
Seorang pandai besi baru saja menyelesaikan busur baru yang lengkungannya lebih lentur, puas dengan hasil karyanya dia menyerahkan benda itu pada Lao Zi. Pemuda itu tersenyum sembari mencoba-coba busur baru itu, nyaris sempurna dan jauh lebih baik dari yang dia miliki saat ini.
Perbincangan mereka terhenti saat Dong Ye datang dan merebut busur tersebut.
"Ikut denganku."
Lao Zi tak mengerti mengapa Dong Ye tiba-tiba mendatanginya di tambah lagi ekspresi orang itu sangat kesal. Dia pamit pada pandai besi dan mengikuti langkah Dong Ye. Dalam empat hari semenjak tanah Lembah Para Dewa direbut mereka, banyaknya orang-orang kuat dan perkembangan signifikan di tempat ini adalah bagian dari kinerja baiknya. Bisa dibilang perannya dalam kelompok hampir setara dengan Lan Zhuxian untuk menggerakkan orang-orang.
Dong Ye membawa Lao Zi ke ruangannya, lantas pintu ditutup rapat. Lao Zi berusaha untuk tetap tenang dan menanyakan baik-baik.
"Ada apa kau membawaku kemari?"
Mendadak Dong Ye menarik kerah baju Lao Zi, ekspresi kesalnya semakin menjadi-jadi.
"Aku tahu kau yang paling tidak setuju aku di sini!" berangnya dengan suara tinggi, Lao Zi menepis tangan Dong Ye kasar tetapi pemuda itu sudah kepalang kesal. Ditinjunya rahang Lao Zi cukup keras.
"Apa maksudmu?" Lao Zi tampak jelas menahan amarahnya yang ikut naik. Sedangkan Dong Ye tertawa singkat, tak percaya dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan Lao Zi.
"Apa maksudku? Seharusnya aku yang bertanya begitu!"
Lao Zi jatuh tersungkur menabrak sebuah meja kayu, dia buru-buru berdiri sebelum Dong Ye melemparkannya barang.
"Kau menetapkan peraturan untuk melepaskan komunikasi dengan keluarga kami! Kau mengambil posisi ketiga yang seharusnya menjadi milikku- dan ..." Dong Ye mengeluarkan selembar kertas yang sudah terbakar hingga ke tengah.
"Kau membakar laporan hasil kerjaku. Semuanya hancur, aku tidak bisa melanjutkan tugasku dengan orang luar jika tak memiliki buktinya! Kau melakukannya, kau busuk, Lao Zi! Tapi aku tak pernah menyangka kau akan berbuat sampai sejauh itu!"
__ADS_1
"Aku tidak melakukannya!"
Seketika kepala Lao Zi berdarah saat cawan kaca melayang di keningnya. Kepala pemuda itu pusing dan telinganya berdenging lama. Saat mendapatkan kembali kesadaran tahu-tahu Dong Ye sudah berada di depannya.
"Aku sejak awal tak menyukaimu berada di sini. Kau, anak dari klan Lao lebih pantas untuk mati!"
Senyum miring di wajah Dong Ye mengembang perlahan-lahan. Membuat Lao Zi agak gentar saat membalas balik tatapannya.
"Jika kau mati, otomatis posisiku akan naik. Aku akan mengambil alih semua pekerjaan mu. Dengan begitu kau bisa istirahat dengan tenang. Kesempatan yang bagus bukan? Lao Zi si anak haram?"
"Tutup mulutmu, bangs*t!" Naik pitam Lao Zi akhirnya, matanya membesar dengan pandangan membunuh. "Ibuku tidak serendah yang kau pikirkan."
"Oh? Mau adu bukti?"
Lao Zi terdiam, masalah keluarganya ini hanya mereka sendiri yang tahu. Tidak dengan anak dari bangsawan kota yang mulutnya tajam seperti Dong Ye. Lao Zi sempat bertanya-tanya untuk alasan apa mereka mengganggu keluarganya. Dia sempat terlibat masalah serius dengan klan Dong dan hal itu masih membekas di kepalanya.
Dong Ye meniliknya dengan ekor mata, bertepuk tangan sambil tertawa-tawa. "Kakekmu cukup pandai menyembunyikan masalah, rupanya. Kau pikir mengapa setiap kali ibumu mengandung anak, dia selalu keguguran?"
Lao Zi terbungkam.
"Kakekmu membunuh kakek klan kami, dan permusuhan antar klan kita akan terus diwariskan hingga ke anak cucu. Aku tak akan berhenti untuk menghabisi kalian hingga ke akar-akarnya. Dan hari ini ...."
Insting Lao Zi mengatakan akan terjadi hal buruk padanya. Benar saja, balok tebal menghantam kepalanya hingga pemuda itu jatuh tersungkur di atas lantai. Kepalanya berdarah dan menggenangi lantai yang bersih. Dong Ye menyepak wajahnya agar bisa melihat Lao Zi lebih jelas.
"Aku sudah membencimu jauh sebelum kau dilahirkan ke dunia. Semua orang klanku mengutukmu untuk mati, dan untuk mewujudkan itu semua aku akan menghabisi nyawamu dengan tanganku sendiri."
__ADS_1
Kata-kata Dong Ye membuat Lao Zi yang masih setengah sadar panik, dia harus segera menyelamatkan diri jika tak ingin mati di tangan Dong Ye. Sayang kakinya terlalu gemetar untuk sekedar berdiri, Lao Zi mati-matian memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
Sementara Dong Ye dan dua bawahannya menertawai kemalangan Lao Zi, dua orang tersebut adalah bagian dari klan yang sama dengan Dong Ye. Mereka juga membenci Lao Zi lebih dari apa pun. Rasa benci ini tumbuh membesar karena semenjak kecil orang tua mereka sudah menceritakan banyak hal tentang masa lalu berdarah klan Dong dan Lao. Mantan Pilar Kekaisaran yang merupakan kakek Lao Zi membunuh kakek Dong Ye karena laki-laki itu sudah menyimpang jauh dari aturan. Memperjualbelikan manusia di zamannya untuk keuntungan semata, memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak berperikemanusiaan.
Dengan alasan itu, terjadi pertarungan yang merenggut banyak nyawa klan tersebut termasuk kakek Dong Ye beserta pelayan rumah mereka. Rasa sakit hati itu semakin membesar saat Xin Chen memanggil nama Lao Zi sebagai anggota unit ketiga yang kedudukannya di atas Dong Ye. Dia tidak terima kalah.
"Mungkin kau lebih berguna jika mati daripada hidup dengan kebencian orang-orang terhadapmu." Dua orang di belakang Dong Ye mulai bergerak membawa masuk peti mati.
Lao Zi memberontak saat kedua tangan dan kakinya diikat kerap, tubuhnya dililit tali besar yang berduri. Dia tak bisa bergerak sembarangan. Tubuhnya diletakkan asal ke dalam kotak kayu panjang tersebut, disembunyikan dalam satu ruangan kosong dan dikunci di sana dengan keji.
"Aku akan menunggu sampai bau bangkaimu tercium untuk melepaskanmu."
Lao Zi yang terkurung dalam peti kayu pengap mencoba berteriak tetapi mulutnya diikat kain. Punggung pemuda itu dingin, dia tak bisa mati dengan cara seperti ini. Apa yang akan terjadi jika Xin Chen kembali dan dia tak ada di sana. Dong Ye akan memanipulasi pemuda itu seperti dia menipu orang lain.
Hampir tiga hari dikunci tanpa makan dan minum, mata Lao Zi mulai buram. Dia berulang kali mencoba melarikan diri dan hal ini hanya membuat sekujur tubuhnya robek berdarah. Lao Zi merasa seperti ingin mati, tenggorokannya kering kerontang dan asam di perutnya meronta-ronta. Dia kehabisan tenaga, sementara pikirannya masih tertuju pada satu harapan.
'Cepat kembali, Tuan Muda.' batin Lao Zi sebelum memejamkan matanya, sekarat di batas antara hidup atau mati.
**
Rubah Petiiir aarghh ༎ຶ‿༎ຶ
Dulu bikin gemes hari ini bikin nangid.
Besok insyaallah up 3-4 chapter, gak kuat lagi jariku ngetik my friend. Hayati lelah.
__ADS_1
Btw baca+like-nya yang merata dong, berpengaruh ke level soalnya. Nanti Thor gak dapat jajan༎ຶ‿༎ຶ Mo beliin whiskas buat Rubah Petir, siapa tau mo idup lagi yekan. Reinkarnasi jadi kodok leh uga daripada nganggur. Musim covid susah dapat kerja soalnya//plak