
Youji berusaha menutup lengannya dengan kain lengan, rupanya suara laki-laki itu menarik perhatian prajurit yang berjaga di sekitar mereka. Tak sedikit yang menatap miris ke arah mereka berempat, seperti sudah membaca apa yang akan terjadi berikutnya. Kini Youji hanya bisa menunggu laki-laki itu berbicara.
"Sebaiknya kau lepaskan tangan itu sebelum kami membakarmu."
Youji melepasnya dengan patuh. Xin Chen menahannya, membuat para prajurit langsung menodongkan senjata ke arahnya.
"Apa kau tidak tahu siapa dirinya? Sebaiknya jangan mencari masaah atau nyawamu tak akan selamat!" ancam satu prajurit keras-keras, ornag yang berdiri jauh dari sana saja sampai dapat mendengarkan suaranya.
"Kami tidak tahu seleksi seperti apa yang sedang kalian rencanakan. Jika salah satunya tentang memanah, aku yakin dia tak akan lolos." Dia masih menahan Youji yang berulang kali memperingatinya untuk tetap menurut. "Apakah tempat ini milikmu. Kau berdiri di sini, berarti harus mengikuti aturan di sini."
"Bagaimana jika aku mengatakan aku tidak setuju dengan aturan itu?"
"Demi kukang ku yang imut, kau turuti saja apa maunya, Chen!" Wei Feng setengah berbisik, suaranya seperti seekor tikus yang terjepit. Xin Chen tak menghiraukannya. Hanya fokus dengan laki-laki di depannya yang bisa saja menebaskan pedang selagi mreka lengah. Lama tak terjadi apa-apa, akhirnya dia bergegas pergi dan sempat mengatakan sesuatu yang membuat Xin Chen dan lainnya terancam.
"Aku akan mengintai setiap pergerakan kalian."
Setelah laki-laki itu pergi Wei Feng menarik napas dalam-dalam, tubuhnya merosot hingga jatuh terduduk di tanah. "Sial, belum juga satu hari kita sudah mendapatkan banyak masalah. Yu Xiong, air, air. Aku haus." Wei Feng mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh, pikirannya benar-benar kacau. Namun bukannya mendapatkan minuman, dia justru menggenggam tangan salah prajurit yang bertugas.
Yu Xiong dan Xin Chen sama-sama memalingkan muka menahan tawa, sementara Youji hanya bisa melihatnya tanpa bisa berkata-kata. Apalagi Wei Feng sampai menarik tangan itu ke bawah sambil mengoceh, "Air. Air!"
Melihat tak adanya jawaban sama sekali Wei Feng akhirnya menoleh ke sampingnya, mendapati sepasang mata tengah menatapnya horor di balik pelindung kepala. Seketika keringat dingin membasahi pelipis Wei Feng, dia sampai membayangkan orang itu akan menimpuk kepalanya dengan batu.
"Ma-maafkan aku Tuan! Aku tidak bermaksud!" Dalam hati Wei Feng mengumpat, dilihatnya Yu Xiong membalikkan badan begitu juga dengan Xin Chen.
"Oit, bedebah. Jangan memalingkan muka begitu-"
__ADS_1
"Bukan teman kami."
Kepala Wei Feng gemetar saat mencoba menengadah ke atas, melihat prajurit tadi baru saja melepaskan pandangannya pada dua orang trsebut dan meliriknya lebih horor lagi.
"Ampuni aku! Youji, katakan sesuatu! Aku benar-benar tidak tahu!"
Untungnya Wei Feng bisa lepas dengan selamat karena prajurit tadi langsung kembali ke tmpatnya bertugas. "Sepertinya masalah memang senang sekali mendatangiku. Cih, dua orang itu benar-benar ingin ku lempari dengan sandal."
Dia melepas kedua sandalnya lalu melempar ke dua orang tersebut, satu menampar kening Yu Xiong. Dan satunya lagi nyaris mengenai Xin Chen. Weii Feng bangun sambil memasang wajah kesal. "Teman tidak akan meningglkan rekannya yang berjuang sendirian!" Wei Feng mendecak keras. "Aku tarik lagi kata-kata itu."
"Maafkan aku Kak Wei. Tapi aku tidak bisa memotong adegan mesramu bersama prajurit itu." Yu Xiong terbahak oleh kata-katanya sendiri, Wei Feng menjitak kepalanya keras-keras, Yu Xiong mengaduh kesakitan dan masih melanjutkan tertawanya sampai sesak napas.
"Sepertinya bukan masalah yang senang mendatangimu, tapi pencabut nyawa yang menyukaimu, Wei Feng." Celotehan Youji sampai membuat Wei Feng berjingkat kesal. Perbincangan mereka berhenti saat barisan prajurit datang, derap kaki mereka yang keras membuat tanah berdebu serupa asal tebal yang kuning. Tiga di antara mereka membawa bendera yang mengingatkan Xin Chen akan lambang dari Lembah Para Dewa dulu.
DI antara prajurit itu maju satu yang memakai zirah yang berbeda, sesaat kepalanya yang ditutupi besi melihat ke seluruh sudut tanpa terkecuali.
"Berdiri semua!"
Belum sepenuhnya berdiri, teriakan menggema menyusul lagi.
"Tiarap!"
Ada yang sampai menjatuhkan diri ke tanah karena melihat prajurit menyebar di antara mereka, bukan tanpa alasan, mereka datang untuk membunuh siapa saja yang masih berdiri. Wei Feng menoleh ke arah Xin Chen, "Kita benar-benar akan dibuat mati di sini-"
Darah dari orang di belakang Wei Feng membasahi pakaian mereka berdua, Wei Feng menoleh sedikit dan langsung mendapati mata pedang di depan bola matanya. Kontan dia langsung kembali ke posisi semula. Tubuhnya merinding bukan main saat mendengagr erangan yang bersusulan setelahnya.
__ADS_1
"Duduk."
Perintah itu datang lagi, Wei Feng bersegera duduk dan sampai menarik Yu Xiong yang terlalu lambat bergerak. Prajurit tersebut langsung duduk di tanah, sama rata seperti mereka. Dia meletakkan tangan di atas kedua kakinya yang duduk menyilang. Mengawasi setiap pergerakan dengan teliti.
"Sebagai seorang prajurit, mendengar perintah atasan adalah keharusan! Tidak perlu bertanya dan berpikir panjang. Kesigapan kalian adalah salah satu cara untuk memenangkan pertempuran! Semuanya dengar!"
Mereka menjawab hingga suaranya menggema. Laki-laki itu mengangguk, mlemparkan pandangannya pada deretan pemuda. "Sebelum aku berbicara lebih jauh lagi, aku akan mengatakannya sejak awal. Jika ada satu saja di antara kalian yang merupakan pengkhianat, atau penyusup, atau mata-mata dari pemerintahan lain. Maka siapa pun yang melihatnya wajib untuk melaporkan. DDan pelaku dipastikan tak akan bisa kabur dari tempat ini karena dijaga oleh sepuluh ribu prajurit. Siapa pun yang melaporkannya akan diberikan imbalan sebanyak seribu keping emas."
Sampai di sana dia berhent berbicara dan beralih melihat orang-orag di depannya. Hanya satu orang yang dilihatnya begitu pucat, sontak saja dia segera menyerang.
"Kau yang di sana! Kau terlihat mencurigakan!"
Wei Feng mengangkat wajah dan mendapati prajurit itu sedang menunjuknya, dia tak sempat berkata-kata, Xin Chen segera menyahuti. "Dia takut dengan darah. Mohon maaf atas ketidaksopanannya."
"Jika kau takut darah jangan pernah datang kemari! Jika tahun depan ku lihat kau brgabung dengan prajurit lagi, kuhabisi nyawamu."
Xin Chen menyenggol Wei Feng, "Tenanglah." Dia menyerahkan tempat air minum dari bambu, membuat laki-laki itu mengernyit. "Aku tidak meminta minuman, bodoh. Kau lihat di depan kakiku ada kepala yang terpotong. Matanya seperti sedang melihatku, sial."
"Kau ketakutan seperti ikan yang kekurangan air. Cepat minum, nanti sisikmu mengering."
"Kupikir kau memang sudah berubah, ternyata sama saja, Kecambah Iblis." Wei Feng menerimanya dengan wajah memprotes.
***
author note; Kayaknya bakal banyak typo di sini, semoga kalian memakluminya ༎ຶ‿༎ຶ Thor lagi banyak masalah hidup malah maksa nulis ya gini jadinya
__ADS_1