
"Kau terlambat."
Pikiran Shui beralih ke tempat lain, mengingat kapan terakhir kali dia menjumpai rubah tua tersebut namun sekarang dia kehilangan jejak. Siluman Penguasa Petir itu, tak pernah memunculkan diri satu kali pun.
Sementara Xin Chen seolah-olah meminta penjelasan dari Shui, kekhawatiran akan Rubah Petir dikarenakan Xin Chen merasa bersalah. Meninggalkan semua orang tanpa mengatakan apa-apa. Dia yakin setidaknya akan dimarahi habis-habisan oleh rubah tersebut atau paling tidak diikat di pohon.
"Terakhir kali menjumpainya, enam tahun yang lalu. Rubah itu sekarat, dia kehilangan semua kekuatannya setelah perang itu. Tak ada lagi yang tersisa darinya, dan aku melihat seperti ..." Shui agak tak yakin mengatakannaya.
"Seperti?"
"Rubah kehilangan sesuatu dari dirinya, dia tidak bisa menyembuhkan luka lagi atau memulihkan kekuatannya. Aku sempat bertanya, tapi dia menyembunyikan semuanya dariku."
"Di mana kau terakhir kali menjumpainya?"
"Saat dia menyamar dan menaiki kapal manusia, mungkin hendak menuju ke wilayah lain. Aku tak tahu apa yang sedang dicarinya hingga sekesal itu, kupikir itu kau. Tapi tampaknya rubah juga tahu bahwa kau bersembunyi di Kota Renwu. Selebih dari itu, aku tak mengetahui apa-apa." tandas Shui. Xin Chen tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ada yang tidak beres, Rubah Petir takkan mau bergerak jika dirinya sendiri terluka. Xin Chen menyesal, seharusnya hari itu dia tidak meninggalkan rubah itu sendirian. Mungkin saja saat itu Rubah Petir sedang membutuhkan pertolongannya.
"Aku sangat berharap bisa menemuinya lagi."
"Sepertinya itu mustahil." Shui memotong, "Rubah menyampaikan padaku agar kau tidak mencarinya ke mana pun. Aku tak mengerti mengapa dan apa yang terjadi pada kalian sehingga dia berpikir tak ingin menjumpaimu lagi. Aku hanya tahu saat itu dia terus memalingkan muka. Dia takut akan sesuatu."
Kenyataan bahwa Rubah Petir meninggalkannya membuat Xin Chen hanya tersenyum getir. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya.
Sampai mereka selesai dan keluar dari kedai, Xin Chen baru angkat bicara. "Aku akan mencari informasi dan sesuatu yang bisa kuajak bicara. Sekarang terserah kau mau pergi ke mana, sore nanti kita bertemu lagi di titik ini."
Shui menolak, "Aku mana tahu apa-apa soal dunia manusia. Kemarin-kemarin saja hampir ditangkap karena dikira mahkluk jadi-jadian. Aku ikut," tegasnya. Xin Chen membalikkan badan dengan wajah keberatan.
"Aku ingin menemui seseorang dan sepertinya dia akan keberatan menemui orang asing sepertimu. Bagaimana jika dia menolakku datang hanya karena aku membawa orang lain?"
"Lalu apa yang aku lakukan di sini?"
__ADS_1
"Terserah-"
"Ya sudah berikan aku uang. Aku makan-makan sampai kau kembali ke kedai ini, setuju?"
Xin Chen menyela cepat, dia tahu porsi Shui bukan main banyaknya. Sampai berpikir perutnya itu perut karet. Bisa-bisa habis uangnya ditelan Shui.
"Lebih baik kau ikut. Nanti kalau bertemu dengan orangnya kau jangan muncul."
Shui mengangguk, mengikuti jalan Xin Chen sembari melihat ramainya pasar yang mereka lalui. Hiasan-hiasan dipasang di atas mereka dengan beberapa lampion yang tetap indah walaupun hari hampir siang. Malam keindahan kota ini jauh lebih terang, juga ramai oleh pengunjung yang berdatangan.
Langkah Xin Chen terhenti saat mereka tiba di depan halaman istana Kaisar. Menatapi barisan patung Pilar Kekaisaran yang menghiasi halaman yang luas. Ada sedikit rasa sedih di hatinya, tidak ada patung ayahnya. Bahkan saat mereka tahu orang itu masih hidup dan dengan mudah menyingkirkannya.
Patung Lan An dan pendekar bangsawan di sebelahnya. Xin Chen tersenyum miring. Memikirkan satu hal menyenangkan yang sudah lama tidak dilakukannya.
Pemuda itu melirik ke arah Shui tepat di depan gerbang. "Sembunyi dulu, ada yang harus aku lakukan."
"Wajah-wajah orang malas, perampok berjabatan, mulut ular," umpatnya meskipun hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Senyuman usil kembali menghiasi wajahnya.
Xin Chen tanpa pikir panjang menebas kepala sembilan Pilar Kekaisaran yang tidak disukainya itu. Kecuali kepala patung Pilar Pertama, Lan An. Terlihat puas dengan apa yang dilakukannya. Mungkin jika ingin melakukan protes, cara seperti ini paling didengar oleh mereka.
Mata pedangnya mengiris batu-batu lantai di tempatnya berdiri, menuliskan kalimat menusuk di sana.
'Kami tidak butuh pahlawan pengangguran'
Salah satu penjaga istana menyadari kehadirannya oleh suara yang cukup berisik, baru hendak berteriak ada penyusup laki-laki itu menutup mulutnya. Tak jadi berteriak saat orang yang dilihatnya tersenyum mengerikan lalu menghilang seperti setan.
Benar saja, tak lama keadaan halaman istana menjadi ramai saat mereka menyadari kesembilan kepala patung yang dibuat dengan mahal itu terbelah dan pecah di atas tanah. Beberapa patung di antara mereka sengaja dilapisi bahan emas dengan alasan agar tampak lebih mewah dari Pilar Kekaisaran lain. Sayangnya patung yang mereka banggakan hancur tanpa sisa.
Saat mereka sedang panik-paniknya untuk menjelaskan masalah ini ke atasan, Xin Chen tertawa bengis. Shui bergidik ngeri di sebelahnya, takut Xin Chen kerasukan sesuatu. Tapi tak mungkin juga, setan pun akan berpikir dua kali jika ingin masuk ke tubuhnya.
__ADS_1
Semakin berjalan, mereka semakin menuju ke gang-gang sempit. Tempat yang sangat terdalam dan mulai menampakkan kekumuhan. Rumah-rumah di bangun berhimpitan sehingga terlihat sesak.
Xin Chen berhenti saat seseorang menyapanya, pria berbadan tinggi besar tiba-tiba menyapanya.
"Hai, tuan-tuan sekalian! Apa gerangan yang membawa anda kemari?"
"Betul di sini rumah Chang Wei?" Xin Chen langsung ke intinya, membuat pria itu tertegun dan terbahak keras. Lalu menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. "Tidak kuduga di jaman seperti ini masih ada yang mencarinya ..."
"Ke mana dia?"
"Tempat yang jauh?" Jawab pria itu asal.
"Tepatnya?"
"Aish, kau ini tidak mengerti peribahasa? Dia sudah lama mati, saat perang dulu. Dia dan Ho Xiuhan kehilangan nyawa. Begitu juga dengan seluruh anggota Aliansi Pedang Suci. Mereka semua hanya tinggal nama."
Xin Chen tak menyangka berita itu benar adanya, selama perjalanan dia sempat mencari-cari di mana rumah anggota Aliansi Pedang Suci tersebut. Tidak ada yang peduli akan berita hidup tidaknya mereka, sulit menemukan informasi tentang mereka. Dan tahu-tahu, saat sudah sampai ke sini yang didapatkannya hanya berita duka.
"Maafkan aku."
Pria itu menggeleng pelan, dia adalah saudara jauhnya Chang Wei dan mereka sering melakukan pertemuan dengan Aliansi Pedang Suci di tempat ini. "Aku merasa terhormat hingga detik ini ada yang masih mencarinya. Suatu kehormatan besar bagiku dan Chang Wei."
Pria itu mendekat, "Tapi sebenarnya tuan ada urusan apa dengannya?"
"Tidak, tidak penting. Terima kasih."
Xin Chen segera berbalik badan namun matanya menangkap ada sesuatu yang salah. Di tanah yang menuju ke rumah pria itu, dia dapat melihat puluhan jejak kaki berbekas di sana. Xin Chen membalikkan badan dengan raut wajah kesal.
"Ah, kau peka juga. Maaf, aku bisa jelaskan."
__ADS_1