
Xin Chen hendak melaluinya tetapi Xin Zhan menahan, dia tidak ingin berlama-lama lagi di sana. Mengingat saudara kembarnya itu mungkin dapat mengenali suaranya. Ditambah lagi, jarak mereka hanya beberapa meter.
Ye Long mendesis pada Xin Zhan, di dalam dia sudah mendengar penjelasan dari majikannya tentang siapa yang mereka temui di gerbang depan. Keluarga. Meski Ye Long tak begitu paham dengan apa itu keluarga namun yang jelas Xin Chen tak begitu ingin bertemu dengan orang tersebut.
Lengan jubah Xin Zhan ditarik kencang oleh Ye Long, pemuda itu menepi dan menajamkan penglihatannya. Tampak seperti mengenali ekor hitam yang menjulur di tanah
"Aku seperti pernah melihatnya ..."
Xin Zhan tenggelam dalam pikirannya sendiri, benar. Dia tak salah mengingat bahwa dirinya sempat melihat siluman yang sama dengan mahkluk tersebut. Hanya saja dirinya tak bisa melihat tubuh makhluk itu sepenuhnya karena di tutupi oleh jubah.
"Jangan-jangan kau-!" Nada bicara Xin Zhan naik, dia tertegun saat mendapati mata pedang teracung di depannya.
"Kita selesaikan ini dengan cepat."
Hujan masih begitu deras saat Xin Chen menerima tawaran lawannya bertarung. Dia memberi isyarat pada Ye Long untuk segera pergi, dibandingkan pertarungan ini, dia lebih khawatir jika identitas Ye Long terungkap. Bukan tidak mungkin Kekaisaran juga akan menangkap Naga Hitam itu dikarenakan dia memiliki hubungan darah dengan Naga Kegelapan.
"Terima kasih. Aku tidak akan segan-segan untuk bertarung melawan Anda."
Xin Chen menatap pedang di tangan Xin Zhan yang mengilap terang, tampak begitu tajam terasah. Pusaka kelas atas yang disimpan baik-baik di dalam harta timbunan Kekaisaran. Dia tersenyum miris, melihat pedang di tangannya yang tak seberapa. Xin Chen tak begitu ingat tentang apa yang terjadi pada Pedang Baja Phoenix.
Namun yang pasti semenjak perang itu, Xin Chen telah mencari pusaka langit itu ke mana-mana dan tak pernah menemukannya. Hanya ada dua kemungkinan, dicuri atau telah dihancurkan oleh Qiang Jun.
"Tuan Muda Xin pertama, kau yakin-?!" Dua pengawal tersebut bimbang dan resah di waktu bersamaan, tak yakin Tuan Muda mereka itu dapat menang melawan musuh yang cukup berbahaya. Mereka berbisik membujuk Xin Zhan mempertimbangkan kembali keputusannya.
"Memenangkan pertarungan ini adalah hal yang sulit untuk dilakukan, Tuan Muda."
"Ya, terlalu sulit untuk kalah. Mundur. Aku akan menanganinya dengan cepat."
"Lalu bagaimana jika Tuan Muda kalah?"
__ADS_1
"Aku akan mengurus sisanya."
Kedua petarung saling bertatapan, bahkan tak ada satu pun yang berbicara di saat-saat tersebut. Xin Zhan menajamkan keseluruhan inderanya. Meningkatkan ketajamannya dalam aliran pedang iblis. Pemuda itu tampak begitu serius dengan pemusatan fokusnya. Dalam beberapa detik kemudian, bunga api tercipta akibat hentakan pedang yang begitu berat.
Xin Zhan memulai pertarungan dengan serangan yang sangat kuat, cukup membuat lawannya terkesiap saat menyadari seberapa kuatnya anak pertama dari Pedang Iblis itu.
'Kau berlatih lebih keras dari siapa pun.' batin Xin Chen yang terus-menerus menangkis serangan pedang Xin Zhan, ayunan pedangnya nyaris sempurna dan tak membuka celah. Dan juga langkahnya yang hati-hati takkan mudah digoyahkan.
Satu tebasan lurus nyaris menyentuh tubuh Xin Chen, tetapi dia tetap tak tersentuh mau bagaimana pun Xin Zhan menyerangnya. Pertarungan terjadi selama hampir sepuluh menit dan Xin Chen tak menunjukkan tanda-tanda hendak menyerang.
Xin Zhan sempat merasa tersinggung, dia tidak selemah yang lawannya pikirkan. Dengan itu berbagai jurus andalan di keluarkannya dan salah satu berhasil mengenai pedang lawan. Xin Zhan mulai mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.
"Kau takkan bisa menang tanpa menggunakan senjatamu."
"Kau sudah tahu sejak awal."
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
Xin Chen mengulang kembali kata-kata yang diucapkannya beberapa jam lalu.
"Kami tidak akan mengusik siapa pun di Kekaisaran ini dan tidak akan menjalin kerja sama apa pun dengan kalian. Jika kami melakukannya maka aku yang pertama kali akan memotong lidahku." Xin Chen memasukkan kembali pedangnya. Menarik napas hingga kedua bahunya terangkat.
"Bukan berarti aku menyetujui permintaan Kaisar Qin. Hanya saja kami tidak punya alasan untuk menyerang kubu sendiri."
Terlihat orang-orang di belakang Xin Zhan takjub, itu artinya memang benar bahwa Empat Unit Pengintai saat ini berpihak pada Kekaisaran Shang. Itu adalah kabar baik yang benar-benar akan menenangkan Kaisar Qin dan juga para masyarakat. Mereka tak sabar ingin kembali dan menyampaikannya secepat mungkin.
"Lalu ... Dengan misi rahasia itu, apakah anda menyetujuinya. Kekaisaran benar-benar membutuhkan bantuan anda. Kami harus mengembalikan Pilar Pertama sebelum perjanjian berdarah habis dan Kekaisaran Qing menyerbu tanah ini dengan ratusan ribu prajurit mereka."
"Kapan perjanjian itu akan berakhir?"
__ADS_1
Xin Zhan agak menahan ucapannya, dia terlihat putus asa sebelum menjawab pertanyaan Xin Chen.
"Dalam satu tahun, sebelum Api Keabadian membakar seluruh Kota Renwu dan daratan di sana menyatu bersama lautan serta menghancurkan apa pun di sekitarnya. Kami sebenarnya tak memiliki banyak waktu lagi dan dengan diberhentikannya Tuan Lan An dari jabatannya ... Saya, selaku anak tertua klan Xin tidak bisa tinggal diam-!"
Xin Zhan sedikit bergumam saat itu, secara tak sadar. "Andai adikku masih ada di sini. Kami bisa menghadapinya berdua. Dan aku tak akan setakut ini."
"Kalian menginjakkan kaki di tempatku, seharusnya mengikuti aturan ku, bukan begitu?"
Keduanya saling berhadapan dengan serius. "Berikan aku informasi tentang pemilik kalung ini. Jika kalian berhasil menemukannya selagi aku memperbesar kelompok Empat Unit Pengintai ini. Kami hanya membutuhkan waktu untuk menentukan posisi di mana orang itu berada dan menyerangnya."
"Benarkah? Tapi tak mungkin semudah itu?"
Xin Zhan selalu mengatakan itu jika mendengar sesuatu yang tak mungkin dilakukan. Dan raut wajah menentangnya pun tak pernah berubah.
Di saat itu Xin Chen sampai tak habis pikir, apa yang akan dilakukan Xin Zhan jika mendengar dirinya hendak menyatukan tiga kekaisaran.
"Tidak akan semudah itu. Lalu, kau hendak percaya pada siapa lagi di Kekaisaran ini? Pahlawanmu bukan orang-orang yang bisa diandalkan, bukan? Sampai datang jauh-jauh kemari untuk membujukku?"
Xin Zhan sepintas tersenyum, "Terima kasih sudah berbaik hati. Aku akan segera menyampaikan ini pada Kaisar Qin. Dan kalung ini ... Kami pasti akan mencari siapa pemiliknya. Namun untuk apa? Apakah ada sesuatu yang hendak anda telusuri?"
"Aku tidak bisa menjawab lebih. Tapi aku butuh informasi tentangnya. Apa pun itu, terlebih tentang lokasi keberadaannya."
Mereka berbincang-bincang agak lama, hujan deras berganti menjadi gerimis kecil hingga sampai pada satu kesepakatan. Xin Zhan menyimpan kalung emas itu baik-baik.
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih. Kaisar Qin pasti sangat menanti kedatangan anda ke Kota Fanlu kembali."
"Kembali?"
Xin Zhan tiba-tiba membungkukkan badan, membuat sosok di depannya tertegun.
__ADS_1