Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 95 - Dua Orang Berjubah


__ADS_3

Xin Chen hanya bisa berdiri mematung di tempatnya, dia tak mengerti sama sekali Ye Long sedang memberi isyarat apa. Kepala Xin Chen semakin pusing sewaktu dia teringat lagi dengan Baja Phoenix dan dia harus merebutnya sekarang juga. "Ye Long, aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main sekarang. Cepat kembali ke Rubah Petir sebelum dia menyetrummu."


Ye Long mengamuk, dia menggeret kaki Xin Chen dengan ekornya dan menghadapkan kepalanya ke depan. Memaksa Xin Chen untuk melihat ke arah yang sama pula.


Xin Chen menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali melihat ke arah lingkaran acak yang dibuat Ye Long. "Itu... yang kau buat bentuk Desa Shengyou?"


Ye Long mengangguk dua kali.


"Dan tanda-tanda yang kau lingkari? Tu-tunggu jangan bilang kau tahu ke mana Pedang Baja Phoenix dibawa?!"


Ye Long mengangguk tiga kali. Xin Chen tak bisa berkata apa-apa, naga itu benar-benar membantu dalam situasi seperti ini.


"Jadi dari tadi kau mengikutiku? Kau juga melihat saat Pedang Baja Phoenix dicuri?"


Ye Long mengangguk senang, sama halnya seperti Xin Chen. Naga Hitam ternyata hanya berniat membantunya menyelesaikan permasalahan ini. Ye Long tak betah dikunci di kamar penginapan bersama Rubah Petir karena dia terbiasa hidup di alam terbuka.


Saat kabur Ye Long berhasil membuat rusak jendela penginapan dan kabur begitu saja. Entah Rubah Petir sadar atau tidak, Ye Long sendiri sudah sedikit mengenal Rubah Petir bagaimana. Sengatan listrik rubah itu takkan membuatnya mati walaupun harus menderita.


Saat kabur Ye Long mengikuti ke mana pun Xin Chen berada, sayangnya dia agak terlambat menyadari saat sesuatu yang buruk terjadi. Pedang Baja Phoenix dicuri dari Xin Chen dan Ye Long langsung mengikuti siluman yang mencurinya dari atas.


Mengandalkan indera pendengarannya yang sangat-sangat tajam bukan hal sulit untuk melacak di mana perginya siluman ular itu. Dan juga sebagai sesama siluman dia dapat merasakan hawa yang sama sepertinya.


Saat Ye Long sudah mengetahui lokasinya dia segera kembali dan yang terjadi seperti tadi Xin Chen lihat.


Ye Long menabrak musuh dengan sangat keras sebelum belati menusuk mata Xin Chen. Lalu membakar semua orang yang kemungkinan besar sedang bertarung dengannya juga.

__ADS_1


Sekarang Ye Long kembali mengarahkan kukunya pada titik-titik yang dia tandai dengan api. Xin Chen yakin tempat yang di maksud Ye Long adalah titik di mana mereka berdiri.


Letak kedua yang ditunjuk Ye Long berada di barat Shengyou, Xin Chen segera melihat perkiraan letak tersebut yang kemungkinan berada ke ujung desa hingga terlihat sebuah menara bertingkat berwarna merah. Tempat itu sangat berbeda dari bangunan lainnya hingga Xin Chen dapat mengenalinya dengan mudah.


Di balik menara tersebut Xin Chen dapat memperkirakan halaman luas di dalamnya. Kemungkinan markas tempat orang-orang dari Empat Unit Pengintai berkumpul.


"Paman Jin Sakai bilang mereka hanya sepuluh orang, tapi tempat mereka sudah sangat mewah untuk ukuran sepuluh orang saja. Kemungkinan Empat Unit Pengintai ini pasukan elit yang memang ditugaskan untuk melacak keberadaan Pusaka Langit.." Xin Chen berkata pelan, "Ye Long kita harus pergi ke sana secepat mungkin."


Sebelum sempat melangkahkan kakinya lebih jauh Xin Chen dikejutkan oleh sebuah suara menyahut dari belakang.


"Pantas saja kucari ke manapun tidak ada. Ternyata kalian berdua di sini." Xin Chen bergidik ngeri sambil menoleh ke belakang seraya melebarkan senyuman kaku, memperjelas kegugupannya di depan Rubah Petir.


Xin Chen yakin, saat rubah itu tahu Pedang Baja Phoenix telah dicuri darinya, kepalanya pasti akan dipenggal hidup-hidup oleh Rubah Petir.


"Ka-kami akan kembali!"


"I-itu... Aku sedang mengejar keping Baja Phoenix yang lain. Kalau sudah dapat nanti aku akan kembali. Aku janji. Ayo Ye Long, kita berangkat sekarang!"


Sama halnya seperti Xin Chen, Ye Long agak gentar pada Rubah Petir. Rubah itu kalau sudah marah sangat menyeramkan. Mata keperakannya itu akan bercahaya terang seperti hantu di siang bolong. Meskipun dalam ukuran tubuhnya yang kecil itu dia masih terlihat imut tapi jika ekspresinya berubah marah, siapapun akan lari terbirit-birit melihatnya.


Ye Long terbang di atas awan-awan membuat mereka tak dapat dilihat oleh orang-orang di bawah sana. Xin Chen sendiri sedikit mencuri-curi pandang ke bawah dan mendadak dia memaksa Ye Long berhenti.


"Tunggu sebentar!"


Ye Long mendesis kecil, Xin Chen membuatnya terkejut tadi. Suaranya terdengar terlalu keras di telinganya. Sementara itu bola mata Xin Chen berpusat pada tiga orang yang saling bertarung di atas atap perumahan warga.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya pertarungan itu saja yang terjadi saat ini dan sudah menjadi hal biasa.


Namun Xin Chen terkejut saat melihat jubah yang mereka kenakan mirip dengan para pendekar dari Lembah Para Dewa. Dua orang tersebut adalah orang yang sama dengan pembunuh Xu Ming. Sang juru informasi yang handal itu tewas di tangan mereka berdua di rumahnya sendiri.


Ye Long pun ikut melihat pertarungan tersebut, dia menggelengkan kepalanya pelan saat membaca bagaimana situasi di sana. Jelas-jelas dua orang berjubah akan kalah dengan tiga orang paling senior dari Empat Unit Pengintai. Mereka yang senior ini adalah petarung kelas atas yang masing-masing memiliki siluman peliharaan.


Saat mantra muncul dari atas langit dan serangan menyambar dua petarung dari Lembah Para Dewa, rumah pun turut hancur dibuat mereka. Untung pemilik rumah tersebut sudah lebih dulu menyelamatkan diri sebelum rumahnya dijadikan tempat bertarung.


Kalajengking besar keluar dari cahaya merah milik seorang senior dari Empat Unit Pengintai, capitnya yang besar menerabas kayu dan batu bata perumahan. Membuat salah satu dari pihak Lembah Para Dewa terkena imbas dan jatuh ditimbun oleh reruntuhan.


Temannya mencoba menyelamatkan namun apa daya, punggungnya ditembus begitu saja oleh ekor beracun sang kalajengking. Membuat darah mengucur deras saat ekor itu ditarik kembali dan dia jatuh terkapar kehilangan nyawanya.


Usai mendapatkan kepingan Baja Phoenix merah orang-orang Empat Unit Pengintai kembali ke markas mereka. Salah satu melepaskan petasan perak yang menggema di seluruh penjuru desa.


"Sial, sepertinya mereka akan langsung pergi dari sini! Ye Long, cepat. Kita sudah tak memiliki banyak waktu lagi!"


Raungan naga terdengar setelahnya, Ye Long terbang dalam kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya, Xin Chen hampir tak bisa menarik napas dibuat naga itu.


Saat Ye Long menurunkannya di samping markas Empat Unit Pengintai, Xin Chen berbisik pelan.


"Kita tunggu sampai mereka semua berkumpul. Aku yakin mereka akan berpindah ke titik lain untuk mencari Armor Dewa Perang. Selagi itu apa kau bisa merasakan ke mana perginya siluman ular yang mencuri Baja Phoenix?"


Ye Long mengangguk sebagai jawaban. Xin Chen menarik napas lega. "Begini, Baja Phoenix tak mungkin ada di tangan siluman itu. Selagi aku masuk ke dalam bisa kau kacau kan siluman ular itu? aku akan mencari Baja Phoenix dengan Topeng Hantu Darah. Jika ular itu bisa melacak Topeng Hantu Darah juga bisa-bisa pusaka ini terancam."


Ye Long mengecilkan pupil matanya agar bisa mendengarkan suara dalam frekuensi terkecil, kedua telinganya bergerak-gerak pelan sebelum akhirnya pergi begitu saja dari hadapan Xin Chen.

__ADS_1


"Baiklah, aku mengandalkanmu kawan!"


*


__ADS_2