Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 291 - Latih Pedang


__ADS_3

Pembicaraan keduanya terhenti oleh kehadiran Ren Yuan, wanita itu menatap dua putranya, masih merasa tak percaya bahwa ini adalah kenyataan. Namun hubungan antara dua kembar itu sepertinya tak membaik, Ren Yuan tak mempermasalahkan, karena dari kecil lagi memang dua anaknya itu sering bertengkar.


"Chen," panggil Ren Yuan lembut, mengalihkan putranya yang tengah mengunyah kue buatannya. "Kau bisa tinggal di sini."


Pertanyaan Ren Yuan membuat situasi canggung seketika itu juga, Xin Chen tak menjawab apalagi melihat wajahnya. Ada sesuatu yang tak ingin dia sampaikan pada Ren Yuan, sesuatu yang tak ingin wanita itu dengar. Karena mau tak mau, anaknya yang kedua itu sudah terbiasa hidup di luar, berteman dengan alam dan menghadapi ribuan marabahaya.


"Rumah ini terlalu nyaman untukku."


Xin Chen berusaha menatap Ren Yuan yang sudah mengetahui maksud ucapannya. "Aku ingin rumah ini tetap aman dengan melindunginya. Aku akan melindunginya dari luar."


"Jangan menaruh semua beban ini di pundakmu, kau tahu, saat orang-orang berada dalam situasi tertekan tanpa seorang pun berada di sisinya, dia akan hilang arah. Kau juga memiliki hati seperti kami, Chen. Aku tahu kau tidak baik-baik saja."


"Ibu tidak perlu khawatir."


Ren Yuan tak ingin lagi melihat anaknya itu pergi seperti terakhir kali, nyaris tak pernah pulang dan dianggap telah mati.


"Aku sudah melepasmu selama ini ..."


Ren Yuan memohon dengan sangat. Xin Chen menunduk, dulu karena ayahnya Xin Chen bisa mendapatkan izin. Tapi sekarang laki-laki itu tidak ada, dan tujuan kepergiannya adalah untuk menyelamatkan sang ayah.


"Boleh ibu memintamu kali ini saja untuk patuh?"


"Boleh." Xin Chen meralat, "Setelah ayah kembali."


Berdebat pun rasanya Ren Yuan sudah kehabisan akal untuk memenangkan hati putranya. Xin Chen menatap Xin Zhan yang membaca keresahan adiknya.


"Ingin berlatih pedang?"

__ADS_1


Xin Chen tersenyum. Ingatan masa kecilnya dulu, sore hari mereka berlatih pedang dengan banyaknya murid dari Lembah Kabut Putih menonton dan dirinya selalu dikalahkan oleh Xin Zhan. Ratusan kali bertanding, ratusan kali pula dia kalah. Dirinya tak lebih dari pengecut yang berlindung di tengah-tengah orang hebat. Namun entah sejak kapan, dirinya sekarang justru ingin menjadi pelindung itu sendiri. Untuk melindungi ayah, ibu dan juga kakaknya.


Halaman belakang rumah Ren Yuan jauh lebih luas dari pada halaman depan. Ditumbuhi oleh pohon tua yang lebat dan juga berbagai jenis peralatan dan senjata. Ada tempat untuk berlatih memanah dan berpedang. Halaman itu agak tertutup, karena Xin Zhan biasa menggunakannya untuk berlatih siang-malam.


Xin Zhan melirik ke sebelahnya, di mana Xin Chen membalas balik sambil berucap.


"Pertarungan kali ini milikku."


"Kau sudah mengatakannya ratusan kali dulu." Dan Xin Zhan tertawa samar, Xin Chen berjalan lebih cepat ke depannya dan detik itu Xin Zhan tertohok. Menyadari tinggi adiknya telah melampaui tinggi tubuhnya sendiri.


'Sejak kapan dia lebih tinggi dariku?' batin Xin Zhan tak terima. Dia tak mengatakan apa-apa selain menatap Xin Chen berapi-api.


"Kau sangat semangat, Kak Zhan."


Ren Yuan menonton di tempat yang agak jauh, memperhatikan kedua putranya sudah ambil posisi masing-masing dengan mata saling mengintai musuh.


"Peraturannya siapa pun yang bisa memukul senjata lawan lima kali dengan pedang kayu, dia yang menang." Xin Zhan menambahkan. "Dan yang menang boleh meminta apa pun dari yang kalah. Kau akan meminta apa?"


"Kumbang tujuh warna."


Kakaknya terkejut, nyaris terbatuk. "Jangan gila! Hewan itu sudah tak ada lagi di dunia ini."


"Kau bilang boleh meminta apa pun, bukan?" balas Xin Chen tak mau kalah, tak seperti biasanya, kali ini Xin Zhan mengalah.


"Baiklah, baiklah. Jika aku yang menang ... Berjanjilah kau akan tinggal di kota Fanlu."


"Lalu kau ingin orang lain mengetahui identitasku?"

__ADS_1


Tampaknya memang Xin Zhan belum memikirkan sampai ke sana, yang jelas dia hanya ingin Xin Chen tinggal untuk merawat ibu mereka. Karena dia pun sekarang memiliki tanggung jawab besar, tak mempunyai waktu banyak untuk menjaga Ren Yuan.


"Aku akan memikirkannya nanti."


Pertarungan di mulai.


Menit pertama belum ada pergerakan, mereka hanya saling berdiam dan sesekali bergerak. Melihat respons lawan yang begitu waspada. Tidak boleh menggunakan kekuatan apa pun, jika tidak maka akan kalah. Ren Yuan yang akan mengawasi pertarungan tersebut.


Berjalan tiga menit, keduanya bahkan belum menampakkan pergerakan yang signifikan. Baik Xin Chen atau pun Xin Zhan sama-sama tak ingin kalah. Bukan masalah menang atau tidaknya, mereka hanya tak ingin menebus permintaan lawan yang begitu memberatkan. Kumbang tujuh warna diketahui telah lama mati, hanya orang beruntung yang pernah mendapatkan tulang belulangnya. Membeli dengan uang segunung pun, jika hewannya tak ada maka Xin Zhan tak mungkin bisa menebus kekalahannya.


Begitu pun dengan Xin Chen, permintaan kakaknya tak mungkin bisa dia tepati. Mengingat begitu berbahaya mengatakan identitasnya sebagai Pimpinan Empat Unit Pengintai yang kini membawa Armor Dewa Perang. Bisa-bisa Ren Yuan dan Xin Zhan terkena getahnya, itu adalah hal yang paling diwaspadai nya selama ini. Melibatkan keluarga atas masalah yang dia timbulkan.


Saat dirinya tengah lengah, Xin Zhan datang menyerang dengan pergerakan lincah dan di luar dugaannya. Nyaris tak ada suara saat kakinya menapak mendekat, serta keseimbangannya dalam memutar tubuh yang sempurna. Dalam satu kali sentakan, pedang kayu yang digunakan Xin Zhan berhasil mengenai senjata adiknya. Bunyi kayu terdengar keras, senjata Xin Chen sedikit bergetar oleh pukulan keras tersebut.


Di awal pertandingan saja Xin Zhan telah memperlihatkan bukti latihannya selama ini. Dia tak pernah main-main untuk menggapai mimpinya menjadi penerus sang Pedang Iblis. Sejak Xin Chen tak ada, dia tetap merasa harus bersaing untuk menjadi yang paling terkuat. Dia butuh pengakuan, bukan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun oleh si pemilik nama Pedang Iblis sendiri.


"Aku sudah mengatakannya ribuan kali padamu. Aku lah yang akan mewarisi nama Pedang Iblis itu. Tetaplah bertarung untuk melihat kekalahan terburukmu seumur hidup."


Tatapan itu, tatapan Xin Zhan yang sejak dulu selalu menciutkan nyalinya. Sejak dulu prestasi Xin Zhan sudah bersinar terang, semua orang menyorakinya untuk menang, sementara yang lain mengumpatnya untuk kalah.


Xin Chen melihat ke sebelahnya di mana Ren Yuan menyemangati mereka tanpa memihak siapa pun.


"Sekarang aku tahu mengapa aku selalu kalah darimu."


Xin Chen mengeratkan cengkramannya.


"Karena aku selalu kalah oleh ketakutanku sendiri."

__ADS_1


***


Thor cuma ingatin, baca dan like-nya jangan lompat2 ya


__ADS_2