Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Dengan syarat


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Ku hentikan langkah kaki ku, mata ku menyorot tajam pak Dedi dengan bibir mengerucut, masih berani dia bertanya apa aku bersenang senang? Bos mu tuh yang bersenang senang dengan wanita lain.


Pak Dedi menundukkan kepalanya, "Maaf jika saya salah bicara, Nona!" Sepertinya saya ini benar benar salah bertanya pada Nona Naira, saya harus menanyakan ini langsung pada Haikal.


Naira masuk ke dalam lift, di saat pak Dedi hendak melangkah untuk ikut serta masuk ke dalam lift, aku melarangnya.


Srek.


Dengan wajah yang murung, ku rebut tas ku yang ada di tangannya, "Aku bisa naik ke atas sendiri!"


"Kalo begitu biar saya suruh koki untuk menyiapkan makan malam untuk, Nona!"


Nafsuuu makan ku sudah hancur lebur, "Tidak perlu, pak! Aku tidak lapar." Ku tekan tombol tutup pada lift.


Pak Dedi berjalan ke arah paviliun, bangunan yang berada di sisi kanan rumah utama, tempat para penjaga dan pengawal beristirahat.


Pak Dedi melihat Haikal dan Dega yang tengah duduk di sofa berkumpul dengan para penjaga lain yang sedang beristirahat.


"Haikal, Dega!" Seru pak Dedi saat sudah berdiri di belakang ke duanya.


Haikal dan Dega menoleh ke arah suara yang memanggil mereka.


"Ada apa, pak?" Tanya Haikal.


"Kalian seharian ini selalu bersama dengan Nona Muda kan?" Tanya pak Dedi.


"Iya, terus kenapa pak?" Dega yg bertanya.


"Apa kalian tidak memperhatikan Nona Muda? Apa saja yang terjadi di luar? Kenapa wajah Nona Muda tampak murung?" Pak Dedi mencecar ke duanya.


"Dari pulang sekolah, Nona hanya berada di dalam kedei pak... tidak ada yang terjadi selama Nona di kedei, tampak biasa saja saat bersama dengan teman temannya." Ujar Haikal panjang lebar.


Dega pun ikut bicara, "Selama perjalanan pulang, Nona memang sudah murung pak."


"Apa kalian sempat lihat Nona Muda sudah makan malam?" Tanya Dedi lagi.


Haikal dan Dega saling pandang lalu menggelengkan kepala bersamaan.


"Kami tidak melihat Nona Muda sudah makan dari pulang sekolah, apa lagi makan malam, pak!" Seru Dega.


Tadi saat mengantarkan piring dan gelas, sepertinya aku hanya melihat satu cup ice cappucino di atas meja itu pun isinya tinggal setengah cup, "Saya hanya melihat Nona meminum satu cap ice cappucino tadi di kedei."


"Ya sudah kalo begitu, lanjutkan istirahat kalian." Pak Dedi kembali lagi ke rumah utama dengan menghubungi Dev.


Saat sambungan telepon tersambung.


"Sepertinya terjadi sesuatu dengan Nona Muda, apa kau bisa menyampaikannya pada Tuan Pram?"


"Akan aku sampaikan pada Tuan!" Seru pak Dev dari sebrang sana yang lantas sambungan teleponnya berakhir.

__ADS_1


Pak Dedi langsung menaiki anak tangga, menuju kamar Tuannya.


Bisa gawat ini jika sampai terjadi sesuatu pada Nona. Langkah kaki pak Dedi menaiki anak tangga dengan tergesa gesa, ada rasa takut yang menyeruak di wajahnya, tau gitu, saya tidak mungkin membiarkan Nona sendirian.


Tok tok tok.


"Nona, tolong buka pintunya Nona!" Seru pak Dedi yang mengetok pintu kamar Tuannya.


Ceklek.


Tampak wajah ku yang terlihat ceria, "Kebetulan bapak datang."


Ada apa ini? Tadi Nona Muda tampak murung dan sekarang sudah kembali ceria lagi?


"Eh iya Nona, apa Nona membutuhkan sesuatu? Atau Nona mau di siapkan makan malam? Nona mau makan apa? Biar nanti koki akan masakan untuk Nona!" Pak Dedi berbicara tanpa henti.


Tangan kiri ku bersandar di pintu dengan tangan kanan berada di pinggang, "Kapan saya ngomongnya kalo bapak terus bertanya?" Bibir ku mengerucut sebel.


"Maaf Nona, saya hanya senang saat melihat Nona kembali ceria lagi!" Pak Dedi menundukkan kepalanya.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin gak nih ka Pram sudah pulang?


"Apa Nona mencari, Tuan?" Tanya Pak Dedi.


Aku langsung menganggukkan kepala ku, "Apa ka Pram sudah kembali, pak?"


"Kemungkinan Tuan malam ini tidak akan pulang, Nona."


"Apa? Tidak pulang? Terus ka Pram kapan pulangnya, pak?" Gagal dong rencana ku buat kasih pelajaran buat si rubah mesum itu.


Kasihan sekali Nona Naira, tampak kecewa saat aku bilang Tuan Pram tidak akan pulang malam ini.


"Biasanya jika ada opening hotel atau ada acara penting, Tuan baru akan kembali esok malam, Nona!" Aku tidak tega untuk memberi tahu Nona, tapi dari pada Nona semakin kecewa dan berharap kepulangan Tuan lebih baik kan jika Nona tahu yang sebenarnya, biar Nona tidak berharap.


"Oooh gitu ya." Aku harus bersabar untuk memberikan pelajaran buat ka Pram, hihihi akan ku tunggu kau pulang ka Pram.


"Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk Nona?"


Tangan kanan ku menadah pada pak Dedi, mata ku mengarah pada kunci pintu, "Aku mau pak Dedi berikan kunci kamar ini pada ku." Ucap ku to the poin pada pria paruh baya yang ada di depan ku ini.


Pak Dedi mengerutkan kening menatap Naira dengan bingung, untuk apa Nona Muda meminta kunci kamar? "Untuk apa, Nona?"


"Udah deh, pak Dedi gak usah banyak tanya... nanti juga pak Dedi tahu kok."


Pak Dedi diam sejenak, seolah sedang berfikir untuk memberikan kunci kamar ini pada ku atau tidak.


"Mau di kasih gak nih!" Seru ku datar, ikut ikutan ka Pram saat bicara biar pak Dedi takut dan gak berani tuh ngebantah apa kata ku, kali aja cara ini berhasil membuat pak Dedi memberikan kuncinya.


Kruk kruk kruk.


Dengan wajah kikuk, aku menggigit bibir bawah ku, malu lah mana di depan pak Dedi, aiiih perut ku bunyi.

__ADS_1


Pak Dedi berusaha menahan tawa saat mendengar perut Nona Mudanya berbunyi, sepertinya benar apa yang di katakan Haikal dan Dega, Nona Naira belum makan.


"Saya akan memberikan kunci kamar ini pada Nona, asal dengan syarat!" Seru pak Dedi.


"Syarat apa pak?"


"Nona harus makan malam."


Ah kirain syaratnya apa, kalo itu sih gw juga mau, kasian kan ini cacing di perut gw udah demo minta makan.


Ku ulurkan tangan kanan ke depan, "Ok, aku setuju dengan syarat dari bapak."


Pak Dedi pun membalas uluran tangan ku, hingga akhirnya kami berjabat tangan tanda kami sepakat.


"Nona ingin di buatkan apa untuk makan malam?"


"Apa aja pak, yang simpel... aku udah laper banget nih." Ku elus perut ku yang datar.


Aku baru lihat tingkah Nona yang seperti ini, seperti anak kecil dan menggemaskan, Tuan Pram pasti tidak akan bisa jauh dari Nona Muda jika tahu tingkahnya yang satu ini.


"Kalo begitu harap Nona bersabar ya, biar saya minta koki untuk membuatkannya sekarang juga." Ujar pak Dedi.


"Oke." Ku tutup pintu kamar sambil menunggu pak Dedi membawakan makanan aku duduk di sofa sambil membuka mbah gugel.



Tangan ku meremasss pinggiran sofa melihat foto yang muncul di pencarian.


Wah wah wah ka Pram, dasarrr rubah mesumm, awas kamu ya kalo ketemu!


πŸ‚ di tempat lainπŸ‚


Setelah menerima telepon dari pak Dedi, tatapan tajam langsung mengarah pada Dev.


"Dedi bilang apa?" Tanya Pram datar.


"Emmm sepertinya terjadi sesuatu dengan Nona Naira, pak." Dengan ragu pak Dev pun mengatakannya pada Pram.


Aku harus tahu apa yang terjadi padanya.


Pram langsung bangkit dari tempat duduknya dengan tangan mengepal ia meninggalkan Dev.


"Bapak mau kemana?" Tanya pak Dev.


"Aku mau ngeceknya dulu, kau tinggal lah di sini!"


Bersambung....


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2