Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 39 - Juru Kekacauan


__ADS_3

"Anak keduanya saja sudah seperti ini! Celaka, kita harus pergi-!"


Tak mengerti dari mana darah mencuat hingga membasahi bajunya, pria itu memeriksa tubuh sendiri dan baru bisa merasakan sakit menjalar dari batang tenggorokannya. Luka sayatan telah merobek urat di lehernya secara tiba-tiba.


Sosok Xin Chen yang menghilang secara misterius dan muncul di tempat tak terduga menjadi alasan mengapa pendekar agung pun hampir tak bisa berkutik dibuatnya, mereka tidak dapat merasakan hawa keberadaan anak kecil itu. Seandainya bisa juga waktu sudah terlambat, Xin Chen lebih dulu mengambil nyawa mereka tanpa ampun.


Akan tetapi Ketua mereka masih bisa bertahan, darah dan robekan di tubuhnya tak mampu membuat pria itu tumbang. Menggunakan pil dan kekuatan penyembuhannya yang hebat dia berhasil pulih dan berbalik menyerang Xin Chen.


"Kau takkan bisa mengelabuiku lagi!" serunya kencang, tepat di detik terakhir Xin Chen menampakkan dirinya, pria itu menebas. Membuat tubuh Xin Chen mendapatkan imbas serangan pedangnya.


"Hahahaha kena juga! Matilah!" Hujaman mulai membabi buta datang menyerang, Xin Chen menahannya menggunakan senjata, tak membiarkan pedang lawan membelah kepalanya begitu saja.


Tapi nyatanya kekuatan pendekar agung sepertinya sangat sulit diimbangi, untuk menahan serangannya saja Xin Chen harus menahan napas. Menunggu waktu untuk memulihkan kekuatan Topeng Hantu Darah dan melepaskan dirinya dari musuh.


"Mau mencoba lari? Kau sama seperti pengecut, hanya berani menyerang dari belakang!"


Xin Chen tertawa sinis, merasa perkataan pria itu malah seperti mengolok-olok dirinya sendiri. "Kau sedang membicarakan siapa? Aku atau dirimu sendiri?"


"Kau-!" Kesalnya menambah kekuatan, membuat pedang Xin Chen mulai bergetar dan hanya menunggu waktu saja untuk terbelah. Semakin lama tekanan yang harus ditahannya semakin tak terbendung, Xin Chen memutar tubuh sekaligus menendang kaki lawannya. Membuat lawannya terkecoh dan memanfaatkan waktu tersebut untuk melepaskan diri.


"Kalau kau memang takut aku bermain curang, ya sudah. Kali ini aku tidak akan bersembunyi lagi."


Wajah pria itu berangsur senang, menghadapi Xin Chen secara langsung jelas lebih menguntungkan daripada sebelumnya. "Aku akan mengambil nama Pedang Iblismu itu." Dia menunjuk Xin Chen dengan pedangnya.

__ADS_1


Xin Chen mengeluarkan ikat kepala milik Ayahnya, memakai benda itu di kepala. Sesaat entah mengapa sosok anak kecil itu makin terlihat seperti Ayahnya. Meski Ketua Kelompok tak pernah berhadapan secara langsung dengan sang Pedang Iblis dan hanya melihat dari kejauhan bagaimana sosok tersebut bertarung tanpa takut mati, dia tetap bisa mengenali bagaimana hawa mengerikan yang muncul saat sosok iblis ini siap bertempur.


"Ikat kepala itu... Si Nomor Satu-?!" Napasnya terdengar memburu. "Dengan ikat kepala itu aku yakin semua orang akan berlutut padaku, hahahaha! Anak kecil ini, kau sedang melawak padaku!?"


Jelas saja dia merasa menang, kekuatan pendekar agung sepertinya takkan mungkin dilawan oleh anak kecil. Untuk mencapai tingkat kekuatan ini saja setidaknya membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun.


"Kau akan mati di tanganku!" teriaknya berlari cepat ke arah Xin Chen, tertawa kesetanan saat melihat ikat kepala Nomor Satu berada di depan matanya. Tangannya bergerak meraih ikat kepala tersebut, membayangkan namanya kelak akan mengguncang dunia persilatan dan mengambil alih gelar Nomor Satu ini.


"Api tak pernah padam." Xin Chen mengeluarkan suara pelan, menghindari tusukan tajam di depan matanya. "Air tak berhenti mengalir."


Aliran pedang klan Xin yang diajarkan Ayahnya mulai Xin Chen gunakan, meski belum pernah menyempurnakannya tapi teknik berpedang ini diakui sangat efisien dalam bertarung satu lawan satu.


"Mati untuk dilahirkan kembali, menjadi iblis pembunuh bertangan besi."


Ketua kelompok mulai bergidik ngeri dengan anak kecil yang tengah dihadapinya, dia menggelengkan kepala mengusir pikiran buruk yang singgah di kepalanya. Bersiap meluncurkan lebih banyak serangan agar dapat merebut ikat kepala dari Xin Chen. Mungkin membunuh anak itu bukanlah hal yang sulit jika dia dapat memanfaatkan momentum dengan tepat.


Di balik kabut-kabut tebal tersebut sesuatu bersinar, Xin Chen berjalan pelan dan memunculkan dirinya. "Rupanya kau di sana!" Pria itu lantas membabat tubuh musuhnya tanpa berpikir panjang, tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi. Walaupun terlihat nyata, tubuh Xin Chen sama sekali tidak bisa ditembus oleh pedangnya.


"A-apa?!!"


"Anak itu sepertinya sudah bisa menggunakan kekuatan asli Topeng Hantu Darah." Rubah Petir berkomentar di atas bangunan tinggi, dia mengangkat kepala menghadap langit. "Kurasa pusaka Topeng Hantu Darah dan Kitab Terlarang memiliki hubungan erat, ini seperti Ilusi Hujan Darah yang sangat mengerikan itu."


Sesaat Rubah Petir teringat di masa lalu sebelum Kitab Terlarang jatuh ke tangannya, di mana kitab itu masih digunakan sembarangan oleh Pendekar aliran hitam dan berakhir merenggut nyawa ratusan pendekar kuat di pihak aliran putih.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, anggota keluarga bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam Kekaisaran pun turut terlibat. Hari itu adalah hari di mana dunia terguncang habis-habisan dan pertempuran tak pernah berakhir.


Perang demi perang dikumandangkan, menewaskan puluhan ribu nyawa, tanah dan air menjadi darah hingga perdamaian baru bisa didapatkan ketika Qiang Jun dilahirkan sebelas tahun setelahnya.


Sosok tersebut tumbuh begitu cepat dan merebut kembali senjata yang memang diciptakan untuknya, dari sekian banyaknya pusaka langit Qiang Jun hanya mendapatkan dua pedang, Kitab Tujuh Kunci dan Baja Phoenix. Mengembalikan perdamaian dan mengalahkan musuh terbesar manusia, sayangnya justru dialah yang terbunuh di akhir perang itu sendiri.


Rubah Petir melirik sekali lagi ke arah Xin Chen, "Jika semua senjata iblis itu jatuh ke tanganmu, apa kau masih bisa menjaga janjimu dan tetap berada di jalan yang benar?"


Pertarungan sengit di antara Ketua kelompok dan Xin Chen semakin tak berimbang, belajar dari pengalaman bertarung sebelumnya Xin Chen beberapa kali mengelabui musuh. Membuat dinding pertahanan lawan runtuh dan menikam organ vitalnya beberapa kali.


Kini musuh jatuh berlutut dan terkapar kehilangan banyak darah, tak terdengar tertawaan sombong dari mulutnya lagi. Hanya erangan kesakitan yang keluar dan satu detik setelahnya dia menghembuskan nafas terakhir.


Para medis yang sedari tadi menonton perbuatan Xin Chen memundurkan diri pelan-pelan, menelan ludah kasar takut bernasib sama dengan para pendekar yang ditugaskan untuk melindungi mereka semua. Tidak ada satupun dari mereka yang tersisa dan semuanya habis di tangan Xin Chen yang dipenuhi darah.


"To-tolong ampuni kami!" Wanita berusia sekitar 20 tahunan berlutut, memohon ampun akan nyawanya. Melihat betapa mengerikan cara lawan Xin Chen mati tadi, dia tak sanggup membayangkan hal itu terjadi pada dirinya sendiri.


"Untuk apa semua tubuh ini?"


"I-itu..."


Pedang Xin Chen menghunus cepat, nyaris terkena lehernya. "Aku tidak tahu, aku bersumpah tidak tahu apa-apa soal itu... Ketua Yin menyuruh kami mengumpulkan tubuh-tubuh ini untuk dikirimkan ke Kekaisaran Wei." Terdengar isakan tangis dari bibirnya. Xin Chen menatap yang lainnya dan mereka pun mengatakan hal yang sama pula.


Napas Xin Chen terdengar berat, masih banyak misteri lainnya yang harus dia pecahkan. Mengenai Lembah Para Dewa dan orang-orang dari Kekaisaran Wei ini. Tampaknya kedua belah pihak sedang merencanakan sesuatu. Dari semua hal itu Xin Chen yakin ini semua ada kaitannya dengan pusaka langit.

__ADS_1


**


hari ini author gk bisa up 2 chapter kyk biasa, karena ad urusan mendadak yg harus diselesaiin lbih dulu, harap mengerti yaa:D xiexie


__ADS_2