Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 290 - Orang yang Sama


__ADS_3

"Bagaimana hubunganmu dengan pimpinan Empat Unit Pengintai?" Xin Chen membalikkan pertanyaan, Xin Zhan sempat tertegun namun dia segera menjawab.


"Hah, aku curiga sekarang kau adalah mata-mata. Tapi baiklah, kau bisa berbangga hati karena aku bisa menjalin kerja sama dengan monster sepertinya. Dia berjanji akan membantu Kekaisaran Shang jika aku melakukan sesuatu untuknya."


'Monster?' batin Xin Chen agak tersinggung, dia tak mau mempermasalahkan hal itu. "Lalu bagaimana? Kau mendapatkan ciri-ciri pemilik perhiasan itu?"


Sorot mata Xin Zhan berubah aneh, dia menatap Xin Chen dari samping. Mencoba menalar sejauh mana yang Xin Chen ketahui tentang misinya kali ini.


"Kau sungguhan memataiku?"


"Aku tidak akan mencelakakanmu. Katakan saja, aku hanya penasaran."


Hanya dengusan keluar dari mulut Xin Zhan. Dia tampak kecewa berat untuk mengatakan hasil laporan yang datang dari para bawahannya. "Tidak ada yang kami dapatkan. Perhiasan itu dibuat di Kekaisaran lain dan sulit untuk mencari tahu siapa pemilik sebelumnya. Aku sudah berusaha hanya saja tak ada penjual Informasi yang tahu soal benda itu "


Dua detik sesudahnya Xin Zhan tersadar, "Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Yang mana?"


"Soal apa yang kau lakukan selama tujuh tahun ini. Apa kau berada di Kota Renwu, seperti yang orang-orang katakan?"


"Ya. Memang kenapa? Kau sampai susah payah mendatangiku. Mau mati konyol juga karena tenggelam."


"Kau melihatnya? Oi, katakan! Saat aku datang kau di mana? Kau membiarkan aku mati oleh Api Keabadian begitu saja? Seandainya orang itu tak menyelamatkanku, sudah pasti nyawaku habis. Dan aku tak tahu bagaimana perasaan ibu jika kematianku benar-benar terjadi."


"Orang itu? Siapa maksudmu?" Xin Zhan tampak berpikir, menatap Xin Chen yang malah memalingkan muka ke luar jendela.


"Jangan bilang itu kau-" tenggorokan Xin Zhan tercekat, Xin Chen menghindar bertatapan mata dengannya. Adiknya itu memang sulit berbohong di depannya. Bahkan sampai saat ini kebiasaan itu masih terbawa-bawa.


"Dan orang yang malam itu di atap bersamaku ketika Paman Lan pulang dari Kekaisaran Qing?!"


Xin Chen semakin memalingkan muka.

__ADS_1


"Dan juga ..." Xin Zhan teringat saat dia berada di gerbang Lembah Para Dewa, seekor makhluk berekor hitam yang mirip dengan naga kecil milik adiknya dulu. Pertanyaan Xin Chen tentang perhiasan tadi juga sudah menjelaskan, bahwa orang yang selama ini selalu muncul di hadapannya adalah adiknya sendiri.


"Ini gila. Chen, katakan sesuatu. Kau hanya diam saja selama ini? Melihat aku seperti kau tak pernah mengenalku?" Xin Zhan benar-benar ingin mengetok kepala adiknya itu, curiga di dalamnya sudah tidak ada otak.


"Kau tidak bertanya."


Xin Zhan menempeleng kepala Xin Chen dan berhasil kena. Dia belum puas sampai di sana. "Kau ini, kau tahu apa yang terjadi ketika berita tentangmu tersebar? Kaisar Qin sampai membuka rapat tertutup, menganggap kau musuh serius! Jika bukan karena bangsawan licik itu yang mengatakan kau mungkin akan berguna, kemungkinan sekarang Kekaisaran Shang sedang berperang melawan Empat Unit Pengintai!"


"Itu tidak akan terjadi. Kak Zhan, jangan katakan hal ini pada ibu. Aku takut membuatnya sakit. Bilang saja ... Aku sedang mencari tahu tentang Ayah, tidak perlu mengatakan aku berada di mana dan di kelompok mana. Kau tidak ingin lukanya semakin parah, bukan?"


"Ck, jangan memerintahku. Aku lebih tahu mana yang baik untuk ibu dan mana yang tidak."


Setelah itu tak ada obrolan lagi, Xin Zhan mencoba berpikir keras. Semua pertanyaan di kepalanya selama ini menghilang setelah Xin Chen ada di sampingnya. Dia menatap adiknya itu, begitu lama rasanya tak pernah berjumpa. Dulu sekali, adiknya itu sangat penakut. Bahkan ketika seekor siput lewat saja dirinya selalu bersedia untuk menyingkirkan binatang kecil itu. Dengan alasan sederhana, agar adiknya tidak jatuh terpeleset karena kecerobohannya.


"Aku juga ingin menyelamatkan ayah."


Xin Chen menyangkal. "Tidak bisa. Perjanjian tetap sama. Kau menjaga ibu di pelabuhan dan aku membantu ayah."


"Aku minta maaf dengan kata-kataku tadi. Aku tak seharusnya mengatakannya."


"Tujuh tahun ini rupanya kau sudah belajar cara minta maaf."


"Jangan menertawaiku. Bocah penggila kumbang." Xin Zhan mulai memikirkan sesuatu, selagi adiknya di sini, dia berpikir untuk mengajak Xin Chen berpetualang seperti saat mereka masih kecil dulu.


"Mau menangkap kumbang?"


"Aku harus pergi malam ini."


"Pergi saja sekarang kalau kau mau. Hais, lupakan saja kata-kataku tadi."


Xin Zhan melirik adiknya dengan ekor mata, dia terlihat lebih pendiam. Tubuhnya memang di sana, tetapi pikirannya di tempat lain. Mata yang dulu berbinar ceria itu terlihat kelam, Xin Zhan tak tahu berapa banyak orang yang telah mati di tangan adiknya itu. Mendengar berita tentang Pimpinan Empat Unit Pengintai yang dikatakan telah membunuh ribuan nyawa. Xin Zhan tertawa miris, "Seandainya kau di sini, sudah pasti kau yang menjadi Pilar Pertama."

__ADS_1


"Aku tak pantas untuk itu. Kau adalah segalanya yang dibutuhkan Kekaisaran Shang."


"Kau ingat? Dulu kita sering memperebutkan hal ini. Menjadi Pilar Pertama dengan cara seperti ini, tanpa turnamen dan perjuangan mengalahkanmu di arena membuatku kesal." Akhirnya Xin Zhan hanya bisa berterus terang tentang apa yang dirasakannya. Rasa bangga akan menjadi Pilar Pertama seolah-olah hanya angin belaka. Dia tak mengakui jabatan ini sebelum bisa mengalahkan Xin Chen dengan tangannya sendiri.


"Tapi aku tak yakin apakah jika memperebutkan gelar ini, aku masih bisa menang darimu atau tidak."


"Aku tidak peduli lagi soal Pilar Pertama."


Suara Xin Chen agak sedikit bersemangat dari sebelumnya, membuat Xin Zhan penasaran dengan apa yang menjadi tujuan adiknya itu sekarang.


"Kau ingin menjadi Kaisar selanjutnya?"


"Terlalu mudah."


Senyum sombong Xin Chen ditanggapi dengan sombong pula oleh Xin Zhan. "Oh, pasti mau menjadi Kaisar Kekaisaran Qing?"


"Mau tahu apa?"


Xin Zhan mulai serius. Tapi apa yang bisa diharapkan dari adiknya itu. Dia justru mengalihkan topik pembicaraan.


"Cuaca nya semakin cerah. Aku yakin nanti malam turun hujan."


"Katakan yang sebenarnya, apa tujuanmu?" Xin Zhan menahan pundak Xin Chen dengan mata horor. "Katakan." Ulangnya sekali lagi.


"Kau akan tahu."


"Beri tahu."


"Setelah ayah kembali."


Lagi-lagi tentang hal itu. Xin Zhan kembali ke posisi semula. Tak banyak yang diketahuinya tentang keadaan Xin Chen sekarang. Ren Yuan kembali membawa makanan dan kue-kue yang masih menguarkan asap tipis.

__ADS_1


__ADS_2