
Cangkir teh diletakkan di depan mereka, laki-laki itu membuang pandangan pada keramaian di lapangan yang begitu luas. Distrik ini bisa dikatakan yang cukup damai. Hampir semua distrik beroperasi menyeleksi prajurit baru untuk diturunkan di medan perang. Cara mereka berbeda, lebih banyak yang mati daripada yang selamat.
Namun jika sudah ditempatkan di pusat pemerintahan nanti, semua prajurit dipastikan hidup sejahtera. Berbeda dengan mereka yang merupakan penduduk biasa yang lebih banyak menderita kelaparan dan kemiskinan.
Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun ini, mereka akan melakukan perang besar yang melibatkan dua kekaisaran. Kaisar Yin benar-benar serius akan menghancurkan musuh bebuyutannya. Dalam beberapa bulan ini perjanjian berdarah akan selesai. Dan dari situlah, kehancuran akan dimulai.
"Yan Xue."
Dia menoleh ke tempat Xin Chen, membaca raut wajahnya yang diam. Matanya tertutup seperti biasa. Yan Xue merendahkan kepalanya, melihat wajah itu lebih jelas.
"Apa kau buta?"
Xin Chen tidak tahu apakah laki-laki bernama Yan Xue itu pernah melihat matanya saat terbuka. Tapi jika dia menjawab dirinya masih bisa melihat, takutnya Yan Xue memaksanya membuka mata.
Dia memilih tak menjawabnya dan mengalihkan pembicaraan. "Sebenarnya apa yang ingin kau ketahui dariku? Jika tentang kejadian semalam aku sudah mengatakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi."
Yan Xue tak bisa menyalahkan reaksi Xin Chen yang agak tidak sopan. Apalagi terhadap sosok penting sepertinya.
"Aku tahu kau tersinggung. Apakah pertanyaanku membuat kau marah?"
"Tidak."
"Lantas?"
"Menanyakan soal mata bukanlah hal penting."
Yan Xue menggeleng walaupun Xin Chen tidak melihatnya, dia diam-diam tersenyum.
"Aku melihat kecuranganmu." Yan Xue meneguk teh di depannya tanpa melepaskan pandangan dari Xin Chen. Kali ini, dia dapat melihat wajah itu berubah.
"Setiap bagian dari distrik ini memiliki mata dan telinga, jika kau bisa selamat dari kedua hal itu, berarti kau hanya sedang beruntung."
"Kecurangan apanya?" Xin Chen menegaskan suaranya, dia sadar Yan Xue sedang mengujinya. Entah benar laki-laki itu tahu atau tidak kebenaran dari kejadian semalam.
"Kau tidak mau mengakuinya? Atau memang menungguku mengatakannya?"
__ADS_1
"Jika Anda memiliki bukti dan alasan yang kuat. Silakan katakan."
"Ohoho, kau memang anak muda yang sangat berani." Yan Xue tertawa sengit. "Baiklah, kalau kau mendesak. Sore saat seleksi pertama, mengapa kau menunggu detik terakhir untuk membidik? Dan aku melihat kau menggunakan tiga anak panah sekaligus."
Xin Chen mengingatnya. Dia memang menyadari ada kehadiran lain yang melihat mereka. Waktu itu hari memang sudah begitu gelap. Kebetulan tidak ada penerangan di sekitar. Xin Chen sudah mempertimbangkannya baik-baik, cara seperti itu memang memiliki resiko yang tinggi. Namun tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Yu Xiong.
"Kau sangat ingin menyelamatkan temanmu, ya?"
Yan Xue mulai menyudutkannya. Xin Chen tidak bisa tinggal diam.
"Anda mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia memang temanku. Tapi bagaimana caranya aku membidik tiga panah sekaligus dengan dua bidikan yang berbeda?"
"Alasan yang bagus." Dia menyatukan dua tangannya di atas meja. "Jujur saja aku tidak punya bukti untuk menempatkanmu sebagai pelaku kecurangan. Lagipula membiarkan satu nyawa selamat juga tak akan mempengaruhi apa-apa."
Yan Xue menghabiskan minumannya sekaligus. "Tapi jika kau berkeinginan untuk menjadi bagian dari pusat pemerintahan, aku akan membukakan jalan untukmu."
"Aku tidak bisa mempercayaimu."
Dijawab langsung begitu sontak membuat Yan Xue sampai terdiam. "Coba ulangi?"
Yan Xue memakluminya, mengingat kejadian semalam kepalanya kembali dibuat pusing. "Kami melihat catatan tindak kejahatan yang panjang dari orang sewaan itu."
"Apa maksudnya orang sewaan?"
"Sudah kubilang sebelumnya. Jumlah peserta yang selamat jauh lebih besar dari yang diinginkan. Jika sampai seleksi ketiga jumlahnya tidak cocok dengan yang akan diserahkan pada pusat, maka akan ada sepuluh sampai tiga puluh orang yang harus dibunuh."
"Memangnya berapa orang yang mereka inginkan?"
Yan Xue sebenarnya tak ingin menjawab, dia berpikir cukup lama. "Setiap distrik hanya menyerahkan seratus. Sepertinya jumlah prajurit yang ditetapkan sudah cukup banyak sehingga mereka tak membutuhkan lagi prajurit-prajurit baru."
"Berapa orang?"
"Kau sepertinya begitu penasaran." Yan Xue menautkan alisnya. Xin Chen menjelaskan. "Aku hanya ingin tahu seberapa banyak penduduk yang mereka korbankan demi perang ini. Semua orang kehilangan banyak hal."
"Tidak perlu kau pikirkan. Omong-omong wajahmu itu, kau keturunan dari klan mana?"
__ADS_1
"Ada apa dengan wajahku?"
"Seperti bukan orang Kekaisaran Qing."
"Aku tinggal di perbatasan."
"Berarti kau memang memiliki darah orang sana. Mau bermain catur dulu sambil menunggu mereka?"
Xin Chen mengiyakannya, sambil menoleh ke balik pohon di mana Wei Feng, Youji dan Yu Xiong menguping obrolan mereka. Papan catur telah disediakan, Yan Xue segera mengatur pion-pionnya. Masih begitu awal, Yan Xue beberapa kali melancarkan serangan. Merebut beberapa pion Xin Chen sambil tertawa-tawa puas. Sepertinya dia memang tipe orang yang saat marah lebih mengerikan dari setan. Tapi ketika sedang bahagia, sifatnya berubah sangat ramah.
"Bagaimana pendapatmu tentang Kekaisaran?"
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" Xin Chen membalikkan pertanyaan.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana pola pikirmu itu. Ingat, tentang seleksi panahan itu aku masih sangat percaya bahwa kau melakukan sesuatu yang curang. Kurasa orang sepertimu berharga di dalam pemerintahan."
"Kekaisaran atau pemerintahan, seberapa besar kesetiaanmu pada kedua hal itu?"
"Seharga dengan nyawaku."
Xin Chen mulai membalikkan keadaan. Dia menyingkirkan bidak-bidak Yan Xue. Menempatkan raja musuhnya dalam posisi genting. Laki-laki itu merubah posisi duduknya gelisah. Dia tidak tahu sejak kapan, namun Xin Chen memang mulai serius untuk mengalahkannya.
Tanpa sadar waktu berlalu satu jam dan keduanya masih berkutat dengan papan catur. Laki-laki itu mengabaikan beberapa orang yang memanggilnya. Napasnya terdengar gusar
"Kau belajar catur dari siapa?"
"Ayahku."
"Sudah sangat lama?"
"Ya." Xin Chen tak tahu kapan terakhir kali dia, Xin Zhan dan ayahnya bermain catur. Yang pasti saat itu dia hanya diajarkan peran dan cara bermain catur. Ada begitu banyak hal yang dilupakannya. Namun setidaknya Xin Chen dapat bertahan dari serangan Yan Xue. Laki-laki itu berhasil mengalahkannya.
"Kau kalah juga, hahahah. Sial, aku tidak pernah sesenang ini hanya karena bermain catur." Yan Xue melebarkan senyuman yang bahagia. Melihat Xin Chen hanya bisa menerima kekalahannya.
"Aku melihat potensimu, Zu Chen. Kemungkinan besar setelah seleksi ini, aku akan merekomendasikanmu kepada atasan. Lain kali jika aku ada waktu kita bertanding lagi." Yan Xue memakai kembali pelindung kepalanya. Lalu turun ke lapangan yang ramai dilalui oleh prajurit berzirah.
__ADS_1
Xin Chen memandang Yan Xue yang berlalu begitu saja. Andai laki-laki itu tahu bahwa dirinya adalah musuh, Yan Xue tak akan pernah menaruh kepercayaan lagi.