
Kabar kematian ini menyebar begitu cepat, hingga ke telinga para Pilar Kekaisaran. Banyak yang menarruh curiga atas keganjilan yang disebabkan oleh Kota Renwu, kematian para nelayan, menipisnya hasil tangkap ikan hingga gelombang tinggi yang sering terlihat. Menanggapi keresahan masyarakat diutus sekitar 50 prajurit pada awal fajar. Kelompok itu dipimpin langsung oleh Xin Zhan, berbagai peralatan diangkut ke dalam kapal yang memang dikhususkan untuk kapal perang.
Pagi buta, bahkan kabut masih menyelubungi Kota Fanlu namun para penduduk sudah berkerumun menyaksikan kepergian mereka. Banyak yang resah gelisah, terutama karena dari banyak kabar yang terdengar tak pernah ada yang kembali setelah pergi menuju Kota Renwu. Mungkin dalam tujuh tahun terakhir sudah seratus lebih trdengar kabar yang samadan kehadiran Xin Zhan kali ini, ditakutkan bahwa satu-satunya anak yang tertinggal dari Pedang Iblis hanya tinggal nyawa.
Banyak masyarakat yang menganggap Xin Chen telah mati. Saat mereka bertanya pada ibunya-Ren Yuan untuk memastikan hal tersebut justru tidak ada jawaban, membuat mereka semua yakin bahwa Xin Chen telah mati bersama kobaran api yang melahap seluruh daratan dan perairan Kota Renwu.
Pelayaran akan dilakukan dalam beberapa menit lagi, Xin Zhan tak sengaja melihat seseorang yang tengah berdiri di pinggiran laut, ibunya. Seharusnya Ren Yuan beristirahat di rumah, penyakit dalam tubuhnya semakin memburuk dalam dua tahun terakhir. Belum ada yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, bahkan hingga detik ini.
Wajah pucat Ren Yuan semakin memutih saat angin laut menyapanya, cahaya matahari mulai menampakkan diri bersama indahnya perairan lepas. Tiga minggu sudah dia mengurung diri, sebenarnya Ren Yuan nekat pergi saat terdengar kegaduhan di tepi pantai oleh penemuan mayat. Lama berdiri, akhirnya Xin Zhan mendekatinya.
"Angin pagi tidak bagus untuk kesehatan Ibu, kembalilah ke rumah."
"Kau benar-benar akan pergi ...."
"Aku pasti akan kembali, akan ku pegang janjiku."
__ADS_1
Sekilas Ren Yuan tersenyum, dia bahagia masih memiliki Xin Zhan di sisinya. Dulu, anak itu tak begitu peduli dengannya dan sekarang Xin Zhan mengabdikan dirinya untuk ibunya. Hal yang begitu menghibur hati Ren Yuan, dan membuatnya ketakutan jika suatu saat Xin Zhan pun akan pergi dari sisinya.
"Aku ingin memastikan jika benar, kalau memang dia masih di sana aku bersumpah takkan melepasnya. Ibu, tunggulah sebentar. Mungkin hanya tiga har lamanya kami di sana, Paman Lan dan Bibi Xiaxia akan menggantikanku menjagamu."
"Zhan'er!" panggil Ren Yuan sebelum putranya pergi, dia berlari-lari kecil dan menyodorkan sesuatu pada anaknya yang bahkan jauh lebih tinggi darinya. Xin Zhan tumbuh dengan baik di kota pelayaran ini, Fanlu. Tinggi semampai, kulit putih indah dan juga rambutnya hitam pekat mengikuti Ren Yuan. Sikapnya yang sangat baik, tegas dan rendah hati memikat begitu banyak gadis. Namun, sayangnya tak ada yang digubris pemuda itu, dia lebih mementingkan Ren Yuan di atas segalanya.
"Apa ini?" Alis tebal Xin Zhan bertemu heran, sebuah kalung dengan sebuah kerang yang diikat di tengahnya, memang sangat indah tapi Xin Zhan tak sanggup Ren Yuan menyuruh dia memakainya. Ini adalah perhiasan yang biasa dipakai para gadis pinggir laut.
"Dan mengapa ada dua? Ibu menyuruhku memakainya di leher dan di kaki?" keluh Xin Zhan mulai gelisah, dia menatap ibunya dengan sayu. Tidak akan mungkin diikatnya kalung itu di leher, yang ada akan menjadi bahan tertawaan satu kota.
"Zhan'er, aku membuatnya sepasang untukmu dan adikmu," ujar Ren Yuan begitu bahagia, Xin Zhan menjadi tak tega melihat mata berharap itu.
"Ibu, jangan katakan omong kosong begitu," sela Xin Zhan. Dia melilit kalung tersebut di atas pergelangan tangannya yang putih bersih, dengan hiasan kerang yang menggantung di bawah tangannya.
"Kapal akan segera berlayar, Ketua! Bergegaslah!" seru sang nahkoda sambil melambaikan tangannya di anjungan kapal. Puluhan pasang mata tertuju ke arah mereka. Xin Zhan mengangguk dua kali dan berpamitan pada ibunya.
__ADS_1
Sebelum benar-benar meninggalkan Kota Fanlu, Xin Zhan masih dapat melihat senyuman Ren Yuan, sembari melihat hadiah yang diberikan ibunya. "Hari ini adalah hari kelahiranku dengan Xin Chen ...."
Xin Zhan baru teringat akan hal itu, mereka memiliki tanggal kelahiran yang sama. Ren Yuan yang paling mengingat akan hal itu, dan juga tanggal pernikahan Lan An bersama Xin Xia adalah atas usulan Ren Yuan. Tanpa sadar salah satu lelaki mendengarnya, dia melihat kerang yang dililit di tangan Xin Zhan tahu benda itu merupakan benda yang barusan diberikan Ren Yuan kepadanya.
"Ah iya, hari ini seharusnya kau dan adikmu berulang tahun ...." gumam laki-laki itu, lalu nelempar pandangan pada laut lepas di mana Kota Renwu berada.
"Sudah begitu lama semenjak perang itu, tak ada satu pun yang bisa melupakannya. Andai adikmu masih ada, mungkin dia sama baiknya seperti dirimu, kalian sama-sama sudah dewasa."
Xin Zhan menatap langit yang sama, teringat akan sebuah papan bertulisan yang kemarin Ren Yuan bawa ke rumah sambil menangis. Entah memang adiknya itu masih bernapas atau tidak, tapi jika memang Xin Chen masih hidup ingin sekali dihajarnya adiknya itu. Dia sudah tak memedulikan Ren Yuan, hanya itu yang dapat di pikirnya sekarang. Bahkan saat Ren Yuan sekarat, Xin Zhan berkali-kali mengirimkan sebuah perahu yang membawa pesannya ke Kota Renwu. Tak pernah ada balasan dan dia meragukan apa memang benar pengirim pesan tujuh tahun yang lalu benar adalah Xin Chen.
Padahal hari masih begitu pagi namun langit berawan pekat sudah menggantung di tengah laut, seperti hampir menyentuh permukaan air yang mulai bergelombang. Kapal kian mendekat pada kepulan awan hitam tersebut dengan tiba-tiba petir menyambar tiang layar. Membuat yang lain panik tak main-main. Badan kapal mulai miring ketika hembusan angin kencang menerpa, hampir membalikkan seisi kapal yang padahal memiliki muatan banyak itu. Terlebih lagi mereka mengangkut banyak penumpang dan persediaan.
Salah satu pria yang bersuara, "Dihadapan alam kita memang sangat kecil." Dia telah merelakan nyawanya jauh sebelum menginjakkan kaki di kapal ini, kemungkinan bertahan hidup sangat kecil. Apalagi mereka tidak tahu apa kah di Kota Renwu masih ada tmpat untuk bersinggah. Tidak pernah ada yang mengetahui bagaimana keadaan Kota Renwu yang sekarang.
Keadaan telah kacau, air mulai merembes di mana-mana. Xin Zhan berteriak kencang sekali. "Turunkan muatan! Turunkan muatan!"
__ADS_1
Lantas tong-tong minyak, beberapa persediaan makanan serta barang berat lainnya dikeluarkan. Petir datang lagi dan kali ini menyambar tengah kapal, membuat lubang yang cukup besar di permukaan.
Salah satu dari mereka menunjuk dengan ketakutan luar biasa. "Semua, lihat! Awan itulah yang sering dibicarakan pelaut!"