
Xin Chen tak begitu yakin apakah kekuatan Yuhao ini seperti perkiraannya. Sulit menebak dan mempertimbangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sejauh pengamatan Xin Chen wanita itu memiliki dua tipe serangan yang sama-sama mematikan, jarak jauh dan dekat. Nyaris tak memiliki celah.
Dia dapat menghilang tanpa sepengetahuan Yuhao tadi karena Topeng Hantu Darah. Kekuatannya berbeda dengan kekuatan roh biasa dan lebih tinggi sehingga sulit dikenali dengan mata roh sekali pun. Mungkin Yuhao masih belum mengetahui perihal pusaka tersebut. Dan ini merupakan kesempatan yang bagus, Xin Chen dapat menyerangnya diam-diam.
Akan tetapi Yuhao juga memiliki refleks yang luar biasa. Satu detik untuk kembali ke tubuh semula, dalam kurun satu detik itu saja Yuhao dapat menangkis segala serangan yang dilancarkannya.
Jenis serangan lainnya bermunculan, kali ini Yuhao benar-benar mengerahkan segala kekuatannya.
"Kau tahu aku sudah mempersiapkan segalanya demi hari ini!"
Hutan belantara berubah menjadi malam pekat tanpa setitik pun cahaya. Xin Chen mengitari tempat di mana Yuhao berada. Menggunakan wujud Topeng Hantu Darah hanya berlaku sepuluh detik, dia tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang lawan.
Cekikan tangan hitam menarik tubuh Yuhao, wanita itu melarikan diri seperti biasa namun tanah di tempatnya berada diselimuti oleh kekuatan roh lain. Ribuan tangan hitam muncul di tanah tersebut, di tengah gelapnya malam tersebut bulan yang semula bulat menjadi bola mata yang terus memperhatikan ke bawah. Seolah-olah mengintai Yuhao dalam-dalam.
Wanita itu sedikit gentar, dia menerobos jalan lain yang jauh dari dampak kekuatan Xin Chen. Tersenyum meledek, baginya serangan seperti itu masih mudah dihindari asalkan dirinya tak melihat mata tersebut. Dan juga tangan-tangan roh tersebut, hanya dengan Mantra Pembasmi akan langsung hilang tanpa sisa.
Sementara Xin Chen sendiri masih belum tahu kelemahan jurus Yuhao, wanita itu bergerak cepat. Tak membiarkannya membaca teknik yang dia miliki. Yuhao seperti berada di atas awan saat melihat pemuda itu sulit mengikuti pergerakannya yang lincah. Sementara mantra yang kian bertambah banyak di tempat ini tak lama lagi akan membunuh Xin Chen. Dia takkan mampu menahan tekanan yang sedemikian hebatnya. Kalaupun bisa, Xin Chen harus mempertaruhkan semua kekuatan roh yang dia miliki untuk melindungi tubuh rohnya.
"Saat melihatmu jujur saja aku teringat dengan muridku yang sudah lama mati itu, Zhang Ziyi. Dia mati oleh keserakahannya sendiri. Seandainya hari itu dia mengambil jalan yang benar, sekali pun dia mati, mayatnya masih dapat aku kuburkan."
__ADS_1
Tersirat kesedihan di kedua mata yang telah menua itu, rambut Yuhao yang putih panjang sampai selutut bergerak saat angin kencang menerbangkannya. Wanita itu tak berpijak pada tanah melainkan mengambang di udara, air mata nya telah lama kering semenjak kematian putrinya.
"Setiap hari aku ingin membunuh kalian. Tapi ... Aku sempat berpikir jika aku adalah ibumu. Rasanya juga menyakitkan. Kehilangan putra yang dijaga dengan mempertaruhkan nyawa. Kau benar-benar anak yang tidak tahu diri." Yuhao memandang Xin Chen penuh arti. "Kau kira meninggalkan keluargamu adalah tindakan yang hebat? Sebagai seorang ibu aku takkan sanggup menerima perlakuan itu. Kau bersikap seolah-olah kau mati, kau telah kehilangan jalan, terus menerus menginginkan kekuatan. Apa yang terjadi jika ibumu tahu yang sebenarnya?"
"Berhenti mempengaruhiku." Jawaban itu keluar dengan nada dingin.
"Berhenti mempengaruhiku?" Yuhao setengah tak percaya Xin Chen justru berpikir demikian. "Aku mencari tahu tentangmu sejak lama, semua yang kau lakukan dan di mana kau berada. Saat mendengar cerita soal ibumu, seketika rasa ingin membunuhku menghilang. Minta maaflah padanya. Atau saat dia sudah tiada kau akan menyesalinya."
"Nasehati dirimu sendiri. Kau membuang muridmu Lan Zhuxian, meninggalkannya sendiri tanpa siapa pun. Keluarga atau pun kerabat. Dia mengejarmu dan hampir mati di tanah orang."
Kini Yuhao yang terdiam, dia menggeram karena kehabisan kata-kata. Tangannya yang mengepal terangkat ke atas. "Kurasa tak ada lagi yang harus ku perbincangkan denganmu."
Jika tertangkap saja, Xin Chen yakin kuku wanita itu dapat mengalirkan kutukan ke dalam tubuhnya. Ada begitu banyak mantra unik yang membahayakannya. Kesemua itu diperuntukkan untuk serangan mematikan.
Yuhao menjilati kertas berwarna merah di tangannya, mengembangkan seringai menakutkan. Sebelum Xin Chen sempat menghindar, lagi-lagi pergerakan asing terdengar di sekitarnya.
Tidak terdengar seperti suara tapak kaki atau sebagainya, namun yang jelas suara itu mendekat dan semakin mendekat. Pergerakannya yang sempat terhenti berakhir buruk, tubuhnya tak dapat bergerak dan kini dirinya baru menyadari jaring laba-laba besar mengunci kaki dan tangan. Entah datang dari mana laba-laba roh itu, Xin Chen tak terlalu memperhatikan sekitar karena sibuk menghindari serangan Yuhao.
Kembali seperti di awal, dia tak dapat mengendalikan tubuhnya. Suara cekikikan Yuhao mendengung di telinganya.
__ADS_1
"Sudah mau menyerah saja? Biar ku beri tahu padamu, sebagai senior pengguna roh ..." Suara Yuhao mengecil, lebih terdengar seperti bisikan. "Aku sudah dua puluh tahun menggunakan tubuh ini. Seluk beluk dan segalanya, tak ada yang tak ku ketahui. Termasuk semua jurus di Kitab Pengendali Roh."
Wanita itu melanjutkan. "Apa yang tidak Kitab Pengendali Roh miliki?" Yuhao memberi jeda demi bisa melihat wajah itu dari dekat sekali lagi. "Kemanusiaan. Semakin lama kau dengan tubuh dari kitab itu, semakin hilang juga kewarasanmu sebagai manusia. Dalam pertarungan mana pun, saat kau tak bisa mengendalikan diri dan hanya bertarung layaknya binatang, kau akan kalah. Kukatakan saja padamu, kau tak pernah pantas menjadi penerus Pedang Iblis kedua."
Kata-kata terakhir Yuhao terdengar begitu menusuk, Xin Chen tak menampakkan reaksi apa-apa. Namun yang jelas raut wajahnya berubah, Yuhao sedikit menarik alis. "Ternyata kau masih memiliki emosi juga?"
Xin Chen susah payah merebut kembali kesadarannya, dia akhirnya dapat berbicara walaupun tersendat.
"Kau dari tadi terus mengataiku. Menyangkut-pautkan ibu dan ayahku. Kenalan bukan, saudara pun bukan. Berbicara seolah-olah kau tahu segalanya. Kau kira itu akan membuatku melemah?"
"Kau sudah kalah sejak awal pertarungan. Jangan bilang kau tak menyadari posisimu sendiri?"
Perlahan-lahan wajah Xin Chen terangkat, tatapannya menghunus tepat ke bola mata Yuhao.
"Aku tak akan kalah darimu."
"Hm? Mau aku perjelas lagi? Kau tak seimbang denganku, pengguna roh lemah. Selama ini kau terus selamat dari mautmu sendiri."
Jari-jari lentik Yuhao mulai menembus leher Xin Chen, kekuatan yang tak biasa mengerubungi pohon besar di mana Xin Chen terpojok. Dia memelototi Yuhao dengan menahan kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
Yuhao berucap sebagai tanda perpisahan. "Sayangnya keberuntunganmu sudah habis."