
Hari masih pagi ketika mereka meninggalkan rumah, Wei Feng menggerutu di depan Xin Chen entah apa yang dipusingkannya semenjak tadi.
Tampaknya pria itu masih terusik dengan Kukang di atas bahunya, berulang kali mencoba menyingkirkan hewan itu dan dia malah tidak mau lepas. Sudah pasti Wei Feng kesal bukan main, mengingat sifatnya yang suka marah dan berapi-api. Tidak ada satu detik pun terlewatkan tanpa celotehannya.
Wei Feng tak begitu sadar saat kakinya tak memiliki pijakan lagi, dia sedang menapaki air sungai yang mengalir deras. Jika tidak hati-hati saja dia bisa terseret arus dan berakhir dengan tewas mengambang di pinggiran sungai.
Namun untung saja hal itu tak benar-benar terjadi, Ye Long menangkap kedua tangannya dan melemparkannya ke atas agar naik ke tubuhnya. Di mana Xin Chen juga duduk di sana menunggangi Ye Long. "Sepertinya dengan naga ini perjalanan kita akan jadi lebih singkat."
"Iblis Kecil, kau yakin–Aarrhhhgg!" Tubuh Wei Feng terdorong ke belakang saat Ye Long terbang tinggi, melesat seperti membelah udara dalam waktu cepat. Teriakannya yang nyaring membaur dengan suara kepakan sayapnya yang tajam.
"Ini keren sekali..." Xin Chen tak henti-hentinya terpana melihat pemandangan desa dari atas, tidak pernah membayangkan jika dirinya bisa terbang bebas seperti Ye Long. Mengarungi samudera dan melewati benua-benua. Membayangkannya saja dia sudah takjub sendiri.
Beda halnya dengan Wei Feng, pria itu hampir saja pingsan karena kehabisan napas saat melihat dari ketinggian.
Di samping tak memiliki bakat apapun selain memanah, Wei Feng juga takut berada di ketinggian. Menurutnya hal itu memang memalukan dan lebih memalukan lagi jika diketahui oleh gadis-gadis di desa. Pasti mereka akan menertawakannya. Sifatnya yang penakut ini berbanding terbalik dengan dirinya yang pura-pura pemberani di Desa Pelarian.
Terbang Ye Long semakin tinggi, hingga tangan Xin Chen dapat menjangkau awan-awan dengan mudah. Wei Feng membuka matanya takut-takut, berusaha untuk tenang dan tidak melihat ke bawah atau dia bisa pingsan sungguhan.
"Hei tidak perlu takut, Ye Long tidak akan menjatuhkanmu."
"Ya... Ya, anggap saja begitu. Kau pikir naga kesayanganmu itu benar-benar menyukaiku atau tidak?"
Sayap Ye Long berubah haluan, dia terjun deras ke bawah membuat Xin Chen dan Wei Feng menjerit histeris.
Xin Chen agak mengernyit sewaktu mendengar jeritan Wei Feng, sama seperti mendengar teriakan seorang gadis yang menjerit saat ketakutan. Dibanding memikirkan itu, sebentar lagi mereka akan menghujam daratan jika saja Ye Long tidak memutar haluan.
"Ye Long! Jangan gila, terbang yang benar atau aku akan menyetrummu!" perintahnya tegas, telinga Ye Long turun, dia mengepakkan sayapnya sejajar agar mereka bisa terbang seperti biasa. Membuat Wei Feng berhenti teriak dan menarik napas lega.
__ADS_1
"Sudah kubilang, naga ini pasti membenciku!" serunya memiliki tubuh Ye Long, membuat naga itu mendesis kasar. Seperti kata Wei Feng, Ye Long tak begitu suka padanya. Xin Chen sampai tak habis pikir, mungkin memang penampilan Wei Feng yang seperti penjahat ini sudah menjabarkan seberapa menyebalkannya dirinya.
Tak lama kemudian mereka berhasil tiba di gerbang sebuah sekte, meski ukurannya tak seberapa tapi murid yang berada di tempat ini cukup banyak. Mereka menyambut kedatangan mereka berdua dengan sangat baik, meski begitu Wei Feng masih terus memasang wajah curiga.
Tak begitu tahu-menahu dari mana perasaan was-was ini muncul. Yang jelas, sekte Bukit Tawon Emas tidak memiliki reputasi yang cukup baik di kalangan masyarakat.
Sepengetahuan Wei Feng seperti itu, dia tidak bisa memastikan kabar itu benar atau tidaknya.
"Ah, sepertinya saudara sekalian adalah orang yang dimaksud oleh Senior Gu Long. Saya dengan senang hati akan mengantarkan kalian ke tempatnya berada." Pria berjanggut tebal menyapa mereka berdua di gerbang, sembari membungkukkan badan dengan sangat sopan. Dia berjalan dengan menggunakan tongkat sedang dua orang di belakangnya menyusul.
Ye Long sendiri bersembunyi di balik hutan yang rimbun, untuk memastikannya tidak pergi dari sana Xin Chen meletakkan daging beruang. Agar Ye Long bisa makan dan tidak berpikir untuk mengikutinya masuk ke dalam sekte ini.
Mereka tiba di dekat air mancur yang berada di sisi bukit, terlihat Gu Long di sana sedang bermeditasi. Beberapa pendekar pun berada di sana saat mereka datang. Pria yang mengantarkan mereka memanggil, membuat Gu Long membuka matanya perlahan-lahan.
"Ada apa?"
"Hm, baguslah. Kalau begitu panggilkan yang lain ke sini."
"Baik, mengerti." Dia segera beranjak meninggalkan mereka di sana. Xin Chen dan Wei Feng saling menatap kebingungan. Tak begitu lama terdengar langkah kaki yang beriringan datang ke arah mereka. "Tuan Muda, kami begitu menghormati kedatanganmu ke sini. Apa kau berhasil mendapatkan para siluman yang kami cari?"
"Ya... Begitulah." Xin Chen menjawab tenang.
"Ah, tak kusangka kalian benar-benar berhasil mendapatkan mereka. Baru saja tadi pagi orang-orang ku datang ke hutan untuk memeriksa, semua siluman buas telah kalian singkirkan dari sana. Sebagai bukti apa kalian juga membawa jasad mereka?" Senyum Gu Long mengembang ramah.
Sejenak Xin Chen mengalihkan pandangannya ke arah Wei Feng sekedar meminta pendapat, pria itu menggeleng ragu-ragu. Hal itu membuat Gu Long memasang wajah tak enak, dia berdeham kecil. Memberi kode pada mereka berdua dengan cara halus.
Xin Chen mengeluarkan mayat-mayat para siluman dari cincin ruangnya, hingga menampakkan gunungan siluman telah mati terkapar tanpa mengeluarkan darah. Mereka mati seketika akibat sengatan listrik Rubah Petir. Melihat banyaknya siluman roh yang dibawa wajah Gu Long berangsur cerah.
__ADS_1
"Bagus... Bagus, sekarang kami akan mendata mayat siluman ini dengan senang hati."
Gu Long memanggil orang-orangnya, mereka segera membawa masuk mayat siluman satu per satu, kebanyakan dari mereka telah kehilangan permata siluman yang diambil Xin Chen untuk dijualnya sendiri.
Gu Long merapatkan kedua alisnya saat menyadari hal ini, dia seperti ingin memprotes tapi tak memiliki hak untuk melakukannya.
Usai memindahkan siluman itu, Gu Long menatap kepada keduanya, "Tunggu apa lagi? Kalian boleh pergi."
Xin Chen menarik senyum kecut, tak mengerti kenapa Gu Long berkata demikian sedangkan dia dan Wei Feng sengaja menunggu imbalan mereka. Kelihatannya Gu Long tahu menyatakan secara langsung bahwa mereka mengharapkan imbalan adalah hal yang sedikit memalukan.
Wei Feng menyenggol lengan Xin Chen setengah berbisik, "Sudah kubilang ada yang tidak beres dengan orang-orang ini. Seharusnya kau tidak usah bersikap baik dari awal."
"Mana aku tahu, kau lihat saja sikapnya sangat sopan. Dia benar-benar penjilat."
"Tuan-tuan yang terhormat. Kalian boleh meninggalkan sekte ini sekarang juga, aku tak punya waktu untuk mengurus kalian berdua." Gu Long mengibaskan lengan bajunya ke belakang, berjalan dengan penuh wibawa. Dan juga menghindari tatapan mereka berdua.
"Bagaimana dengan imbalan lima ribu keping emas yang kau janjikan?" Akhirnya Xin Chen memberanikan diri.
Gu Long terkekeh geli sembari mengibaskan tangannya, merasa ingin sekali menertawai Xin Chen. "Yang bertransaksi di sini adalah pihak pemerintah dan sekte Bukit Tawon Emas. Tidak ada nama kalian di sana... Tidak ada! Jadi apa hak ku memberikan kalian imbalan?"
"Hei! Semua siluman itu hasil tangkapan kami! Itu tidak adil!" cerca Wei Feng berteriak, tak terima atas perlakuan Gu Long.
"Kau punya bukti apa untuk membuktikannya di muka umum? Saksi? Aku punya banyak saksi di tempat ini. Jika ingin bertarung kuharap kau berpikir seratus kali." Gu Long mendekat pada Wei Feng dan Xin Chen, menepuk pundak keduanya.
"Menyatakan perang pada kami sama saja menyatakan perang dengan sekte yang bekerja sama dengan kami pula."
***
__ADS_1