
Yu Xiong memejamkan matanya sambil menembakkan anak panah ke sembarang arah. Karena terlalu panik anak muda itu kehilangan keseimbangan, tubuhnya jatuh ke depan menimpa. Panah di tangannya tertimpa hingga patah, Yu Xiong mengerang kesakitan. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, hanya keheningan yang terjadi.
Hingga akhirnya derap kaki di belakangnya mulai terdengar, perlahan-lahan mendekati Yu Xiong yang kini panas dingin. Dia tidak berani menggerakkan kepala, dia tahu saat itu kematian sudah ada di depan matanya. Karena bagaimanapun juga, panah yang dilemparkannya tadi meleset dan justru jatuh di bawah papan kayu Xin Chen.
Terdengar bunyi nyaring pedang dari arah belakang, Yu Xiong memejamkan mata erat-erat. Tangannya tanpa sadar terkepal. Dalam hati dia mulai menghitung mundur, menebak kapan kepalanya akan ditebas. Namun langkah kaki tersebut berlalu begitu saja. Meninggalkan Yu Xiong yang sudah ketakutan setengah mati.
Yu Xiong mulai memberanikan mengangkat wajahnya, demi bisa melihat prajurit tersebut berdiri di papan kayu miliknya. Dia berdiam di sana cukup lama, beberapa detik setelahnya terdengar suaranya yang berat.
"Apa kau tidak melakukan kecurangan?"
"Kecurangan—apa?" Dibuat heran, Yu Xiong bangkit dan mendekati laki-laki tersebut. Dia tidak berani mengatakan apa-apa saat melihat anak panah yang entah datang dari mana telah menancap di sana. Dia menoleh sedikit ke arah Xin Chen yang sudah meninggalkan arena. Tempat tersebut sudah begitu sepi, temaramnya sore telah berganti menjadi malam yang gelap.
"Aku tidak melakukan kecurangan. Bukankah kau berdiri di belakangku dan menyaksikan semuanya. Kau meragukan matamu sendiri?"
"Sangat tidak mungkin untuk menembakkan sasaran dengan posisi seperti tadi."
"Anggap saja keberuntungan seumur hidupku sudah terpakai hari ini."
"Hari sudah gelap. Kita harus bersiap-siap!"
Suara lain menyahut dari kejauhan, laki-laki itu memperhatikan Yu Xiong sekali lagi. Untuk kedua kalinya, dia menemukan orang yang memiliki keberuntungan besar. Termasuk laki-laki yang hanya memanah dengan sebelah tangan tadi.
"Kau boleh kembali ke asrama. Orang-orang di sana akan mengantarmu."
"Terima kasih!"
Yu Xiong berlari-lari kencang tak karuan, sampai orang-orang yang mengikutinya di belakang kehabisan napas.
__ADS_1
"Aku kembali!"
Yu Xiong membuka pintu asrama lebar-lebar dengan wajahnya yang riang gembira. Penjaga di depan asrama sampai harus menahan kekesalan karena anak muda itu asal menyerobot masuk.
"Semua yang lolos sudah memasuki kamar. Kalian bisa beristirahat. Bangunlah besok saat kalian mendengar-"
Pintu sudah lebih dulu ditutup, tak ada yang begitu memperhatikannya berbicara. Karena suara Yu Xiong membahana membuat gendang telinga pecah. "Aku laki-laki terakhir yang selamat!"
"Woah, kau selamat? Bagus, bagus. Padahal aku sudah menyiapkan kata-kata duka saat bertemu dengan ibumu."
Wei Feng menyeloteh tak peduli, Yu Xiong memasang wajah bodohnya sambil duduk di tempatnya.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa aku menembakkan anak panah saat jatuh tadi. Yang pasti itu sangat keren. Aku yakin malam ini aku tidak bisa tidur!"
"Jangan tidur. Tetap buka matamu." Xin Chen menimpali, Yu Xiong tertawa sambil memukul lengannya. "Hahaha aku hanya bercanda!"
"Tidak ada yang tidak mungkin, Kak Wei!"
Wei Feng sudah tahu bahkan tanpa ada yang menceritakannya. Sejak awal dia tahu Yu Xiong tak mungkin dapat selamat kecuali tanpa bantuan salah satu dari mereka. Dia tahu Xin Chen berpikir keras dari semalam, untuk menyelamatkan teman-temannya.
"Kurasa sampai di sini kami cantumkan hanya akan menambah beban pikiranmu saja." Wei Feng menyilang kakinya di atas lutut dan tertidur sambil menatap langit-langit. Dia menguap lebar. Xin Chen melirik ke arahnya, "Lain kali, kau harus melakukan hal yang sama untuknya, Yu Xiong."
Yu Xiong menunjuk dirinya sendiri, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Wei Feng sejak tadi. Matanya beralih ke tempat Xin Chen yang hanya diam, dia mempelajarinya sesaat dan menebak. "Kak Chen, apa kau sedang berpikir lagi?"
"Ya." Dia hanya membalas sekenanya. Yu Xiong merenungkan kejadian tadi. Memang bisa dikatakan aneh. Apalagi Xin Chen mengatakan momentum dan melakukan sesuatu yang konyol secara terburu-buru.
Yu Xiong teringat, di papan milik Xin Chen hanya ada dua panah tertancap. Dan satunya lagi tidak ada di sana.
__ADS_1
"Apakah satu dari anak panahmu ada di tempatku?"
"Itulah yang aku katakan dari tadi." Wei Feng menjawab lebih dulu, "Aku memang sempat tak terpikirkan di awal-awal, tapi saat masuk ke sini aku baru ingin memberitahukannya padamu. Tapi sudah terlambat."
"Dalam artian lain kau menembakkan ketiga anak panahmu sekaligus? Ini lebih keren, Kak Wei, kau bahkan kalah-"
"Aku tidak akan kalah dari kecambah sepertinya." Wei Feng berniat mengajak Xin Chen bercanda, tetapi wajah pemuda itu tampak tak begitu menyenangkan semenjak memasuki tempat ini. Wei Feng menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan ranjang sebelahnya.
"Ada masalah apa?" Dia berbisik kecil. Meskipun tidak terlalu perlu karena suara di sekitar mereka berisik sekali. Semua orang bercerita banyak tentang yang mereka alami, sampai ada yang memeragakan bagaimana orang-orang dibunuh oleh prajurit tersebut.
"Orang yang mengatakan mengawasi kita. Dia adalah salah satu pengguna roh."
"Aku tidak mengerti apa masalahnya. Tapi apakah itu berbahaya?" Xin Chen terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Sangat berbahaya."
Xin Chen belum bisa berhadapan dengan sesama pengguna roh, apalagi jika dihadapkan dengan sosok seperti Yuhao atau manusia lain yang memiliki ilmu mengendalikan pikiran seperti Salamender Api. Dia harus menemukan cara mengendalikan kekuatan ini. Dan kemungkinan terbesarnya adalah di Kekaisaran Qing dia akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan di kepalanya.
"Perlu dibunuh saja?"
"Aku mendengar dia adalah tangan kanan pemilik distrik ini. Dia tidak bisa disingkirkan begitu saja. Kemungkinan terburuknya kita semua akan terbunuh tanpa terkecuali saat dia mengungkap identitas kita."
Pantas saja Xin Chen terlihat begitu serius saat semua orang bersenang-senang merayakan kemenangan pertama mereka. Wei Feng menggaruk wajahnya yang tiba-tiba gatal. Dia hanya bisa diam tanpa kata-kata. Melihat Youji yang telah tidur karena kelelahan. Yu Xiong sendiri yang memiliki sifat mudah berbaur bercerita heboh dengan orang-orang lain.
"Aku tidur saja kalau begitu. Kita akan melihat perkembangannya. Jika ancamannya semakin menajam mungkin kita harus menarik diri dari sini."
"Tidak akan bisa." Xin Chen langsung menyangkalnya. "Mereka tahu cara memenjarakan penyusup bagaimana. Tidak ada gerbang utama di tempat ini. Serta dinding tembok yang sangat tinggi dan tidak mungkin dilewati. Kau hanya bisa meninggalkannya dengan melewati jalur bawah tanah. Dan kemungkinan kita bisa selamat hanya lima persen."
__ADS_1