
"Kau ingin memberikannya pada kami?"
Terlihat sosok abstrak yang tubuhnya hanya sampai selutut, tatapan matanya lurus ke arah Xin Chen. Sosok yang ditatapnya itu membalas balik, memindai tubuh roh tersebut setiap incinya dan mempertanyakan dari mana roh tersebut muncul.
"Jika kau penasaran siapa aku maka biar ku beritahu, aku adalah perantara dari roh yang selama ini ada di dalam Kitab Pengendali Roh. Dan satu hal lagi, jika kau benar-benar ingin memberikan tubuh itu pada kami, maka terlebih dahulu aku akan memberitahu resikonya padamu."
Xin Chen sedikit tertarik, meskipun masih terkejut akan kehadiran tak diduga tersebut dia sebaik mungkin bersikap tenang.
"Resiko?"
"Pertama, kau mungkin takkan mendapatkan tubuh manusia lagi. Kecuali dengan menggunakan manipulasi, yang membuat tubuhmu dapat disentuh. Saat berada dalam tubuh tanpa wujud itu artinya kau juga takkan bisa menyentuh lawan mu dengan tanganmu sendiri."
"Dan jika aku membuat tubuhku dapat disentuh maka aku juga bisa menyentuh orang lain, begitu?"
"Ya. Kau mudah mengerti ternyata."
"Hm, ini menjelaskan mengapa hari itu aku bisa membunuh Zhang Ziyi."
Kematian Zhang Ziyi hari itu mungkin bisa dianggap keberuntungan, mengingat seharusnya lelaki itu memiliki kemampuan yang langka. Memiliki tubuh yang tak bisa dilukai sangat sempurna dalam pertarungan apapun. Sekali lagi, Xin Chen menengadah ke langit.
"Apa jika aku memberikan tubuhku, kau mau membantuku membunuh naga itu?"
"Harapan yang gila. Aku tak bisa berjanji untuk hal itu. Lawanmu itu bukan tandingan kami lagi."
Xin Chen mendengus pasrah. Tak lama roh tersebut mengeluarkan suara, "Tapi aku bisa menjamin atas keselamatan nyawamu sepenuhnya."
"Aku tidak membutuhkan itu."
"Kau sangat membutuhkannya," cela roh tersebut cepat. "Api Keabadian milik naga itu sudah di luar batas kemampuanmu. Saat kau dibakar olehnya, maka sehebat apapun dirimu kau tetap akan menjadi abu."
__ADS_1
"Kalau begitu aku punya satu permintaan," ujarnya kemudian. Sedikit terlihat putus asa di saat bersamaan. "Aku ingin kau menjaga laki-laki itu, dia Ayahku."
"Mengapa?"
"Entah mengapa belakangan ini aku selalu memimpikannya. Aku hanya merasa akan kehilangannya."
Lama tak menjawab, roh itu akhirnya berbicara. "Tidak berubah sama sekali. Perasaan manusia sangat sulit dimengerti."
Dia kemudian menatap Xin Chen perlahan-lahan, melihat bola mata yang kini penuh keyakinan itu. Dia telah bersiap mengorbankan tubuhnya. Di sisi lain roh tersebut mulai merasakan beban di pundaknya, menjaga manusia lain yang bukan Tuannya bukanlah kemauannya, bahkan jika Xin Chen sendiri yang meminta.
Dengan mendapatkan tubuh Xin Chen maka para roh itu mendapatkan kekuatan yang jauh lebih besar.
"Jangan menyesali keputusanmu ini."
"Tidak akan."
"Bagaimana jika aku bilang, saat kau menyerahkan tubuhmu pada kami maka salah satu kemampuan tubuh keabadianmu itu bisa saja menghilang?"
"Selama kitab ini tidak dibakar, atau dihancurkan maka kau masih bisa hidup. Kalau kau mati, maka jiwamu akan menjadi bagian dari roh bersama dengan kami."
Kali ini Xin Chen benar-benar tak habis pikir, "Ja-jangan bilang jiwa Zhang Ziyi-"
"Semakin kuat jiwa yang kami ambil, semakin kuat pula kehebatan Kitab Pengendali Roh."
Hal itu membuktikan bahwa Kitab Pengendali Roh telah memakan banyak jiwa para petarung hebat dari Kekaisaran Wei. Maka tak heran membunuh sebuah desa dalam satu malam merupakan hal yang mudah.
"Itu artinya jika Kitab Pengendali Roh tidak ada lagi, maka aku juga akan mati."
"Ya, karena tubuhmu adalah bagian dari Kitab Pengendali Roh."
__ADS_1
Dengan yakin Xin Chen mengangguk, roh tersebut berjalan ke arahnya. Semakin lama semakin membesar hingga saat hanya berjarak dua tapak darinya, ukuran tubuh roh itu lima kali lebih besar darinya.
Xin Fai menyadari ada yang salah di bawah dan berteriak kencang.
"Jangan lakukan itu, Chen-"
Terlambat sudah, roh tersebut memakan tubuh anaknya sama seperti dia memakan tubuh Han Wu. Hanya dalam satu kedipan mata, sosok anaknya menghilang dari muka bumi. Kelengahan tersebut membuka celah, Qiang Jun mendaratkan tendangan telak yang menghantam perutnya, Xin Fai terlempar jauh. Sejauh ini sedikit harapannya untuk menang mulai menghilang, terlebih lagi melihat pertarungan Rubah Petir yang mulai terlihat tak berimbang.
Xin Fai hanya bisa mencengkram tanah, beberapa tulang rusuknya terasa remuk akibat tendangan tersebut. Namun hal yang paling membuatnya terluka adalah membiarkan jiwa anaknya terikat kontrak dengan roh. Dia takkan bisa lagi kembali seperti manusia biasa. Itu adalah konsekuensi yang harus diterimanya.
Qiang Jun ikut turun, mengejar lawannya tanpa ampun dan memulai menyerang kembali. Sementara Xin Fai belum begitu siap melawannya lagi, tangannya tak berhenti mengeluarkan darah. Sudah dua hari semenjak mereka bertarung tanpa henti, melawan manusia yang tak memiliki hati dan batas kekuatan adalah neraka terberat yang pernah dihadapinya. Sepuluh kali lebih mengerikan daripada melawan Naga Es di Kutub Utara yang begitu dingin hingga menusuk kulit.
Qiang Jun kembali mengayunkan pedangnya, Xin Fai menghalaunya namun siapa sangka senjatanya malah ditepis kembali, hingga membuat senjata itu terlepas dari tangan Xin Fai dan terlempar sangat jauh darinya.
"Pada akhirnya aku memang tak sebanding denganmu."
Xin Fai tak ingin menyerah, namun dia sadar posisinya saat ini. Mungkin jika dia melawan Qiang Jun yang asli kesempatan menangnya masih cukup besar. Namun yang terjadi sekarang, Qiang Jun di hadapannya ini nyaris tak pernah kelelahan, kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya layaknya air terjun. Terus melimpah ruah, setiap luka yang diterimanya pun akan kembali sembuh seperti semula.
"Qiang Jun, jika kau mendengarku. Jika kau berada di posisiku saat ini ... Apa yang akan kau lakukan? Pedang kebanggaanmu sedang diperebutkan oleh umat manusia hingga menimbulkan perang, dan membuat anak dan istrimu dalam bahaya. Menurutmu apa yang harus ku lakukan?"
Qiang Jun tak bergeming, dia terus berjalan dengan kedua pedang di tangannya.
"Paling tidak aku akan mengubur senjata itu bersamaku. Dan memastikan mereka semua baik-baik saja ...."
Dia melihat sekelilingnya, tidak mendapatkan sosok yang ingin dilihatnya kali ini. Xin Chen telah menghilang, entah apa yang baru saja dilakukannya dengan roh pemilik Kitab Pengendali Roh tersebut.
Xin Fai kembali menarik pedangnya yang terjatuh itu, menyimpannya di ruang penyimpanan. Dengan itu dia yakin takkan ada yang bisa mengeluarkannya kecuali dirinya sendiri. Sementara Qiang Jun masih terus berjalan mendekatinya, hingga tak lama kemudian langkahnya semakin dipercepat.
Qiang Jun melompat tinggi dengan kedua bilah pedang yang siap menebas lawannya, hanya dalam satu kali gerakan tubuh musuhnya akan terbagi menjadi empat bagian, mengingat tidak ada senjata apapun yang akan menghalangi serangan tersebut.
__ADS_1
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat keduanya terkejut.