Kau kuat, tapi aku tak yakin kau bisa menanggung ini semua sendirian selamanya.' batin Bai Huang lalu mendekati ketiga orang yang masih sibuk meributkan soal siapa pemimpin mereka.
"Orang yang kalian bicarakan itu, dia hanya manusia biasa. Kita ada di sini untuk mendukungnya bukan untuk terus-terusan memujinya. Aku yakin dia orang yang tak suka dipuji, dia lebih suka membuktikan hasil kerjanya sendiri tanpa meminta penghormatan apa pun dari orang lain."
Ketiga orang itu terdiam menunduk, lantas bersahut kompak. "Baik, Senior."
"Ikan-ikan bikin susah!"
Lalu melemparkan barang-barang hingga berbunyi ribut.
"Tian Xi, kalau sudah selesai bersihkan sisa makanannya!"
"Tidak mau!" kesalnya sampai urat di lehernya muncul. "Aku yang majikan kenapa malah aku yang jadi budak. Ikan-ikan ini memang kurang ajar."
Nan Ran yang tak sengaja melewati tempat itu tertawa terbahak-bahak, sampai orang lain cengo melihat kelakuannya. Menertawakan Tian Xi adalah kenikmatan tersendiri, perutnya serasa digelitik.
__ADS_1
"Dari semua unit satu hanya pekerjaanmu yang paling tidak elit!"
"Mulutmu, Besar Tinggi!"
"Oi, oi, kau terbalik menyebutnya."
"Mulutmu, Tinggi Besar!" Tian Xi mendengkus seperti kerbau.
"Hahahah!" tawanya semakin menjadi. Tian Xi mengatupkan mulutnya saat mendapati Bai Huang yang galak datang.
Melihat Nan Ran malas-malasan, Bai Huang langsung menjitak kepalanya.
"Kerja!"
"Argh, ampun!" Kepala Nan Ran terasa panas dan berdenyut-denyut, dilihatnya Bai Huang yang melotot geram. Padahal baru hari ini dia bisa melepaskan penat dengan meledeki Tian Xi.
"Omong-omong kalian melihat ke mana perginya Lao Zi, aku ingin berbicara dengannya."
Nan Ran menggeleng tidak tahu, "Entahlah. Mungkin berlatih memanah bersama yang lainnya. Kudengar dia juga membentuk kelompok khusus pemanah, di sebelah timur coba cari."
"Aku juga berpikir seperti itu, di sana tidak ada dia di mana pun. Yang lain sibuk berlatih tanpa keberadaan Lao Zi, kata mereka anak itu tidak muncul beberapa hari ini."
"Mungkin sedang merekrut anggota sesama pemanah?" Tian Xi memberikan usulan.
"Seharusnya dia melapor pada Lan Zhuxian, dia taat aturan. Tak mungkin bergerak sendiri tanpa persetujuan."
__ADS_1
Saat mereka sibuk berbincang muncul seseorang yang tiba-tiba menimbrung.
"Kalian mencari Lao Zi? Kebetulan aku juga mencarinya seharian ini. Jangan bilang dia lepas tangan dengan kerjaannya sendiri?"