Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 262 - Tatap Temu


__ADS_3

Ledakan demi ledakan terjadi menyapu seluruh jebakan yang sudah dipersiapkan untuk kedatangan penyusup. Hal itu memancing perhatian orang-orang YuangXe hingga mereka repot-repot turun dari tanahnya untuk menengok apa yang terjadi. Namun meski pun demikian, hanya satu orang yang diutus untuk menengok apa yang terjadi di luar batas tanah.


Dia yakin betul kekacauan tadi telah membunuh sang pelaku keributan, langkah kakinya yang panjang dengan cepat menyusul ke mana terakhir kali sumber suara gaduh terdengar. Tak berapa jauh dari tempatnya, pemuda itu berhenti dengan tatapan nyaris tak percaya.


Pemuda itu memiliki tinggi yang bisa dibilang bisa melewati pintu rumah pada umumnya. Kaki tak memakai alas apa-apa dan memakai baju berbulu tebal hingga menutup sampai ke bawah lutut. Dia hanya membawa golok besar yang biasa digunakan untuk memotong tubuh binatang.


Dari dalam sayap naga itu seseorang muncul ketika sang siluman melepaskannya. Dia menjitak kepala peliharaannya dengan wajah sedikit kesal. Menatap ke arah depan di mana dia sudah menyadari sejak tadi bahwa seseorang dari YuangXe akhirnya memunculkan diri.


"Siapa kau?" tanya Xin Chen membuka percakapan. Yang ditanya hanya memasang wajah tak bersahabat sekaligus beringas, seolah-olah dia bisa saja menyerang detik itu juga.


"Seharusnya aku yang bertanya demikian."


Ye Long menggelengkan kepala cepat, dia tak bisa melihat sama sekali. Ledakan dan serangan yang tadi mengenai tubuhnya perlahan pulih, Api Keabadian milik Xin Chen sempat melindunginya dari tikaman senjata dan ledakan yang seharusnya bisa saja membunuh Ye Long.


Naga itu hanya bereaksi mengikuti instingnya, dia tak berpikir apakah hal itu akan membunuhnya apa tidak dan Ye Long hanya berpikir untuk menyelamatkan majikannya terlebih dahulu. Saat dapat duduk tegak, naga hitam itu memicing dan menggeram saat mendapati manusia asing tengah menatapnya rinci. Manusia itu miliki ciri-ciri yang sangat berbeda dari tuannya.


"Jadi, dia naga terakhir yang paling kecil itu?"


"Terakhir?"

__ADS_1


Pemuda itu menunjuk Ye Long dengan senyum miring, entah untuk sombong atau mengejek. Xin Chen tak dapat membedakannya.


"Naga yang dilahirkan paling terakhir di dunia manusia, mungkin?"


Daripada membahas Ye Long, Xin Chen justru mengubah alur pembicaraan.


"Kau orang-orang YuangXe?"


"Hm? Jika benar, mengapa? Kau takut? Sudah terlambat untuk gentar sekarang. Sudah lihat sendiri bagaimana mengerikannya luar wilayah tanah kami? Baru di depan gerbang saja kalian sudah sekarat. Belum lagi masuk ke dalam. Mau dengar saranku?" Dia mengejek terang-terangan. "Sebaiknya kau kembali ke tempatmu atau kemalangan akan menimpa kalian berdua. Aku tak peduli tentangmu, tapi nyawa naga terakhir ini adalah permasalahannya. Pemimpin kami takkan peduli soal naga atau apa pun yang berharga. Injak tanah kami, maka kau akan mati."


"Oh, ancaman yang menakutkan." Xin Chen berkata datar, tak menunjukkan wajah takutnya. "Sayangnya aku datang bukan untuk ditakut-takuti oleh manusia tiang sepertimu." Sorot mata pemuda YuangXe berubah dingin saat mendengar ucapan Xin Chen.


"Kau menantangku?"


"Kau dan nagamu, majulah. Biar kukasih pemahaman soal tanah ini padamu-"


Pemuda YuangXe bergeming sesaat, keningnya berkerut dalam hingga berlapis-lapis. Dia meletakkan goloknya ke tempat semula kemudian berlari cepat menuju tanah YuangXe tanpa mengatakan apa-apa.


Tentu saja Xin Chen dan Ye Long saling menatap, hendak mengejar pemuda YuangXe itu tetapi derap langkah kaki terdengar beramai-ramai di sekitar mereka. Ye Long kembali ke tubuh majikannya sementara Xin Chen menyembunyikan wujudnya.

__ADS_1


Hancurnya jebakan yang dibuat orang YuangXe oleh perbuatan Ye Long ternyata menjadi hal yang menguntungkan bagi pemburu lain. Tak bisa dipungkiri detik itu terjadi pergerakan yang sangat banyak, Xin Chen dapat mendengarnya dari ranting-ranting di tanah yang dipijak ataupun bunyi semak belukar yang berisik. Semua pendekar keluar dari persembunyiannya dan mulai melakukan pencarian jalan masuk menuju YuangXe.


Terjadi pertarungan sengit di tengah belantara itu, sekelompok siluman berkelahi dengan manusia. Beberapa siluman tewas sementara hanya dua manusia meninggal. Darah di tanah yang melindungi bagian luar YuangXe telah mengering. Tampaknya dalam tiga bulan terakhir memang telah terjadi pertarungan yang mengakibatkan kematian pendekar dalam jumlah banyak di hutan belantara tersebut. Itu artinya, perburuan Armor Dewa Perang telah dimulai sejak lama dan baru didengar satu atau dua bulan ini.


Dengan wujud roh tersebut seharusnya Xin Chen dapat bergerak bebas tanpa takut tertangkap basah atau terkena jebakan. Dia berinisiatif mencari petunjuk terlebih dahulu sebelum memasuki tanah YuangXe.


Tanah YuangXe dikenal sebagai Tanah Kehormatan karena Kaisar sendiri yang menamainya. Untuk menunjukkan rasa simpati pada orang-orang tak bertanah seperti suku tersebut. Diberikan dengan kedermawanan dan segenap ketulusan, membuat tanah itu memiliki arti besar di hati orang YuangXe.


Sayang saja, Kaisar yang memberikan mereka tanah telah tiada dan Kaisar yang memimpin Kekaisaran Shang setelahnya tak seperti pemimpin di masa lalu. Bahkan hampir jarang terjadi interaksi dengan kaisar. Seandainya Kaisar Qin mau, pimpinan YuangXe akan dengan senang hati menerimanya sebagai tamu dengan syarat tak boleh membawa lebih dari lima pengawal demi menjaga rahasia di tanah mereka.


Namun Kaisar Qin tentu akan berpikir sepuluh kali sebelum menginjakkan kaki di sana. Dia sudah mendengar dari penasihat Kekaisaran bahwa tanah YuangXe dibuat dengan ratusan jebakan yang akan bertambah setiap harinya. Hanya satu orang yang membuat perangkap itu, selama bertahun-tahun dengan otaknya yang terasah dia mampu membunuh ratusan pendekar tanpa mengotori tangannya.


Memang benar adanya, terdapat banyak kawasan tak tersentuh yang lalai dari pengawasan pemerintah. Termasuk Lembah Para Dewa yang sempat dikuasai oleh Empat Unit Pengintai, tetapi untuk tanah YuangXe, memang wilayah itu adalah pinjaman yang diberikan pada mereka.


Dan tak pernah tertulis sampai kapan kesepakatan itu berakhir. Untuk itu, jika seandainya saja terjadi pergerakan yang tidak menguntungkan bagi Kekaisaran maka orang-orang YuangXe dengan terpaksa akan diusir dari sana.


Xin Chen mengikuti aliran arus sungai di mana dia yakin setidaknya ada satu atau dua manusia yang akan bersinggah di sana untuk meminum air. Di pikirannya hanya tentang Hantu dari YuangXe yang harus dia waspadai sebelum memasuki YuangXe sendiri. Jika saja bisa membunuh orang tersebut, Xin Chen yakin memasuki tanah YuangXe bukan hal yang sulit lagi.


Akan tetapi, saat sedang fokus dengan pencariannya terhadap keberadaan dari Hantu dari YuangXe, Xin Chen justru menemukan sesosok gadis yang tampak tak asing di matanya. Gadis itu memakai zirah besi serta pengikat kepala merah di kepalanya. Tampak jauh lebih kuat dari tujuh tahun yang lalu di mana terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


"Si Gorila Betina rupanya datang ke sini."


Gadis itu merinding sepersekian detik dan melotot demi bisa melihat siapa yang tadi berbicara di belakangnya.


__ADS_2