Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 313 - Keakraban


__ADS_3

Malam hari tiba, tetapi pertarungan keduanya belum juga selesai. Baik Huo Rong atau pun Xin Chen sama sekali tak membuka celah pada musuh. Pertarungan yang telah melewati dua jam itu membuat Shui mengantuk, dia membakar ikan yang baru saja di tangkapnya. Selesai mengisi perut kedua orang itu belum juga selesai.


"Kau cukup tangguh juga, anak muda. Biasanya pengendali roh sepertimu tak mempedulikan soal ketahanan fisik dan ilmu berpedang. Menarik."


Entah kali ke berapa Huo Rong berbicara seperti dia sudah mencari informasi tentang dirinya, Xin Chen sempat mencurigai mengapa orang ini mengetahui rencana penyusupannya ditambah lagi Huo Rong memiliki kekuatan yang jarang dimiliki manusia biasa.


Hanya sepersekian detik Huo Rong melihat celah, Xin Chen mulai kehilangan keseimbangan. Kesempatan itu langsung disambutnya. Namun tak diduga Xin Chen justru menjebaknya dan menyepak kaki Huo Rong, membuat laki-laki itu jatuh dengan kedua lutut tertekuk di depannya.


Huo Rong terpaksa mengangkat wajah ke atas saat mata pedang Xin Chen berada tepat di bawah dagunya.


"Kau kalah."


"Tidak semudah itu-"


Pedang di tangan Huo Rong direbut begitu saja dan digunakan Xin Chen untuk mengunci pergerakannya. Bahunya ditendang hingga jatuh terbaring di atas tanah, sementara dua pedang di tangan Xin Chen menyilang di antara lehernya. Siap merenggut nyawanya kapan pun


"Kenapa kau tidak membunuhku?"


Huo Rong masih terlihat tenang, sama sekali tidak takut sekali pun Xin Chen benar-benar memenggal lehernya. Sementara itu Xin Chen memperhatikan Huo Rong lebih jelas lagi.


"Aku merasa tak perlu membunuhmu."


"Hm? JIka kau melepas pedang ini, justru kau yang akan terbunuh."


Xin Chen benar-benar melepas Huo Rong, laki-laki itu dibuat heran olehnya.


"Hei, sudah kubilang jika kau melepasku justru kau yang akan kubunuh."


"Kalau begitu coba lakukan."


Huo Rong menggeram tanpa sadar, dia benar-benar mendekat dan mengayunkan pedangnya pada Xin Chen, hanya tersisa seujung kuku lagi bilah tajam membelah lehernya tapi pemuda itu tak bergerak sama sekali. Membuat Huo Rong berhenti dan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau takut?"


"Membunuh orang yang menyerahkan diri adalah sesuatu yang memalukan bagiku."


Huo Rong memalingkan wajahnya, sama sekali tidak dapat membalas tatapan Xin Chen yang seolah-olah tengah membaca kebohongannya.


"Aku sudah menduganya dari awal." Kata itu keluar dari Xin Chen beberapa detik setelahnya, dan itu cukup membuat Huo Rong panas dingin.


"Menduga apanya?"


"Kau pastinya pahlawan yang tidak sanggup membunuh musuh yang tak berdaya."


Huo Rong menarik napas lega, alih-alih terlihat panik dia justru memasang sikap sombongnya. "Ck tentu saja, sebagai sosok yang dipercaya banyak manusia aku tak akan mungkin melukai mereka yang tak bersalah-"


Xin Chen memotong, "Bohong. Aku sebenarnya sudah tahu kau siapa."


Bahkan sebelum Xin Chen meneruskannya, Huo Rong sudah kembali berkeringat dingin. Xin Chen mendekat dengan tampang yang mengerikan.


Tepat sasaran.


Huo Rong tak tahu seperti apa isi kepala Xin Chen hingga dapat mengetahui hal itu dengan cepat. Padahal sejak dulu lagi, tak pernah ada satu pun manusia yang menyadari dirinya adalah sesosok Siluman Penguasa Bumi.


"Baiklah. Kau menang. Aku hanya ingin menguji dirimu saja. Tidak lebih dari itu." Huo Rong atau Salamender Api berjongkok di atas batang pohon yang sudah mati lalu duduk di atasnya, mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Sama seperti Shui, dengan wujud manusia mereka kehilangan begitu banyak kekuatan asli. Namun hanya beberapa siluman yang mampu menguasai perubahan wujud ini dan Rubah Petir tak termasuk ke dalamnya.


"Ku akui kau cukup pintar juga. Dari mana kau tahu ini aku sedangkan si Naga Air saja sampai tidak ingat siapa aku?"


Shui merasa terpanggil, dia sebenarnya sudah tertidur. Melihat pertarungan berhenti baru dia teringat untuk bangun.


"Ah, iya. Aku lupa bilang. Si orang aneh ini adalah Salamender Cicak itu. Hoamm ..."


Shui menguap lebar-lebar, dia tidak melihat Huo Rong tengah kebakaran jenggot di depannya.

__ADS_1


"Aku sudah mengetahuinya. Hanya saja aku membutuhkan bukti. Apalagi dia bilang bahwa dirinya adalah mantan Sepuluh Terkuat."


"Aku tidak berbohong soal itu." Huo Rong melipat kedua tangan di depan dada, karena suhu di sana begitu dingin, dia menciptakan sebuah api yang menerangi sekaligus menghangatkan sekitar mereka.


"Dulu sekali, aku pernah menjadi satu dari Sepuluh Terkuat. Sekitar seratus tahun yang lalu ... Mungkin ku habiskan hampir seribu tahun untuk membaur dengan para manusia. Hingga akhirnya keadaanku terancam dan aku kembali pada wujud siluman ini. Dan dipertemukan dengan orang itu ..."


Sampai di sana Huo Rong tak meneruskan kisah tersebut, membuat Xin Chen penasaran dengan siapa sebenarnya sosok 'orang itu' yang sedari tdi diungkitnya. Dia tampaknya begitu berharga, sampai-sampai kematiannya membuat Huo Rong sangat sedih.


"Aku turut berduka atas kepergiannya."


"Menurutmu dia orang yang bagaimana?"


Sesaat Xin Chen hanya mengangkat wajahnya, untuk beberapa saat membuka mata melihat Huo Rong yang menatapnya dengan penasaran.


"Dia orang yang bodoh."


Meski terdengar kejam, Huo Rong tidak dapat menyangkal apa yang dikatakan Xin Chen benar. Tidak hanya sampai di sana, dia meneruskan dengan melemparkan pandangannya pada langit malam yang dipenuhi gemerlap ribuan bintang.


"Dia orang yang tak akan ragu membuang nyawanya demi orang lain. Dia sangat baik, sampai-sampai musuh mengiranya selayaknya orang bodoh yang mudah dipermainkan. Padahal semua orang tahu, orang sepertinya memiliki keteguhan hati yang sekeras batu."


Sadar tak sadar Xin Chen justru menceritakan tentang sesosok yang mulai dirindukannya, sosok yang selalu menerangi jalannya yang gelap gulita, sosok yang menerimanya saat semua orang meludahinya. Dan dia adalah ayahnya, yang tetap mendukungnya saat semua orang berusaha menjatuhkannya.


"Kau mengenalnya seperti kau mengenal saudaramu sendiri."


"Tidak. Aku hanya sedang membicarakan tentang Ayahku."


Huo Rong mendekatkan duduknya, "Benarkah? Sepertinya aku tertarik padanya. Ceritakan padaku, cepat!"


Xin Chen mulai membahasnya dari semua hal-hal keren yang begitu membekas di ingatannya. Tak disangka, Huo Rong merasakan rasa takjub yang sama seperti yang mereka rasakan. Untuk satu hal ini saja, Shui rasa keduanya begitu akrab. Bahkan sampai membahas kegiatan di pagi hari Xin Fai. Shui sampai memikirkan bagaimana ekspresi laki-laki itu saat melihat dua sekutu ini. Pasti dia akan memasang tampang bodoh sambil menggaruk-garuk telinga.


Obrolan keduanya berlanjut hingga tengah malam tiba, saat itu Shui kembali mengantuk dan tertidur lelap. Sedangkan mereka berdua membahas hal-hal lain yang tampak menarik. Huo Rong tiba-tiba saja teringat dengan irama yang dimainkan Xin Chen lewat seruling tadi.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu tentang Senandung Air itu?"


__ADS_2