Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 339 - Terpojokkan


__ADS_3

Tumpah darah di arena peperangan menjadi semakin parah oleh buasnya orang-orang yang saling berebut mangsa. Ada sama sekali belum membunuh dan hanya bisa bersembunyi menghindari keramaian. Namun saat Jenderal-18 mengumumkan peraturan baru tidak ada lagi yang berdiam diri, semua berubah seperti binatang yang kelaparan. Satu per satu nyawa melayang dan hanya menyisakan mayat yang tergeletak tak bernyawa di sepanjang arena.


Anak buah Yung Qi menjerit kencang sewaktu pergelangan tangan kirinya terpotong, dia berguling kesakitan di tanah. Wajahnya lebam sana-sini hingga rupanya tak dapat dikenali. Matanya yang membengkak tidak dapat melihat dengan jelas lagi apa yang hendak musuhnya lakukan sehingga dia hanya bisa merangkak ketakutan. Air mata berderai membasahi pipinya. "To-tolong ... Tolong aku ... Siapa pun ..." pintanya dengan suara serak, laki-laki itu kehilangan nyawanya tak lama kemudian. Dia tidur tertelungkup dengan tubuh tertikam pedang.


"Kak Youji! Kenapa kau-"


"Lari, Yu Xiong! Lari!"


Xin Chen mencabut pedang di tubuh orang itu sembari menengok ke sisi kirinya di mana Youji tumbang dengan banyak darah di tubuhnya. Di depan mereka seseorang tengah mengangkat pedang, kedua bola matanya dipenuhi kemarahan. Dia berteriak hingga suaranya dapat di dengar ke bangku para tamu.


"Matilah!"


Yu Xiong kali ini tidak ingin kejadian yang sama terulang, dia memaksa lututnya yang gemetaran hebat untuk bergerak dan melindungi Youji di belakangnya. Anak muda itu memejamkan mata, ketakutan setengah mati. Napasnya terdengar berantakan sama halnya seperti Youji yang panik ketika melihat Yu Xiong justru melindunginya.


Jeritan panjang terdengar setelah itu, Yu Xiong membuka sebelah matanya dan melihat Yung Qi terpental cukup jauh. Tidak ada siapa-siapa di sekitarnya namun Yu Xiong dapat melihat Xin Chen dari kejauhan. Dia baru saja melemparkan perisai yang mengenai Yung Qi tepat di bagian kepala.


"Apalagi masalahmu, hah?!" Yung Qi berteriak dibutakan oleh kebencian. Langkahnya sempoyongan ke kanan kiri sedangkan matanya terkunci di tempat Xin Chen yang melihatnya dengan tatapan yang tak kalah mengerikan.

__ADS_1


"Mata itu ... Berhenti melihatku seperti sampah!"


Yung Qi mengerang beberapa kali seperti orang yang dirasuki roh halus, laki-laki itu segera bangkit dan mengambil kembali pedangnya yang terlempar jauh. Kali ini dia terlihat berbeda dari sebelumnya, aura gelap menguasai tubuhnya yang dikelilingi oleh kekuatan besar. Yung Qi meludah dengan wajah menghina.


"Aku tidak sudi bersaing dengan orang sepertimu! Kau bukan bagian dari kami! Apakah semua orang di sini buta, dia adalah orang asing yang sengaja masuk ke sini untuk sebuah alasan! Siapa atasan di sini?! Siapa jenderal di sini?!"


Dia mengangkat kedua tangannya, pandangannya berputar ke segala arah mencari sosok yang dimaksudkan. Jenderal-18 belum mengambil tindakan apa-apa terhadapnya. Pengawal di sebelah Jenderal-18 membisikkan sesuatu padanya, laki-laki bernama Yung Qi melakukan perbuatan curang, dia menggunakan pil penambah kekuatan yang seharusnya dilarang saat mengikuti seleksi.


Jenderal-18 mengangkat sebelah tangannya pada pengawal, menyuruh mereka memperhatikan lebih dulu situasinya.


Semua pencahayaan menyoroti Yung Qi yang masih memprotes di tengah arena. Dia mendecakkan lidah, tidak terima dengan respon yang di dapatnya. Karena dirinya tidak memiliki bukti dan hanya sebuah dugaan. Lagipula prajurit utama Yan Xue mengatakan dia tahu siapa peserta bernama Zu Chen dan mengatakan orang itu adalah keturunan di perbatasan dua Kekaisaran.


Yung Qi mengeratkan pegangannya pada pedang, dia memasang sikap siap bertarung dengan gaya dari Klan Yung. Meski hanya sebuah klan yang terbuang tetapi keluarganya mewarisi teknik unik yang hanya diturunkan oleh anak-cucu mereka saja. Pil yang dimakannya mulai menunjukkan reaksi, tubuh laki-laki itu seperti dibakar oleh kekuatan dahsyat yang tak terduga. Dari semua orang yang tersisa di sana Yung Qi hanya menargetkan Xin Chen yang bersiap menerima serangan darinya.


Langkah kaki Yung Qi mulai bergerak cepat menuju Xin Chen, kedua senjata bertemu menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. Yung Qi berubah lebih beringas dari sebelumnya dan dari segi kekuatan pun dia jauh lebih unggul melawan Xin Chen.


Jenderal-18 tak mengambil tindakan apa pun karena berbuat curang dalam seleksi terakhir ini tidak termasuk ke dalam peraturan. Mereka hanya diberi komando untuk saling membunuh dan berhasil membunuh satu atau dua lawan untuk dianggap lolos. Bisik-bisik di bangku para tamu kembali terdengar, kini pertarungan dua orang di tengah arena menjadi pusat perhatian semua orang.

__ADS_1


Suara tangkisan pedang yang berasal dari Xin Chen seperti tiada habisnya berbunyi. Yung Qi mengayunkan pedangnya dengan teknik yang liar. Beberapa kali Yung Qi melancarkan serangan tipuan dan kembali menyerang dengan menargetkan bagian kepala atau dada. Laki-laki itu menyerang tanpa menarik napas, suara teriakannya di sepanjang pertarungan membuat penonton semakin seru menyaksikan duel dua orang tersebut.


"Pertarungan yang gila ...! Bagaimana bisa dia sebuas itu? Dan juga apa-apaan yang satu lagi, dia hanya bertahan seperti orang bodoh? Sungguh disayangkan, padahal aku yakin dia memiliki potensi yang besar untuk menjadi petarung terkuat di medan perang ini."


"Benar sekali, aku juga heran mengapa dia tidak membalas. Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakannya?"


"Kalian diamlah, memprotes di situ tidak akan merubah jalannya pertarungan juga."


Ketika Yung Qi berhasil memojokkan Xin Chen sorak-sorai mulai terdengar mendukungnya. Lantas saja Yung Qi menjadi lebih bersemangat dan mengeluarkan semua kekuatannya untuk membuktikan siapa pemenang di duel satu lawan satu ini. Sesekali matanya melirik ke arah Jenderal-18 yang terlihat tertarik kepadanya. Dia menginginkan pengakuan. Dengan begitu dia dapat memenangkan pertarungan dengan rasa hormat yang besar. Terlebih lagi jika Jenderal-18 mengangkatnya untuk menjadi salah satu bagian inti dari militer.


Melihat lawannya hanya bisa bertahan di tempat Yung Qi membelokkan serangan dan berhasil mengenai pipi Xin Chen. Dia tidak begitu menggubris mengapa ketika senjatanya menggores kulit lawannya tidak ada setitik pun darah keluar dari sana. Di tengah keramaian yang mengagungkan namanya, Yung Qi berada di puncak yang paling dinanti-nanti penonton.


Xin Chen telah berada di ujung arena. Jenderal-18 berdiri dan mengumumkan peraturan baru lagi.


"Siapa pun yang keluar dari arena dianggap gagal!"


Nama Yung Qi kembali diteriakkan. Di samping itu lima prajurit telah berjaga untuk mengawasi pertarungan mereka yang cukup menghibur tamu penting. Mereka menunggu satu dari orang itu keluar. Dari situasinya sepertinya Xin Chen bahkan tidak bisa menghentikan Yung Qi yang memiliki kekuatan lebih unggul daripadanya.

__ADS_1


Yung Qi menyunggingkan senyuman bengis. "Sampai jumpa di neraka."


__ADS_2