Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 231 - Pemanah Kaisar


__ADS_3

Shui baru menyadari kakinya ditancapkan oleh sesuatu seperti logam tipis kecil yang perlahan berubah menyakitkan seperti bisa, tubuhnya ambruk mati rasa. Shui kehilangan keseimbangan.


Satu hal yang baru diingatnya, jika memakai tubuh manusia Shui tak bisa menggunakan 95 persen kekuatannya karena tubuh manusia sendiri sangat lemah. Dia mengumpat dalam hati, teringat dengan masa lalu saat pernah melewati Kekaisaran Qing.


Orang-orang asli kekaisaran itu sangat menggemari praktik ilmu sihir dan ilmu hitam. Sama namun berbeda, ilmu sihir ini lebih ke penggunaan sesuatu yang magis dan memperdaya. Jika sudah terkena dengan senjata mereka, maka sang pengguna bisa mengendalikan tubuhnya seperti boneka.


Xin Chen menoleh ke belakang, melihat Shui yang berusaha mati-matian melawan tangannya sendiri yang sedang menghunuskan pedang k arah lehernya. Dia hendak turun tangan sebelum tatapan matanya terkejut oleh sosok lain. Di belakang pria pengguna ilmu sihir itu, seorang pria muncul dan menyayat leher musuhnya dengan mudah. Kutukan Shui terlepas, laki-laki itu mendekati Xin Chen lalu menunduk hormat.


"Saya memutuskan untuk mengikuti anda, Tuan Muda Xin kedua. Saya rasa tidak adil hanya melindungi istri dan anak saya. Melindungi seluruh orang di Kekaisaran ini adalah tugas paling mulia yang ingin saya emban seumur hidup."


Xin Chen tersenyum tipis, "Selamat datang di medan perang yang sebenarnya."


Keduanya turun membantai pendekar Empat Unit Pengintai. Mata Ilusi pada bulan pagi buta yang pucat menjadi menyeramkan, mata tersebut menengok ke bawah dan membunuh jiwa yang terperangkap oleh tipu daya. Mereka terperangkap di dunia yang serba palsu. Bulan yang berbentuk aneh, teman mereka yang tiba-tiba menjadi musuh dan juga bayangan Xin Chen yang menghilang tiap kali mereka berhasil menebasnya. Feng Guzu berhasil melarikan diri dari api keabadian. Dia bukanlah pendekar sembarangan dan punya cara tersendiri untuk memperisai tubuhnya hingga kerusakan dari Api Keabadian yang diterimanya tidak terlalu besar.


"Arrghh, pengguna roh sialan! Mati saja kau!" Feng Guzu melibaskan pedang sembarangan. Mengikuti bayangan Xin Chen yang semakin mundur ke belakang.


"Hentikan, Ketua! kau terpedaya! Kau membunuh temanmu sendi-"


Tenggorokan laki-laki itu lebih dulu terkoyak sebelum dia sempat mengakhiri kalimatnya, teman-teman Feng Guzu mati. Hanya tersisa sepuluh yang masih berdiri. "Aku tidak tahan lagi ..." Feng Guzu mengedipkan mata beberapa kali. Dia tak bisa membedakan apa pun lagi. Teman atau pun kawan. Bai Huang muncul di belakangnya, menancapkan mata pedang diam-diam saat Feng Guzu lemah. Meski pun kesadarannya hampir habis, Feng Guzu sempat menangkis. Bai Huang tak kehabisan akal. Dia menendang belakang tempurung lutut kaki Feng Guzu hingga laki-laki itu jatuh berlutut.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Bai Huang segera menebaskan senjata. Feng Guzu merangkak dan mencoba melarikan diri. Tapi di depannya Nan Ran dan Tian Xi datang sambil menenteng pedang masing-masing.

__ADS_1


"Berani-beraninya menyandera adikku dan nyaris memperkosanya. Kalian betul-betul cari mati."


"Ho ... Santai dulu ikan besar. Dia bagianku, jangan ambil-ambil."


"Ikan nenek moyangmu, minggir Tian Xi pendek! Kau menghalangi jalanku, aku harus memenggal kepala laki-laki itu!"


Feng Guzu baru dapat melihat dengan jelas, pikirannya masih berada di bawah kendali roh. Saat berbalik badan dan hendak lari, Feng Guzu justru menancapkan lehernya sendiri pada pedang yang terhunus tepat di lehernya.


Darah kental menetes di ujung pedang yang tembus di leher belakang Feng Guzu. Xin Chen menarik senjata itu ke bawah, dalam satu tarikan membelah tubuh itu miring. Darah mengucur tinggi dan membasahi jubahnya hingga berdarah-darah. Di belakangnya puluhan anggota Empat Unit Pengintai tewas tak bernyawa. Hanya tersisa beberapa yang akhirnya dikeroyok oleh delapan puluh orang sekaligus bersama Bai Huang.


Lao Zi membidik anak panahnya, di antara kerumunan penuh yang mengejar satu orang Empat Unit Pengintai. Anak panah itu menancap di kening lawannya, dua anak panah lainnya menyusul dan membelah panah yang tertancap sebelumnya.


"Kerja bagus."


"Tu-tuan Muda Xin?" Lao Zi berdiri, membungkuk rendah. "Kita menang, semua berkat anda, Tuan Muda."


"Kau membantu cukup banyak."


"Saya rasa hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas budi kepada keluarga tuan."


Sorak-sorai terjadi di barisan prajurit, mereka memenangkan peperangan ini meskipun baru bisa turun di akhir. Tak ada yang menyadari ke mana perginya mayat-mayat yang seharusnya bergelimpangan di tempat mereka. Selain itu, hanya ada satu manusia yang tidak puas dengan hasil ini.

__ADS_1


Tian Xi mencebik saat Nan Ran menghujaninya dengan ejekan.


"Hahaha, ikan apa katamu? Ikan bebal? Lihatlah, dipukul sedikit langsung bengkok tulang mereka, apanya yang membentengi tempat ini?"


"Jaga mulutmu Tinggi Besar atau kau kau kucekoki sandal ini ke mulutmu?" Tian Xi benar-benar melepas sandalnya, Nan Ran semakin tertawa hebat. Apalagi saat dia menyadari Xin Chen datang, semakin menjadi tawanya.


"Aku yakin pasti dia mengatakan juga kepadamu soal ikan-ikan hebatnya. Nah, bagaimana sekarang? Tian Xi, kau ahli strategi, bukan? Tidak mungkin perhitunganmu salah, mengingat Empat Unit Pengintai memang tidak akan sepadan jika disandingkan dengan pensiunan prajurit seperti mereka. Orang tua pun jadi kau seret ke medan perang, Tian Xi. Memang dasar cucu durhaka."


Jelas saja Nan Ran yang paling senang saat melihat Tian Xi gagal. Sejak awal dia tak percaya mereka dapat merekrut anggota sebanyak itu dalam tujuh hari. Terlebih lagi, tidak semuanya merupakan pendekar besar. Dua ratus dua puluh orang rata-rata hanya pendekar menengah dan besar. Masih ada 140 orang pendekar kecil yang tidak Tian Xi turunkan ke medan perang.


"Aku yakin perhitungannya tidak salah."


"Tuan Muda Xin memang pintar, jauh lebih pintar dari pada manusia udik di sebelahku ini." Tian Xi bersedekap dada.


"Sejak awal, Tuan Muda memang tidak mengharapkan para prajurit ini untuk bertarung di medan perang. Maka dari itu aku tidak membuang para pendekar kecil yang mendaftarkan diri pada kita. Mereka tinggal di benteng paling timur."


"Untuk urusan bertarung, aku tahu kau cukup yakin dengan kekuatanmu sendiri. Tapi untuk urusan mengelola tempat ini, memang bukan sesuatu yang bisa kau kerjakan sendirian, benar?"


"Kuakui kau memang pintar membaca situasi," sahut Xin Chen. Sebenarnya alasannya menurunkan prajurit hanya untuk melakukan penyerangan jarak jauh. Tapi yang tak disangkanya, seluruh unit dari Empat Unit Pengintai datang. Mereka menganggap ini serius.


Dan hal itu juga tak menutupi kemungkinan bahwa berita ini akan tersampai ke telinga Kaisar di Kekaisaran Qing.

__ADS_1


__ADS_2