
"Oh, kekuatan penuh kalian? Baguslah, aku bisa sekalian menghabisi sekarang juga." Xin Chen menatap prajurit di belakangnya yang khawatir bukan buatan, mereka tak ingin dimundurkan sekarang. Tempat ini adalah milik mereka, tapi membiarkan Xin Chen berdiri sendiri di depan membuat mereka ketakutan.
"Kau sudah menyerah sampai memundurkan pasukan? Oh, atau kau mau menyerahkan diri seperti ayahmu demi menyelamatkan nyawa mereka? Hahaha sungguh jiwa pahlawan. Tapi menurutku itu menjijikkan," ejeknya lantas menertawai Xin Chen lagi. Terdengar menyebalkan, namun juga Xin Chen tak membalass apa-apa.
"Tuan Muda, apakah itu benar?" salah satu prajurit berseru, dia berasal dari Kekaisaran Shang dan takut sejarah lama terulang kembali. Pertanyaan itu memunculkan kekhawatiran di barisan prajurit belakang Xin Chen.
"Kau tahu memperebutkan wilayah dengan kami hanya membawa penyakit, kami dengan senang hati akan menghancurkan tempat ini. Tidak ada hukum yang mengikat kami."
Pria itu melanjutkan, "Apa yang kau perbuat dulu membuatku malu sebagai seorang pemimpin, kau seorang bocah yang licik. Dan sekarang mengetahui kau adlah pengguna roh, rasanya Kaisar Yin pun berani menurunkan Sepuluh Terkuatnya untuk menumbangkanmu."
Xin Chen tak bergeming, hal itu membuat tiga puluh anggota inti menatapnya heran. Mereka tahu Xin Chen pasti sedang memikirkan jalan terbaik untuk menghindari pertumpah darahan, tapi bagi Empat Unit Pengintai tidak ada yang namanya negosiasi.Mereka akan membunuh siapa pun yang menjatuhkan martabat kelompok mereka dengan cara sesadis apa pun.
Tanpa menunggu lama lagi, satu dari empat pemimpin menurunkan pasukannya. Penyerangan serempak sontak terjadi dan mengarah ke tempat Xin Chen. Sebelum itu terjadi Xin Chen melirik ke belakangnya, di mana Lan Zhuxian dan Tian Xi menatap tak percaya padanya.
"Mundurkan ke persembunyian bawah tanah dan cari Nan Yin, sampai dapat!"
__ADS_1
Lan Zhuxian enggan beranjak namun Tian Xi segera menariknya, pemuda itu sekilas bergidik ngeri saat tatap mata biru itu menatap mereka dengan ***** pembunuh yang begitu kejam.
'Aku sampai lupa dia adalah pengendali roh ...' batin Tian Xi, dia berteriak kencang hingga urat di lehernya seperti akan putus, menyuruh mereka yang masih bertahan segera bersembunyi di benteng bawah tanah. Nan Ran berbalik arah mencari adik perempuannya, walau pun mereka sering bertengkar dan terkesan tak peduli satu sama lainnya, kepedulian Nan Ran begitu besar pada adiknya itu.
Lan Zhuxian menutup pintu besi ruang bawah tanah, puluhan prajurit berhasil diamankan di sana. Mereka memberontak habis-habisan, tak terima dimundurkan dari medan perang yang memang takkan mampu mereka pertahankan. Hanya tersisa Xin Chen di sana dan itu membuat mereka ketakutan.
"Apa yang akan terjadi pada Tuan Muda?!"
"Lepaskan kami, sial! Kami bukan pengecut! Hoi, orang-orang Kekaisaran Qing!"
"Jika pintu tidak dibuka kami akan menghancurkannya. Dalam hitungan sepuluh!"
Hujan petir berjatuhan di atas bumi, Lembah Para Dewa diselubungi oleh perisai roh yang besar. Tidak ada yang bisa melarikan diri dari sana. Terjadi pertarungan sengit, Wang Feng, salah satu pemimpin Empat Unit Pengintai memperhatikan gerombolan musuh datang di depan matanya.
Dia yang memiliki tebasan maut berhasil menghabisi puluhan nyawa dalam waktu singkat, ayunan pedangnya nyaris tak berhenti sehingga darah yang mencuat di sekitarnya semakin merembes dan menggenangi tanah. Perang telah berlangsung hampir satu jam, teman-temannya yang lain juga melakukan hal yang sama; mebunuh pasukan musuh yang berada di depan mata mereka hingga tak ada lagi yang tersisa.
__ADS_1
Wang Feng hampir kehabisan daya, pundaknya terasa berat. Mungkin karena terlalu lama mengayunkan pedang, napas beratnya tersenggal-senggal. Diperhatikannya sosok yang berdiri tenang di antara mereka, Xin Chen. Orang yang dibencinya setengah mati. Orang itu harus mati dibunuh di tangannya. Tidak peduli apa pun yang terjadi.
Langkah kaki Wang Feng yang semula gemetar kelelahan kini berpacu cepat membelag genangan darah, dia menerjang menikam musuhnya yang tak bergerak dan hanya menjerit, saat pedangnya telah tertanam di dada orang itu barulah pandangan Wang Feng kembali.
Wang Feng membuka matany lebar-lebar, tak percaya. Napasnya tersedak bukan main. Sebagai satu pemimpin dia memiliki kekuatan hebat yang dapat menandingi ratusan prajurit sekaligus. Dan saat ini, semuanya terbukti.
Prajurit yang bergerak di bawahnya mati terpenggal, beberapa kepala jatuh di dekat mayat kuda. Pemimpin lain juga mengalami hal yang sama. Empat ratus prajurit mereka habis terbunuh di tangan mereka sendiri. Di depan Wang Feng, salah satu anggota unit pengintai inti, sudah tergeletak tak bernyawa.
Wang Feng frustrasi, dia menggeram emosi hingga menghentakkan kaki. "Pecundang! Tunjukkan dirimu!"
"Hai, sudah selesai membunuh keroco-kerocomu sendiri?" Xin Chen memunculkan diri, dia masih sempat-sempatnya menjatuhkan hujan petir. Membunuh sisa prajurit mereka yang kini merangkak sekarat, senyum tipis di bibirnya mengembang. "Perhatikan langkahmu, pak tua. Kita sudah menjadi musuh sejak lama."
Pria itu mendecih, napasnya tak stabil lagi. Teman-temannya yang lain juga terlalu terkejut untuk memahami apa yang terjadi. Mereka bergerak atas kendali mereka sendiri dan apa yang mereka lihat hanyalah sebuah ilusi. Kekuatan roh di tempat ini terlalu kuat, hal itulah yang membuat pengaruh ilusi semakin merajalela menguasai pikiran mereka.
Hanya tersisa 25 orang dari tiga unit dan tiga pemimpin Empat Unit Pengintai. Di depan mereka, musuh sedang menampakkan senyum puas. Dia bahkan belum mengeluarkan pedang, dan kini keempat ratus mayat tersebut menghilang dalam malam yang pekat.
__ADS_1
"Kalian ingin mendonasikan nyawa di sini?" Xin Chen meniru kata-kata orang Empat Unit Pengintai yang pernah ditemuinya. Laki-laki itu berdesis mengecam, tatap matanya sama sekali tak berpaling dari Xin Chen. Emosi dan benci terlihat jelas di kedua bola matanya yang berkilat tajam, persis seperti ingin memakan lawan bicaranya hidup-hidup.
Xin Chen tak terpengaruh tatapan itu, justru dia balas menatap dengan sengaja mengeluarkan kekuatan roh terbesar dia dia miliki. Membuat lawannya tampak gentar, walau tak begitu menunjukkannya. "Baguslah, dengan begitu aku memiliki pasukan roh yang sangat kuat. Tiga puluh dari kalian sudah cukup untuk menumbangkan seribu prajurit Kekaisaran Qing."