
Shui bangun dari tempat duduknya, sementara Xin Chen menyingkirkan tangan Bai Huang. Tidak terganggu sama sekali dengan sikap pria itu. Istri Bai Huang segera pergi sambil membawa dua anaknya ke dalam, tak berani mencampuri urusan suaminya.
Mata Bai Huang terkunci ke arah Xin Chen. "Apa tujuanmu kemari?"
"Mengajak anda kembali turun ke medan perang. Untuk kembali memperjuangkan kekaisaran ini."
Bai Huang tertawa sinis, di sisi lain terluka oleh masa lalunya sebagai si Nomor Tiga. "Apa katamu? Kau pasti orang suruhan kekaisaran, bukan? Sekarang, saat keadaan mulai kacau baru kalian mengemis padaku? Saat aku berjuang mati-matian demi tanah ini, apa yang kalian lakukan, hah?! Mempercayai hasutan pilar lain dan menjatuhkan harga diriku ..." Bai Huang menggeram, kedua tangannya terkepal erat.
"Kalian membuang orang-orang yang setia pada kekaisaran ini dan memasukkan para penjilat itu, kalian akan hancur. Ingat sumpahku di depan patung kesepuluh pilar!"
Amarah Bai Huang tak meredam barang sedikit pun, dia ingin menghardik lebih banyak lagi tapi wajah tak terganggu Xin Chen mengganggu hatinya.
"Mengapa kau datang kemari?"
Xin Chen melepas penutup kepalanya, membuka mata dan detik itu membuat Bai Huang terkejut tak main-main. Dia tentu saja mengenal siapa pemuda itu, wajah yang sama dengan sang pendekar legendaris adalah wajah yang takkan pernah dilupakannya seumur hidup.
"Kau-?"
"Sayangnya sembilan patung pilar sudah kehilangan kepalanya. Kupikir akan bagus juga jika orangnya langsung yang dipenggal. Bukan begitu?"
"Tu-tuan Muda Xin kedua-!" Jantung Bai Huang berpacu cepat, dia menjatuhkan kedua lututnya dan bersimpuh ampun. Tak menyangka akan didatangi seperti ini. Matanya tidak salah lihat, tidak mungkin Bai Huang salah orang.
Mengingat perlakuannya tadi terhadap Xin Chen, Bai Huang rasanya ingin sekali membakar mukanya. "Maafkan saya!"
"Nah, sekarang kau panik. Aku heran kenapa semua orang yang menemuiku pasti terkejut. Aku bukan sejenis hantu yang menggigit, apa yang perlu kalian takutkan?"
__ADS_1
"Saya hanya ..." Bai Huang kehabisan kata-kata, dia lebih memilih memandang rupa Xin Chen. "Mata Anda, mengapa bisa begitu, Tuan Muda?"
Xin Cheen menyentuh matanya, "Aku adalah bagian dari banyak hal." Dia tersenyum, "Kami datang ke sini untuk mengajak anda berperang kembali. Bukan pada orang lain, tapi bertarung untuk kita sendiri."
Shui menimbrungi. "Hanya ada dua pilihan, menjadi petani selamanya dan melihat orang lain terbunuh, atau bertarung untuk melindungi mereka semua."
Bai Huang terlihat tak yakin. "Saya sudah menyerah. Keinginan untuk melindungi rakyat di sini sudah lama saya kburu dalam-dalam. Semenjak saya dipermalukan oleh keparat penjilat Kaisar itu."
"Apa yang mereka lakukan padamu?"
Kepala Bai Huang menggeleng lemah, matanya dipenuhi oleh luka yang dalam. Menjadi bagian dari Pilar Kekaisaran adalah kehormatan dan kehancuran bagi dirinya. "Anda pasti tidak ingin mendengarnya."
"Ceritakanlah, tidak akan ada yang menghukummu. Mereka akan kuhabisi dengan hukumku sendiri," tegas Xin Chen serius. Bai Huang memerhatikan dalam-dalam mata biru itu. Begitu kuat dan berwibawa, entah mengapa dia melihat sosok Pedang Iblis di dalamnya.
"Saya memiliki masalah dengan keluarga bangsawan Jiang, anda tahu benar mereka menguasai politik kekaisaran ini sehingga satu anggota keluarga mereka menduduki kursi kelima Kekaisaran Shang."
Bai Huang tak mengerti, mengapa keluarga itu tiba-tiba menyerangnya. "Suatu hari terjadi penyerangan besar-besaran di kediaman utama mereka. Anehnya tidak ada yang tewas selain prajurit. Keluarga mereka tidak ada yang terbunuh. Ada saksi yang mengatakan bahwa mereka melihat adikku yang melakukan penyerangan itu, padahal dia bahkan sedang tidak di Kota Fanlu."
"Lalu mereka mendapatkan potongan bajuku yang entah bagaimana bisa koyak di sana, aku jarang datang ke rumah itu kecuali untuk kepentingan khusus. Mereka semakin memperumit masalah, mereka berhasil meyakinkan kaisar dengan saksi dan bukti yang ada."
"Mereka benar-benar licik ..." Shui terkesima sendiri, sisi picik manusia memang patut diacungi jempol.
"Saya juga berpikir demikian, saya dijatuhi hukuman tanpa ada yang mau membela. Orang itu berhasil menghasut rakyat sehingga kabar yaang beredar juga tak jauh beda dengan apa yang didengar Kaisar Qin. Padahal Kaisar tahu saya sudah mengabdi puluhan tahun padanya, pantang untuk mengkhianati kepercayaannya apalagi hanya untuk menyingkirkan Pilar Kekaisaran kelima, tidak ada gunanya bagi saya."
"Mengenai hukuman itu?" tanya Xin Chen.
__ADS_1
Kali ini Bai Huang agak ragu, dia terdiam. Masa lalu itu mengurrung pikirannya, rasanya sulit untuk melupakan itu semua.
"Maaf, aku tak bermaksud mengusikmu."
"Tidak, Tuan Muda. Hukuman itu, saya diarak dengan kuda mengelilingi kota, setengah telanjang dan punggung saya dituliskan kata pembunuh menggunakan logam panas. Sampai sekarang masih berbekas." Bai Huang mengangkat bajunya dan memperlihatkan belakang badannya. Tulisan itu, mungkin bekasnya sudah tak menyakitkan namun apa yang dirasakan Bai Huang takkan pernah hilang.
"Rakyat sudah tak mempercayai saya, saya terlalu pengecut untuk membela diri. Seandainya Tuan Xin Fai ada di sini, saya selalu berpikir begitu. Dia selalu membela saya, karena saya tidak sudi berbohong. Saya berani memotong lidah, tapi tidak ada yang mau mendengarkan."
Bai Huang mengakhiri ceritanya, "Tidak ada yang bisa tuan harapkan dari pilar yang sudah dirobohkan. Saya sudah dibuat hancur luar-dalam. Maaf, saya tidak mengikuti tuan. Ada keluarga yang harus saya jaga di sini. Sekali lagi, maaf tuanku." Bai Huang bersujud, menempelkan dahinya di lantai bersungguh-sungguh.
Xin Chen memperhatikan pahlawan yang malang itu, sungguh kejam dia diperlakukan oleh rekannya sendiri. Tidak terbayangkan bagaimana Lan An yang saat ini berdiri sendirian di antara para bangsawan licik itu. Xin Chen mulai memahaminya, ini semua sudah terlalu kelewatan.
"Semoga luka Anda lekas sembuh. Beristirahatlah, jika anda berubah pikiran bertamulah ke selatan, Lembaha Para Dewa telah berhasil kami ambil alih. Kami akan membangun sesuatu yang hancur di Kekaisaran ini. Orang-orang jujur sepertimu pantas dihormati, jangan merasa sungkan."
"Baik, Tuan Muda. Anda sangat murah hati."
Xin Chen mengangguk, Bai Huang setengah berlari untuk mengambil kembali pedang yang sempat dilemparkannya ke luar rumah. Dia menyerahkannya dengan kedua tangan sambil menunduk. "Maafkan saya atas perlakuan saya tadi."
Xin Chen tersenyum tipis, melihat ke pintu rumah di mana Bai Luo mengintip mereka, "Tolong didik Bai Luo seperti kau mengajar murid Lembah Kabut Putih dulu. Dia memiliki keinginan kuat, dia orang yang kita butuhkan di masa depan nanti."
Mata Bai Huang berkaca-kaca, tetapi dia berusaha untuk menutupinya. bagi Bai Huang keluarganya adalah segala-galanya. Dia takut akan kehilangan anaknya itu.
Tetapi jika Xin Chen berkata demikian, Bai Huang ingin melihat anaknya suatu saat nanti menjadi sosok yang sama dengan pemuda itu.
"Pastinya Tuan Muda. Hati-hati di jalan."
__ADS_1