
Penghuni Topeng Hantu Darah benar-benar keluar saat namanya disebutkan, dia menguap untuk beberapa saat nampak tak peduli dengan apa yang sedang mereka berdua perbincangkan.
"Ehm... Begini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Xin Chen berujar, menyodorkan artefak berupa kertas yang terbuat dari kulit binatang tersebut. "Apa kau dapat membaca isi pesan di dalamnya? Tampaknya ini tidak ditulis menggunakan bahasa manusia."
"Aku akan memberitahumu jika kau memiliki alasan, dari mana kau tahu itu bukan bahasa manusia?" Roh tersebut membalikkan pertanyaan, membuat anak kecil di depannya terlihat berpikir keras. Baru kali ini dia benar-benar menggunakan otaknya untuk berpikir serius. Selebihnya dulu yang sering dia lakukan hanya mengusili orang dan menangkap kumbang di hutan.
"Aku takkan memberitahumu dengan mudah, asal kau tahu. Kalau kau tak memiliki jawabannya lebih baik aku kembali tidur."
Detik satu hingga ke detik ke tiga berikutnya Xin Chen tetap tak memiliki alasan, dia ingin bertanya pada Rubah Petir karena siluman itu yang mengatakannya tadi. Tapi jelas rubah itu takkan memberitahu. Dia ingin Xin Chen mencarinya sendiri.
Rubah Petir menepuk pundaknya, "Dalam situasi perang kau akan dihadapkan pada situasi seperti ini. Kau harus memiliki satu kesimpulan untuk diberitahukan pada orang-orang yang bertarung bersamamu. Karena nyawa mereka bergantung di tanganmu sepenuhnya, keputusan yang salah hanya akan menjerumuskan nyawa mereka pada neraka."
Xin Chen meremas kertas tersebut, sampai-sampai matanya terpejam erat. Benar-benar mencari jawabannya, dia sadar otaknya memang tak sepintar Xin Zhan, tapi setidaknya dengan pertanyaan sesederhana ini dia harus bisa menjawab.
"Pertimbangkan semua itu dengan semua hal yang kau lihat, kau dengar, baca, dan rasakan."
Entah mengapa semenjak menjadi Guru Xin Chen, Rubah Petir merasa dirinya lebih sering mengomel. Di Hutan Kabut dulu dia merasa sangat pendiam atau bahkan tak pernah berbicara untuk waktu yang lama. Kehadiran Xin Chen seperti menambah warna tersendiri padanya.
"Dua detik lagi, aku akan kembali." Roh tersebut menguap lebar tentu dengan menutup menggunakan jari lentiknya.
"Ah, sudahlah jika tak mampu menjawab. Pikirkan besok hari saja saat pikiranmu sudah jernih."
"Apa manusia memiliki tulisan yang serapi ini? Setiap hurufnya sangat sejajar, meski terlihat seperti tulisan manusia tapi..." Xin Chen menelusuri lembar tersebut, mengangkatnya ke atas.
"Kalaupun ini dibuat dengan dengan setidaknya tintanya akan meresap ke dalam kertas, tapi ini seperti langsung terjadi saja."
__ADS_1
Rubah Petir menyunggingkan sedikit senyum. "Aku heran, kau ini termasuk bodoh atau pintar?"
Xin Chen menurunkan kertas tersebut, merasa ada yang salah dengan dirinya. "Apakah jawabanku salah?" Dia menatapi roh wanita tersebut, dibalas dengan gelengan kepala.
"Jawabanmu agak tepat, untuk alasan yang lebih benarnya seperti ini." Roh tersebut mengeluarkan kekuatan hitamnya, membuat tulisan-tulisan di atas kertas tersebut bergerak dan melayang di udara. Membentuk kata demi kata yang jika disimpulkan memiliki arti penting, meski tak mengatakan dengan jelas dan dipenuhi teka-teki
Xin Chen sendiri tak dapat menebak arti dalam tulisan tersebut, satu yang ditangkapnya adalah sebuah lambang burung Phoenix di atasnya. Hanya itu saja.
"Pesan rahasia ini hanya bisa dibaca oleh sesama kami, tampaknya temanku ini sudah terlalu putus asa. Kita harus menemuinya di Telaga Hijau,"
"Tidak, aku masih harus menemukan penawar racun di tubuh Zhan Gege. Lagipula untuk alasan apa aku harus pergi ke sana? Setahuku Telaga Hijau berada di perbatasan antara Kekaisaran Shang dan Kekaisaran Wei."
Xin Chen jelas menolak mentah-mentah usulan tersebut, selain karena dia harus tepat waktu mendapatkan penawar, menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya tanpa alasan yang jelas hanya akan menyia-nyiakan waktunya saja.
"Kau benar-benar tak menginginkannya? Baja Phoenix berada di sana, dia mengatakan ada sebuah patung yang akan menunjukkan kita ke tempatnya bersembunyi. Dengan petunjuk itu, kau dapat memiliki Baja Phoenix sebelum jatuh ke tangan orang yang salah."
Xin Chen mulai ragu-ragu, dia mendiamkan diri sejenak. Samar-samar bayangan saat Xu Ming dibunuh terlintas di kepalanya. "Guru... Apakah benda itu sama dengan yang dua orang berjubah itu bawa?"
"Tampaknya perebutan pusaka telah membuat Baja Phoenix terpecah, kau harus mengambil bagian ini sebelum mereka."
Xin Chen menopang dagunya, menganalisa semua hal yang terjadi. Untuk waktu itu otaknya benar-benar terpakai, dia menyambungkan semua petunjuk dan tiba pada satu tebakan.
"Mereka membunuh Paman penjual informasi itu pasti untuk Baja Phoenix ini. Mungkin ini hanya menjadi rencana kedua mereka, karena dua orang berjubah itu tak terlalu serius dalam melakukan pekerjaannya. Terbukti, mereka langsung pergi sebelum selesai menyalin semua informasi ke baja yang satunya lagi."
"Saat mereka menyadari artefak yang merupakan petunjuk utama mereka gagal didapatkan, kau bisa menebak apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?"
__ADS_1
Xin Chen mengangkat kepala, atensinya beralih di penghujung jalan sana. Benar saja kini rombongan pendekar berkuda mendatangi kota yang mereka singgahi.
Tak memikirkan hal lain lagi Xin Chen segera bergerak ke sisi belakang atap, membuatnya sulit ditemukan jika dilihat dari bawah. Para utusan pagoda tersebut bergerak menuju ke kediaman Walikota.
"Aku memiliki firasat buruk tentang ini," ujar Xin Chen ketika rombongan tersebut melewati rumah tempat mereka bersembunyi. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka menoleh ke belakang tepat ketika Xin Chen sedang berdiri.
Xin Chen kembali bersembunyi, di waktu yang hampir bersamaan pria berkuda itu melihat ke arahnya berdiri tadi. Merasakan hawa keberadaan seseorang sebelumnya tadi di sana.
Kecerobohan ini membuat Rubah Petir menyesal sempat memuji kepintarannya tadi, jelas saja anak itu masih sering bodoh dibandingkan pintar.
"Ck, aku juga memiliki firasat yang sama. Walikota ini menjadi kunci untuk mengetahui lokasi musuh kita. Untuk itu kita harus berjaga-jaga agar dia tidak terbunuh malam ini."
Xin Chen menganggukkan kepalanya mengerti, dia dan Rubah Petir meninggalkan tempat tersebut dan bergerak cepat ke tempat Walikota yang disebutkan Mei Lian tadi.
Tak berselang lama mereka tiba di sebuah bangunan besar bernuansa mewah, jelas itu adalah kediaman milik Walikota. Walaupun suasana di luar terbilang tenang, tapi ketenangan itulah yang justru mematikan.
Dari luar gerbang saja secara samar Xin Chen dapat mencium amis darah, perlahan-lahan dia dapat mengenali bau darah dengan mudah. Mungkin akibat pertarungannya akhir-akhir ini yang sangat berkaitan dengan darah. Membuat instingnya pun turut mengikuti apa yang dialaminya.
"Lama kelamaan kau akan terbiasa dengan pembunuhan, berdiri di depanku, kau harus berani bertarung meskipun tanpa diriku."
***
maaf bgt sebelumnya, maaf banget klo tata bahasa dan ceritanya jd rumit 😠otak author lg rumit sama tugas dan kejar deadline lainnya jd waktu yg biasanya dipake buat revisi dan rombak per bab cerita malah kepake buat hal lain:(
klo di bab ini ada tanda 📌 itu berarti bab ini akan direvisi setelah ceritanya tamat, trims atas pengertiannya teman2 sklian
__ADS_1
😢😢😢