Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 250 - Neraka Terdalam


__ADS_3

"Kembali?"


"Aku sudah mengetahui siapa kau sebenarnya."


Singkat, tetapi kata-kata tersebut cukup membuat raut wajah Xin Chen sedikit berubah. Sempat terpikirkan olehnya bahwa Xin Zhan suudah menyadari itu dirinya. Entah dia mengenali Xin Chen lewat suara, yang jelas saat ini dirinya sedang ditatap begitu serius.


"Aura di sekitarmu sangat unik. Aku sudah merasakannya dua kali. Di Kota Renwu, Kota Fanlu ... dan terakhir di sini."


Xin Chen tak mau menjawab apa-apa, berbohong hanya akan membuatnya semakin dalam masalah.


"Sebenarnya untuk apa?" tanya Xin Zhan, nada bicaranya berubah lemah.


"Untuk apa kau melakukan ini semua?"


"Kau tak mengerti apa pun." Xin Chen menjawabnya, pelan namun pasti dia membuka mata agar bisa melihat rupa saudara kembarnya sedikit lebih lama. Wajah itu, telah menanggung banyak luka, sama sepertinya. Rasanya agak aneh baginya saat keduanya saling berdiri berhadapan seperti ini. Apa Xin Zhan telah mengetahui identitasnya, hanya itu yang terus memenuhi kepala Xin Chen.


"Jangan sangka aku tidak mengetahui alasan mengapa kau berada di sini." Xin Zhan maju selangkah. "Kau adalah Pengembara Qing-"


"Aku bukan Xin-"


Mereka berbicara bersamaan, Xin Zhan tak begitu mendengar tentang apa yang Xin Chen katakan tadi dan hanya bisa mengerutkan alis heran.


"Anda bilang apa tadi?"


"Tidak, lupakan. Lebih baik kau tidak mencari tahu apa pun tentangku dan mengaitkannya dengan hal-hal lain, itu membuatku muak."


Xin Zhan tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Terima kasih telah banyak menolong kami. Siapa pun anda, kami benar-benar senang anda berada di sisi kami."


Xin Zhan mengalihkan pandangan ke tempat lain, pandangannya menerawang jauh. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya detik itu, dia menatap sosok di sebelahnya yang sama sekali tidak tertarik membaca kegelisahan di wajahnya.

__ADS_1


"Ah, sepertinya tidak ada yang bisa kukatakan lagi. Maaf menahan anda sampai seperti ini."


Xin Chen berniat pergi saat itu juga, sebelum meninggalkan mereka dia sempat menoleh sekilas. "Jaga dirimu baik-baik sebelum perang tiba ..."


Dia melanjutkan dalam hati, 'Pastikan ibu baik-baik saja sebelum aku membawanya pulang ke rumah kita.'


Bayangan Xin Chen dan siluman hitam itu menghilang cepat, meninggalkan Lembah Para Dewa tanpa singgah lebih lama lagi. Tampaknya orang itu memang memiliki banyak hal yang harus diurusi. Xin Zhan menggenggam kembali gelang yang kini berada dalam genggaman tangannya. Terlihat yakin.


"Kita juga harus bergegas."


***


Tanpa diduga hujan terus datang hingga malam tiba, semakin deras sehingga membuat arus sungai deras dan meluap. Banjir di jalanan memenuhi segala tempat, termasuk halaman penginapan yang tampak sepi dikunjungi pelanggan. Terlihat seorang laki-laki paruh baya tengah menghabiskan teh hangatnya di dalam. Melihat seorang pemuda masuk dia tergopoh-gopoh bangun dan mengelap kedua telapak tangannya beberapa kali di baju.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Pesan satu kamar yang luas. Kalau bisa jangan ada barang."


"Itu justru buruk."


"Maksud anda?"


Xin Chen segera meletakkan sepuluh keping emas di atas meja, pria itu menatapnya sedikit enggan. Harga itu tak sesuai dengan harga kamar yang tak seberapa. Dia bbelum sempat menolak karena Xin Chen lebih dulu berkata, "Kamar luas tanpa apa pun di dalam. Bisa disiapkan?"


Laki-laki itu buru-buru keluar dari tempatnya dan menyuruh pelayan penginapan untuk segera mempersiapkan tempat seprti yang tamu mereka inginkan. Hanya butuh waktu setengah jam hingga laki-lai itu kembali dan mempersilakannya, "Mari saya antar ke kamar anda."


Xin Chen mengikutinya hingga mereka tiba di sebuah tempat. Masih terdapat satu meja di sana. Xin Chen menariknya ke luar dan diperhatikan sang pemilik penginapan dan dua gadis pelayan dengan mulut ternganga.


"Tu-tuan, biar kami saja!"

__ADS_1


Xin Chen hanya menatap pemilik penginapan dengan malas, hingga akhirnya semua selesai. Dia segera menutup pintu, detik itu juga Ye Long keluar dan ekornya mengibas ke sana kemari. Membuat kayu jendela retak oleh ekor yang keras tersebut. Xin Chen menarik napas saat terdengar sang pemilik penginapan menyahut keras-keras dari luar, terdengar panik.


"Apa di dalam baik-baik saja?!"


"Semua aman."


Di saat itu Ye Long menatap seluruh tempat, tampak sedikit kesal. "Lari ke mana semua barang-barang di sini?"


"Ekormu itu membuat uang-uangku berjatuhan, Kadal."


Ye Long ingin sekali menggigit lengan Xin Chen hanya saja dia tak bisa menyentuh majikannya yang kini tertidur dengan bersandar pada dinding. Dia menatap langit-langit kamar, tak peduli naga hitam itu tengah mengomel di depannya.


"Candaan paling lucu dalam dua puluh ribu tahun terakhir, kau membuat leluhur naga mati terjengkang, kau tahu. Ha ... Ha." Wajah Ye Long berbanding terbalik dengan kata-katanya, dia memasang wajah kesal. Tidak ada tempat tidur empuk atau kayu yang bisa digigitnya. Ye Long tidak mau tidur, dia terus berputar-putar di tengah ruangan.


"Saudaramu itu, dia tidak mengenalmu sama sekali?" Ye Long berhenti berputar, duduk tegap di depan majikannya yang berusaha untuk tidur. Hanya terdengar hembusan napas berat. "Dia bukan tidak mengenaliku," ucapnya pelan. Terdengar sedikit kesedihan setelahnya, "Mungkin lebih tepatnya melupakanku."


"Aku tidak bisa memikirkan isi otakmu bagaimana." Naga itu terlihat bimbang untuk meneruskan kalimatnya, "Memiliki saudara yang memiliki ikatan darah tetapi kau justru meninggalkannya. Kau masih memiliki ayah dan ibu."


Xin Chen membuka matanya, teringat akan sesuatu yang sejak dulu terus menjadi pertanyaan di benaknya. "Kau mempunyai ibu? Maksudku, naga betina yang menjadi orang tuamu?"


Ye Long mengalihkan perhatiannya, kelihatan agak terganggu dengan pertanyaan Xin Chen tadii. "Kakakmu itu, dia pasti kakak yang baik. Dan ibumu ... Saat perang sudah selesai, dia yang pertama kali mendatangiku. Di tengah kobaran api dia mencoba menyembuhkan luka di tubuhku."


Ye Long tak peduli Xin Chen akan menanggapinya seperti apa, dia hanya terus berbicara, "Hari itu aku pikir menyelamatkan manusia sepertinya lebih berarti daripada menyelamatkan orang tuaku seniri yang hanya menciptakan kesengsaraan untuk kalian. Dia sudah meninggalkanku sejak lama, dan salahku juga ..." Ye Long menahan kalimatnya, merasa uumurnya seolah-olah terbuang percuma selama ini. "Aku mengikuti jejanya dan berusaha mencarinya. Aku selalu berharap dia mau kembali denganku dan naga lain. Di tempat yang jauh dari manusia dan terbang tinggi, menembus langit. Kami akan selalu baik-baik saja."


Xin Chen menpuk kepala Ye Long. "Dia berharga untukmu, percaya padaku."


"Kau hanya menghiburku."


"Baik Pedang Iblis maupun Naga Kegelapan, meskipun mereka tersesat di neraka paling dalam. Kita akan menarik mereka kembali. Hanya satu masalahnya."

__ADS_1


"Apakah dia mau menerima uluran tanganku atau tidak?"


__ADS_2