
Di keesokan hari keduanya telah bersiap meninggalkan tempat persemayaman para siluman tersebut, sebagai penjaga kawasan di sana Katak Daun mewakilkan diri untuk mengantarkan kepergian mereka.
"Chen, kuharap saat sudah dewasa nanti kau akan tetap seperti ini." Katak Daun berujar tenang.
"Apa maksudmu?"
"Lihatlah di sekelilingmu."
Dia menuruti apa kata siluman tersebut dan tak menangkap maksud apapun, hanya alisnya yang terangkat sebelah dengan tatapan bertanya-tanya.
"Itu saja kau tak paham. Maksudku, kau tetap menjadi manusia yang menganggap siluman dan bangsa lainnya setara denganmu. Tanpa harus membunuh atau menyingkirkan kami..."
"Oh begitu, katakan yang jelas. Kau tahu kalau otakku-"
"Hanya seukuran biji kedelai." Potong Rubah Petir santai, dia bahkan tak menolehkan wajahnya barang sedikitpun.
"Hah! Terimakasih banyak sudah memperjelasnya Guru Rubah yang Terhormat."
Katak Daun melambaikan tangannya, melihat mereka kian menjauh dari pandangan.
Tak berapa jauh berjalan mereka menemukan sebuah tempat singgah sementara, pemukiman yang hampir menyerupai kota terlihat dari kejauhan. Sebenarnya itu hanyalah desa yang tidak begitu luas, namun karena penduduknya kaya, perumahan di sana rata-rata seperti rumah kaum menengah ke atas.
Memasuki tempat tersebut bukanlah hal sulit, akan tetapi tetap saja perhatian penduduk tertuju pada mereka terutama pada Rubah Petir yang bersembunyi dalam jubah. Bukan mempermasalahkan identitas, hanya saja pakaian lusuh begitu membuat orang melihatnya seperti gelandangan. Sementara Xin Chen menyembunyikan wajahnya dengan Topeng Hantu Darah. Tak mau jika salah satu dari anggota Empat Unit Pengintai berada di sini dan menangkapnya, mengingat terakhir kali dia merebut kedua keping Baja Phoenix dari mereka.
Matanya terus menilik sekitar, hingga sewaktu melewati satu perumahan, dia mendengar gosip yang belakangan ini menjadi topik hangat di Kekaisaran.
"Pernikahan Tuan Lan An Nona Xin Xia mungkin akan digelar dalam tujuh hari! Seandainya aku adalah anggota kekaisaran mungkin akan kuhadiahkan batu giok permata kepada Pilar Kekaisaran itu. Akhir-akhir ini dia turun tangan langsung menangani masalah di desa-desa, benar-benar baik hati."
"Siapa yang tidak tahu rencana pernikahan itu? Kuberitahu padamu, kau mungkin belum mengetahui satu kebenaran lainnya dalam acara pernikahan mereka."
"Seperti keluay bangsawan saja omonganmu."
"Cih, percaya tak percaya, kudengar hari pernikahan itu bertepatan dengan hari lahirnya Tuan Muda Xin kedua." Begitu ucapnya, Rubah Petir yang menyadari Xin Chen berhenti karena menyimak obrolan itu pun turut terdiam.
"Kau ingin menghadiri acara pernikahannya, kan?" tanya Rubah memastikan.
"Aku sangat- ah, kalaupun aku pulang mungkin aku duluan yang akan menangis di sana."
__ADS_1
"Maka datanglah ke sana. Kau pasti sangat merindukan mereka."
Kerinduan akan keluarganya di Lembah Kabut Putih memang tak bisa disembunyikan lagi, sepuluh tahun dibesarkan di tempat itu dengan keamanan terjamin bersama ayah ibu dan saudaranya. Kehidupan di mana dia tak harus mengeluarkan pedangnya untuk melindungi siapapun.
"Mungkin aku akan menemui mereka."
Usai berkata demikian mendadak langkah Rubah Petir limbung, Xin Chen lekas menopang tubuhnya cemas. "Guru Rubah, kau kenapa?"
Rubah Petir tak mungkin mengatakan hal itu pada Xin Chen, daripada menjawabnya dia justru mengalihkan pembicaraan. "Aku akan mencari penginapan yang sekiranya muat untuk Ye Long. Jika kau ingin mencari sesuatu di sini silakan."
Rubah Petir berlalu begitu saja, bahkan tanpa bantuannya pun siluman itu masih bisa berbaur di antara kerumunan manusia tanpa dicurigai. Sementara Xin Chen berdiri di tempatnya semula, "Hukuman yang diterima Rubah... Aku tak tahu bagaimana bisa membantunya sedangkan dia sendiri tak mau memberitahu apapun."
Brakkh!
Seseorang menubruknya keras sekali sehingga tubuhnya terpental membentur dinding, Xin Chen agak kesal sebenarnya tapi melihat situasi sepertinya sedang terjadi aksi kejar-kejaran di tempat ini.
"Pencuri!!" Seseorang memacu kudanya di tengah-tengah jalan yang ramai dilalui pejalan kaki, membuat kericuhan membludak sampai-sampai siapapun yang berada dalam kedai arak mencuri pandang ke luar karena penasaran.
Namun pengejaran itu tak begitu lama karena dengan kuda, pria pencuri itu lekas tersusul. Dia jatuh terjerembab di atas tanah, saat kakinya berusaha berlari lagi sebuah tombak menyandungnya hingga kembali mencium tanah.
"Kembalikan uang yang kau curi dari aliansi kami."
"Sudahlah Chang Wei, jangan mengancamnya dengan tombak begitu.." seseorang menyahut dari belakang, dia adalah Ho Xiuhan, salah satu yang menduduki jabatan tinggi di aliansi.
Kini Chang Wei yang menjadi pemimpin Aliansi Pedang Suci semenjak Lan An dan Xin Fai pergi. Namun aktivitas mereka tak sebanyak dulu seperti bertarung dalam setiap pertempuran berdarah.
"Hah, apa-apaan ini. Hari-hari aku malah sibuk meladeni penjahat kelas teri yang kerjanya sibuk merecoki urusan orang. Meresahkan saja."
Selagi Chang Wei sibuk mengeluh, para penduduk desa berbisik-bisik satu sama lain. Pencuri itu bukan sudah satu atau dua kalinya tertangkap, wajahnya yang penuh lebam dan bajunya yang koyak disebabkan karena dia sering dipukuli setelah mencuri dagangan orang, membuat siapapun miris melihatnya.
"Siapapun yang melakukan kejahatan harus dihukum!"
"Kalau begitu biar aku yang menanggung hukuman itu."
"Hah?" Chang Wei menjadi bingung, langsung mencari sumber suara yang tadi menyahut. Tak menemukan siapa-siapa.
Saat sadar ternyata yang berbicara tadi sudah berdiri di depannya tapi dia harus sedikit menunduk karena sosok itu lebih pendek darinya. "Oh ho! Ada anak kecil yang sibuk mengganggu urusan orang tua! Sudahlah kau mana paham persoalan seperti ini, main saja sana dengan teman sebayamu. Hush, hush!"
__ADS_1
"Kupikir ayahku menceritakan tentang Aliansi Pedang Suci dengan begitu keren hingga aku tak bisa tidur dua hari dua malam mendengarnya, saat melihat kenyataan rupanya hanya kumpulan pendekar payah yang tak memiliki rasa kasihan pada orang lemah."
Chang Wei tertohok, Ho Xiuhan terbelalak. Kata-kata menusuk tepat di hati mereka. Aliansi Pedang Suci sekarang sama seperti seekor singa yang kehilangan taringnya, hanya masa lalu yang membuat nama mereka masih disegani sampai sekarang.
"Tuan Muda Xin kedua!?!" Mereka menjadi histeris.
"Suara kalian terlalu kencang," gerutu Xin Chen tak suka. Dia membantu gelandangan di belakangnya berdiri.
"Untuk orang yang sama sekali tak memiliki kekurangan sepertimu seharusnya kau bisa mencari uang sendiri. Kau sama sekali tidak cacat, mengapa harus mencuri harta orang?"
"Aku..." Gelandangan itu menunduk, takut akan digebuk seperti kemarin hingga sekarat. Hanya untuk mengisi perutnya dia rela dipukuli hingga pingsan.
Chang Wei dan Ho Xiuhan saling bertatapan.
"Katakan saja. Tidak akan ada yang memukulmu."
Pria itu menangis tersedu-sedu, "Mereka tidak mau aku bekerja pada mereka, aku lewat saja sudah seperti melihat bangkai busuk yang akan mengotori tempat mereka. Di tempat tinggalku tidak ada yang bisa bertani, maka aku datang ke tempat ini."
Dia melirik sekelilingnya takut, "Bahkan mereka memiliki segudang makanan di rumah mereka dan sangat keberatan memberikannya walau hanya secuil pada ku."
"Jangan membual kau pencuri! Sudah jelas-jelas kau yang lebih dulu mengambil harta-harta di sini?! Lalu untuk apa kubantu sementara besoknya kau akan meminta lagi? Lebih baik mati saja!" sahut salah seseorang, sepertinya dia sering kehilangan barang karena gelandangan tersebut.
"Ya benar sekali. Dia sampai menghancurkan lahan bertaniku dan mengambil hasil panennya. Sudah dibantu malah tak tahu diri."
"Tuan Muda, tolong usir gelandangan ini dari desa kami. Dia hanya terus-menerus membuat masalah di sini."
***
Note: halo halo (ㆁωㆁ) eh ade orang tak kat sini? Komen coba
Author ad sdkt kabar baik nih, hehe
Mulai besok author akan coba update teratur, 2chapter sehari. Mumpung jg lgi libur dan bnyk waktu luang, atas permintaan readers jg sih sebenarnya wkwk. Setuju gak?
Dan yah, thor sndiri sebenarnya nulis dua chapter bisa 4-6 jam, jd tolong hargai jerih payah author ya! Gratis, kok. Dan gk akan menghabiskan waktu klian sampai berjam-jam. Apapun itu bentuk dukungannya, sekecil apapun akan sgt berarti^^
Satu lagi, baca chapternya jgn lompat kodok ya. Misal, chapter 143 gk dibaca tapi chapter 144 dibaca habis. Atau blom selesai dibaca udh di-skip, hal sekecil itu bisa mempengaruhi level karya lho. Yg awalnya sehari masih bisa beli air mineral, eh beli permen milkita aja udh gk bisa
__ADS_1
Sad (༎ຶ ෴ ༎ຶ)