
"Memurnikan kekuatan petir?"
Malam hari yang memang hening membuat suara Rubah Petir jelas terdengar walaupun hujan tak kunjung reda, dia berucap tenang sembari menatap Xin Chen dalam raut wajah serius.
"Memurnikan kekuatan adalah satu-satunya cara agar kekuatan alam tunduk kepadamu. Dengan begitu kau bisa menguasai lebih dari sekedar Hujan Petir. Jika kau bisa menguasai elemen petir bukan tidak mungkin kau juga bisa menguasai elemen lainnya. Masih ada lima Siluman Penguasa Bumi yang hidup di dunia ini, jika Siluman Kegelapan telah mengambil lima dari mereka maka kau harus memikirkan cara untuk mengimbangi kekuatannya."
"Baiklah aku paham." Xin Chen mengangguk kecil, pembicaraan terhenti setelah itu. Rubah Petir kembali berfokus pada meditasinya sendiri. Membiarkan Xin Chen termenung dalam pikirannya sendiri.
**
Menjelang pagi Rubah Petir mendengar suara yang memanggilnya beberapa kali, merasa terganggu dengan suara tersebut akhirnya dia membuka mata. Mendapati Xin Chen tengah bertolak pinggang di depannya dan kembali menyahut, "Kukira membangunkan manusia jauh lebih mudah daripada membangunkanmu Guru Rubah. Kau lupa kita harus berangkat ke tempat yang kau katakan semalam?"
Si Rubah tak sempat mengeluarkan suaranya dan Xin Chen masih memotong. "Dan bagaimana keadaan Ye Long? Dia sudah bangun?"
Memang sekarang ini masih terlalu pagi jika Xin Chen menanyakan keadaan Ye Long bagaimana, Rubah Petir belum tahu juga entah Naga Hitam itu sudah bangun atau justru mati di dalam ruang tanpa batasnya. Dia mengibaskan tangan hingga cahaya keperakan muncul, dalam sekejap mata tubuh Ye Long muncul di hadapan Xin Chen.
Akan tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan terlihat dari Ye Long, Naga Hitam itu seolah membatu di tempatnya. Tidak ada suara deru napas atau detakan jantung terdengar.
Hal ini membuat Rubah Petir yakin sesuatu yang buruk memang telah terjadi pada Ye Long dan sebenarnya sampai sekarang ini dia masih belum memiliki cara untuk menangkal petir kutukan milik Dewa Petir.
"Dia... Mati?" Xin Chen tak berani mengangkat kepalanya melihat ekspresi Rubah Petir, tahu Guru Rubahnya itu pasti berpikiran sama sepertinya.
__ADS_1
"Aku tak mendengar bunyi detak jantungnya lagi dan kondisinya sudah tak tertolong. Dia..." Xin Chen masih percaya tak percaya, seharusnya sedari awal dia menganggap hal ini cukup serius.
Tangan Xin Chen beberapa kali menepuk kepala Ye Long, berharap naga itu terbangun. Tak terbayangkan bagaimana ke depannya jika Ye Long benar-benar terbunuh oleh petir yang disebabkan oleh ulahnya. Xin Chen akan menyesal seumur hidup jika benar itu terjadi. Mengingat selama ini Ye Long yang selalu membantunya termasuk saat berada di situasi tersulit melawan Empat Unit Pengintai.
"Tubuhnya memang sudah mati." Hanya beberapa kata keluar dari mulut sang Rubah Petir namun cukup membuat Xin Chen putus asa, dalam hal ini Rubah Petir lebih tahu situasi dibandingkan dirinya. Masih terus memandangi Ye Long, Xin Chen bertanya pelan.
"Apa kau sama sekali tidak memiliki cara? Biasanya kau selalu memiliki cara Guru Rubah. Aku akan melakukan apapun walaupun kemungkinan berhasilnya hanya satu persen..." Dia menoleh ke arah Ye Long tak tega sembari menambahkan.
"Aku harus mengembalikan Ye Long pada keluarganya, aku sudah berjanji padanya soal itu."
Perlahan-lahan Rubah Petir menutup matanya, dia mencoba berpikir sejenak dan membiarkan Xin Chen menunggu dalam ketidakpastian. Rubah itu mendekati Ye Long dengan tenang dan menempelkan ujung jarinya di tubuh Ye Long.
"Kekuatan spiritualnya masih tersisa sedikit, kelihatannya petir kutukan tak sepenuhnya menghancurkan naga ini."
Sekuat apapun mencoba, jurus-jurus paling dasar bahkan takkan bisa lagi dilakukan jika sudah terkena Petir Kutukan tersebut.
Karena alasan itulah Rubah Petir tak segan-segan mengeluarkan seperempat wujud aslinya untuk melindungi Xin Chen, walau tahu dia takkan mati tapi jika Xin Chen tak bisa lagi menggunakan kekuatannya. Hal itu akan berakibat sangat fatal. Kalau Xin Chen tak memiliki cara untuk melindungi dirinya maka orang yang sedang mengincarnya seperti orang-orang dari Asosiasi Pagoda Perak dan Empat Unit Pengintai akan mudah memenggal kepalanya.
"Kalaupun Ye Long masih bisa bertahan hidup aku yakin dia akan hidup dalam penderitaan. Dia tidak akan bisa mengeluarkan api dari mulutnya. Dan melihat tubuhnya terluka sangat parah bahkan setelah aku memulihkannya dengan kekuatanku..." Sadar tak sadar tangan Xin Chen terkepal, dia menarik napas dalam.
"Dia tak memiliki kekuatan lagi dan mungkin beberapa bagian tubuhnya telah rusak," lanjut Rubah Petir menambahkan. "Untuk sekarang ini jujur saja aku tak memiliki cara untuk mengatasi permasalahan seperti ini. Aku tak pernah menghadapinya sebelumnya."
__ADS_1
Kepala Xin Chen mengangguk samar, di waktu yang sama dia berpikir Ye Long memiliki kesempatan hidup walaupun sangat kecil. Setidaknya nyawa Ye Long masih bisa diperjuangkan. "Aku akan mencari caranya sendiri, sampai aku menemukannya tolong jaga kekuatan spiritual Ye Long agar tetap aman."
"Bukan masalah." Rubah Petir kembali menyimpan tubuh Ye Long dan memastikannya tetap aman. "Kita harus segera berangkat."
"Baik."
Selama perjalanan Rubah Petir menyadari sesuatu, dia mengamati kecepatan berlari Xin Chen yang semakin meningkat. Entah karena dia baru sadar sekarang akan tetapi walau belum begitu seimbang Xin Chen dapat mengimbangi Langkah Petirnya.
"Kuakui kau belajar cukup cepat tentang Langkah Petir."
Xin Chen tersadar saat Rubah Petir berbicara, dia menjawab. "Saat di Desa Pelarian tiap malam aku berlatih Langkah Petir. Mau ku perlihatkan koleksi kitabku?"
"Koleksi curian maksudmu?" Rubah Petir meralat, tampang Xin Chen berubah. "Kalau mereka tak menggangguku aku takkan merampasnya. Lagipula daripada mereka tumpukkan di gudang harta lebih baik aku yang bawa saja."
"Kau hanya menumpuk pusaka itu di cincin ruangmu."
"Nanti kalau kita sampai ke kota aku akan menjual beberapa barang-barang yang tidak penting," jelas Xin Chen. "Omong-omong kita sudah lima jam berlari dan kau bilang kita tadi hampir sampai..."
Kepala Xin Chen menoleh kanan kiri dan tak menemukan satu pun tempat yang sekiranya cocok dijadikan tempat untuk memurnikan kekuatan. Hanya terdapat hamparan ilalang yang begitu luas dan hanya pohon tumbuh di tempat terbuka itu.
"Tempat ini mengingatkanku pada masa lalu." Rubah Petir terdengar menggumam pada dirinya sendiri, seolah jutaan tahun lamanya pernah singgah di tempat ini untuk melatih kekuatannya dan kembali setelah waktu yang sangat lama. Saat itu adalah saat di mana Rubah Petir hanya sekedar siluman ratusan tahun yang kerap kali menjadi buruan para siluman yang lebih kuat.
__ADS_1
"Seharusnya tempat yang kukatakan masih ada di sekitar sini. Walaupun sudah sangat lama aku masih dapat merasakan kekuatan alam yang sangat kuat." Rubah Petir menjelaskan sembari memutar pandangan ke segala penjuru.
"Tampaknya sang Rubah Pertapa sudah kembali ke persemayamannya..." Sebuah suara asing terdengar dari kejauhan, Rubah Petir agak terkejut mendengar suara yang telah lama tak pernah didengarnya itu.