Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 85 - Rencana Pernikahan Lan An


__ADS_3

Xin chen menarik napas berat, “Dan juga sampaikan pada Ayah kalau mungkin aku akan lama tidak kembali ke rumah. Masalah Turnamen juga aku usahakan akan kembali tepat waktu jika saatnya telah tiba."


Xiu Juan terdiam agak lama untuk memahami kata-kata Xin Chen. Anak itu menolak menerima penghargaan yang akan diberikan oleh Kaisar Qin dan sekarang dia juga mengatakan tak akan kembali ke rumahnya dalam waktu dekat. Jelas saja kening Xiu Juan berkerut dalam.


“Tapi Xin Chen ini bukan hanya permasalahan tentang turnamen, upacara pernikahan Xin Xia dan Lan An akan berlangsung tak lama lagi, kau yakin ingin melewatkan kebahagiaan mereka berdua? Dan lagipula... bukannya kau sangat dekat dengan Lan An?”


“Jadi mereka akan menikah?” Xin Chen tak menyangka Xin Xia dan Lan An akan menikah tak lama lagi, dua orang itu memang sudah sangat cocok. Melihat Xin Xia selalu bahagia jika Lan An datang bertamu, “Yah… Bibi Xiaxia yang ceroboh itu akan sangat bahagia bersama Paman Lan An. Aku bisa merasakannya walaupun tak bisa datang ke sana.”


Xiu juan membalas, “Kau sungguh tak ingin kembali? Lihat dirimu sekarang, dengan kekuatan seperti ini semua orang akan mengagumi mu. Maksudku, orang-orang Lembah Kabut Putih takkan meremehkan Tuan Muda Xin kedua lagi.” Xiu Juan masih bersikeras atas pendapatnya.


“Aku tidak peduli dengan pandangan mereka, dekat saja tidak, saudara pun bukan." Xin Chen menggendikan bahunya.


"Pandangan mereka takkan membuatku semakin kuat atau tidak."


"Tapi-" Xiu Juan bersuara lagi. Sayang Xin Chen lebih dulu memotongnya.


"Jika nanti Kaisar Qin bertanya siapa yang membunuh Pengendali Roh itu tolong jangan pernah sebutkan namaku.”


Xiu juan hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, ini merupakan prestasi besar yang akan meninggikan nama Xin Chen di Kekaisaran Shang. Membunuh Zhang Ziyi yang sudah termasuk senior dalam hal bertarung memang tak semudah itu dilakukan bahkan untuk dirinya sendiri.


Namun Xin Chen tak tergila-gila akan kehormatan yang akan didapatkannya itu. Di detik yang sama Xiu Juan sadar tak ada yang bisa diubah dari jalan pemikiran lawan bicaranya ini. Keteguhan pendirian yang dimilikinya sama seperti Ren Yuan. Sulit digoyahkan.


Xin Chen tak mengharapkan pujian apapun lagipula orang-orang Lembah Kabut Putih pasti akan menganggap Xiu Juan membual. Ditambah lagi dengan terbunuhnya Zhang Ziyi para petarung aliran hitam pasti akan gencar menginjar pembunuhnya, tentu mengambil kepala Xin Chen akan menjadi sebuah kebanggaan besar bagi mereka.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Ye Long, ikut denganku ke rumah paman Jin. Apimu mungkin akan berguna untuk menaiki suhu di tungku api.”

__ADS_1


Ye Long sedikit menyipitkan matanya ke samping, dalam situasi ini dia merasa seperti sedang dimanfaatkan. Sedang Rubah Petir sudah lebih dulu meninggalkan mereka untuk memulihkan kekuatannya di penginapan.


*


Malam berganti dengan pagi buta bersama angin sejuk yang seolah menusuk tulang, Wei Feng sengaja datang lebih awal ke rumah Jin Sakai untuk mengunjungi Xin Chen di sana sebelum dia benar-benar meninggalkan Desa Pelarian, baru saja menyingkap kain yang menutupi tempat menempa klan tersebut, Wei Feng langsung tergelak lucu saat melihat Ye Long turut membantu Xin Chen dan Jin Sakai menempa sesuatu.


“Buahahhahah naga yang malang, jauh-jauh datang dari negeri kayangan kau malah menjadi pemantik api di dunia manusia?”


Lelaki itu tergelak tawanya sendiri hingga terbatuk-batuk, Ye Long membuka tutup mulutnya seperti sedang berbicara dalam bahasanya sendiri. Dari semalam kekuatan apinya hanya dipergunakan untuk melelehkan bijih logam. Ye Long berhenti saat Jin Sakai memerintah.


Sekarang Jin Sakai sedang menghaluskan barang tersebut sambil tersenyum kecil pada Xin Chen dan Ye Long. “Terima kasih sudah membantu keluargaku sampai sejauh ini.”


“Tidak perlu sungkan paman, lagipula aku ingin memberikan pedang ini juga pada Kak Youji.’”


Rasanya pedang itu memang tidak cocok untuknya dan juga takkan sanggup menampung menahan kekuatan petir. Sedangkan tubuh Youji yang bisa dikatakan tinggi cocok dengan gaya pedang seperti ini, yang dapat menjangkau musuh lebih luas dengan ketajaman bilah pedang mumpuni.


Jin Sakai tak ingin menerimanya, tapi saat melihat Xin Chen kecewa dia jadi tak enak hati, setelah menerima pedang itu dia mengucapkan terimakasih. Berniat mengajaknya untuk makan terlebih dulu.


“Wei Feng, ku harap kau juga tak berkeberatan ikut untuk makan bersama kami.”


“Tch, aku bukan gembel yang kelaparan meminta makanan-“


Bunyi perut Wei Feng terdengar di saat itu pula, membuatnya mengutuk keras dalam hati. Bagaimana dia bisa lupa semalam tak sempat mengisi perut yang keroncongan. Sementara Jin Sakai hanya bisa menahan senyumnya, “Istriku memasak banyak hari ini. Jika tak keberatan datanglah ke sini kapanpun kau mau. Kurasa kau dan anakku bisa menjadi teman baik.”


“Baiklah,” balas Wei Feng kemudian, dia sedikit menoleh ke belakang di mana kukang kecilnya sedang bermain dengan Ye Long.

__ADS_1


“Aish naga itu, jangan sampai kau menggigit kukang manisku!” peringat Wei Feng kembali berbalik badan mengikuti Jin Sakai ke rumah utama, Xin Chen rasa anggapan itu sedikit keliru. Lihat saja walaupun seekor naga Ye Long masih kewalahan digigit oleh gigi tajam kukang tersebut.


Youji baru saja keluar dari kamarnya dan menemukan Wei Feng, Xin Chen, Jin Sakai dan ibunya telah duduk menuggu di ruang makan, mereka berbincang hangat dan saat mendapati Youji telah bangun ibunya langsung mengajaknya bergabung.


Dia menjadi lebih sehat dari sebelumnya, ini juga berkat Xin Chen yang sering memberikan obat untuknya. Jin Sakai yakin jika biaya pengobatan ini pasti sangat mahal, sebenarnya penyakit yang diderita istrinya cukup parah sehingga harus dibawa ke tabib untuk diobati.


Tapi Xin Chen mengatakan tak perlu repot-repot karena dirinya memiliki cukup banyak obat-obatan dan penawar yang dia kumpulkan selama perjalanan.


“Sudah merasa baikan?” tanya Jin Sakai, Youji tak langsung menjawab karena memang keadaannya tak terlalu baik. Dia harus membiasakan diri terlebih dahulu.


“Seperti yang aku janjikan semalam.” Xin chen mengeluarkan sebuah lengan yang terbuat dari besi yang dilengkapi dengan berbagai fungsi. Di setiap sela jari juga dipasangkan runcingan tajam yang bisa youji gunakan dalam pertarungan layaknya cakar. Selain itu bentuk dan ukurannya yang sederhana takkan membuat gerakan Youji menjadi kaku.


Jin Youji tentu saja senang menerimanya, setidaknya sedikit rasa kecewanya terobati saat melihat lengan besi tersebut. Xin Chen segera memakaikannya dengan bantuan Jin Sakai, dapat terlihat wajah Youji menjadi lebih baik pula dari yang sebelumnya.


“Terimakasih, aku akan sangat mengingat kebaikanmu ini.”


“Seharusnya kau berterimakasih juga pada Ye Long. Dia yang melelehkan besi itu dengan apinya. Bayangkan saja untuk menempa pedangku bahkan membutuhkan waktu satu bulan sedangkan lengan besi itu hanya perlu waktu semalaman.”


“Hahahaha naga hitam itu, ya? Dia memang naga yang sangat baik.”


“Sudah, sudah, cepatlah makan sebelum supnya dingin.” Ibu youji menegur, keduanya tersadar terlalu lama berbicara. “Baik.”


Saat makan tiba-tiba saja Jin Sakai mengungkit satu hal yang akhir-akhir ini memang sering diperbincangkan orang-orang desa seberang, karena memang Jin Sakai harus membeli bijih logam dari desa lain dia sempat mendengar kabar bahwa sedang terjadi keributan di desa tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2