Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pencuriii hati


__ADS_3

...💖💖💖...


Gw mulai ah, paling itu cewek cuma adiknya aja, gak masalah lah ya.


Krek.


Bugh.


Wanita itu berpura pura terjatuh dengan tubuhnya yang oleng ke Pram, berharap tubuhnya itu akan mendarat sempurna di ke dua paha Pram.


Namun di luar dugaannya, sebelum bokongnya mendarat di kursi yang di duduki Pram, Pram lebih dulu menarik dirinya dengan tubuhnya yang condong ke tubuh Naira di atasnya.


Pram menyeringai di atas tubuh Naira, dengan ke dua tangannya yang menahan beban tubuhnya dengan bertumpu pada kepala kursi.


Wanita bergaun hitam mengelusss bokonggg nya dengan merintih.


"Awwwwhhhh sakit sekali bokonggg ku!"


Haikal dan Dega yang melihatnya hanya menahan tawa dari tempat nya berada, ke duanya enggan untuk membantu Nona cantik itu.


Dega membatin, dasarrr wanita licik. Ingin mengambil kesempatan pada orang yang salah.


Haikal membatin, Tuan Pram jauh lebih pintar dari anda, Nona!


Mega dan Angga langsung beranjak dan menghampiri pengunjung kedei dengan wajah yang ke bingungan.


"Apa anda baik baik saja, Nona?" Tanya Mega mengulurkan tangan nya pada Nona bergaun hitam.


"Aku tidak apa apa!" Sialan kenapa pria incaran ku itu malah harus berpindah tempat duduk sih!


"Nona? Kau kurang air minum ya? Sampai jatuh gitu?" Tanya Naira dengan menoleh pada wanita yang kini duduk di sampingnya.


"Enak saja kalo bicara! Lantainya aja yang licin! Tidak di pel apa ini lantai, sampai licin begini!" Sungut wanita itu dengan beranjak dari duduknya dan memilih kembali ke tempat duduknya.


"Wanita aneh! Mana ada lantai yang licin!" Sindir Angga dengan menggeleng gelengkan kepalanya menatap lantai yang kering, tidak seperti yang di ucapkannya.


"Itu hanya akal akalan nya saja, sudah jangan di hiraukan!" Seru Pram dengan menggendong tubuh Naira dengan ke dua tangannya.


"Iihhh ka! Turunin!" Seru Naira dengan ke dua tangannya yang melingkar di leher Pram.


"Kalian urus kedei ya! Waktunya Nona mu ini ikut bersama dengan Tuan-nya!" Ucap Pram dingin.


Haikal mengikuti langkah bosnya dengan membawa serta tas ransel Naira di bahunya.


Sedangkan Dega menghampiri Mega terlebih dahulu sebelum melangkah meninggalkan kedei.


"Neng cantik, abang lanjut tugas ya! Besok kita pasti ketemu lagi!" Ujar Dega dengan kerlingan mata nya pada Mega lalu menyusul langkah Tuan-nya meninggalkan kedei.


"Dasarrr cowo gilaaa, sintinggg!" Mega bergidik ngeri melihat tingkah Dega.


Angga membersikan meja yang tadi di gunakan mereka untuk meeting.

__ADS_1


"Sepertinya pak Dega mulai naksir sama lo, Mega!" Ujar Angga dengan melewati Mega yang masih menatap punggung Dega.


Bugh.


Mega mendaratkan kepalan tangannya di punggung Angga.


"Sembarangan aja lo bang, kalo ngomong!" Mega kembali ke meja kasir, menyibukkan diri dengan pembukuan laporan keuangan yang sempat tertunda.


Wanita dengan gaun hitam terus menatap tajam hingga Pram menghilang dengan mobil hitam yang melesat meninggalkan parkiran kedei di ikuti mobil lainnya.


"Bener kan dugaan gw, itu cowok bukan sembarangan cowo. Tapi itu cowok punya kuasa, siapa ya itu orang. Kayanya gw pernah liet, mukanya juga gak asing di mata gw." Gumam Nita.


"Udah gak usah lo pikirin, mending kita makan dulu!" Ujar Pria yang bersamanya kini.


"Dasar lo, pria gak modal. Sekali kali lo gitu yang bayar makanan kita ini! Masa gw mulu!" Keluh Nita.


"Bacot bae lo!"


Selama perjalanan Pram tidak banyak bicara, ke dua tangannya hanya melingkar di pinggang Naira yang berada di atas pangkuannya.


Punggung Naira bersandar pada dada Pram yang bidang. Dengan sesekali keluar pertanyaan dari bibir mungil Naira.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan wanita tadi ka?"


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apa kau akan mempercayai ku?" Tanya Pram sebelum menjawab pertanyaan Naira.


"Tergantung." Naira mencubit kecil punggung tangan Pram yang melingkar di atas perutnya.


Pram mengerutkan keningnya, "What? Tergantung?"


Tangan Pram maraih tengkuk Naira dan mencondongkan wajah istrinya itu mendekati wajahnya dengan kening yang saling bertautan.


Hembusan nafas ke duanya seakan memburu, tatapan mata mereka berdua saling pandang, menatap dalam pasangannya.


Pram menyambar bibir Naira yang tampak menggodanya, melumattt benda kenyal itu dengan satu tangannya merangkah naik di balik rok mini yang Naira kenakan.


Naira membatin dengan mata yang kini terpejam menikmati permain lidah Pram di dalam mulutnya. Sedangkan kacang kecil Naira yang berada di bawah sana, sudah mulai bergetar saat sentuhan hangat dari tangan Pram, hendak menelusuppp di balik segi tiga berenda miliknya.


Kaaaa, jangan ih, malu. Jangan di sini! Nanti kalo aku kurang, gimana?


Pram menarik kembali tangannya dari balik rok Naira. Dan beralih pada si kembar, dengan gemesss ia meremasss salah satu si kembar mulai dari gerakan lembut hingga kencang membuat Naira membola menatap sebel.


Sejenak Pram membiarkan Naira menghirup nafas lalu melumattt kembali bibir Naira, memilinnn lidahnya, menyesappp hingga dalam dengan tangannya yang meremasss kerasss si kembar Naira.


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Hape Pram yang ada di saku kemejanya bergetar.


Naira mendorong dada bidang Pram, angkat dulu telponnya ka, kali aja penting.


Pram menggelengkan kepalanya, enggan melepaskan pagutannnnya dari bibir Naira, ia hanya ingin menyesappp, memilinnn, melumattt bibir ranum istri kecilnya kini.

__ADS_1


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Kini hape Naira yang bergetar di balik saku roknya.


Dega yang melirik ke dua Tuan nya lewat kaca spion mobil hanya tampak acuh meski batinnya meracau.


Pokonya gw harus bisa dapetin hatinya Mega, Mega kayanya gak kalah polosnya ama Nona Muda. Bos aja betah di samping Nona, malah bisa ninggalin dunia seksss bebasnya. Gw juga pasti bisa lah ya, yang penting sekarang kejer dulu dah si Mega, pencuri hati ku. wahahahha.


Bugh.


Kaki Pram menendang kursi yang di duduki Dega. Membuat Dega berhenti membatin.


Pram melepaskan pagutannnnya dari bibir Naira, menyapu bibir Naira yang basah dengan jempolnya. Tangan Naira merogoh saku roknya.


Naira membatin, aiiiihhhh otongnya ka Pram udah bangun, pasti lagi cari cari pintu, tuh kan berasa gerak gerak.


"Geli ka!" Celoteh Naira dengan tangannya yang mengarahkan hapenya di daun telinganya.


[ "Nai, lo lagi sama ka Pram kan?" ] Tanya seseorang dari sebrang sana saat sambungan teleponnya di jawab oleh Naira.


Naira membatin, Daren kenapa ya? Suaranya panik amat itu bocah.


"Iya, Daren. Lo mau ngomong sama ka Pram?"


[ "Boleh Nai, ada hal penting yang harus gw omongin." ]


"Kau mau bicara apa?" Tanya Pram dingin.


[ "Gw gak tau apa yang tengah di rencanain pak Alex dan papa, tapi sebaiknya mulai sekarang kalian harus lebih was pada, kalian harus saling percaya satu sama lain." ]


Wajah Pram tampak biasa saja saat mendengar aduan dari Daren. Tidak ada raut wajah cemas, panik atau pun terkejut.


"Hanya itu? Tidak ada hal penting lainnya?"


[ "Iya, ka. Hanya itu saja." ]


"Kalo begitu terima kasih, kau juga berhati hati lah. Jika tua bangka itu tidak lagi menerima kehadiran mu di rumah nya, pulang lah ke kediaman ku!" Pram langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan menyerahkan benda pipih itu pada Naira.


Sampai di kediaman Pramana, Naira langsung membersihkan dirinya dengan berendam di bathtub, dengan aroma terapi yang dapat menenangkan pikirannya setelah seharian beraktivitas di luaran.


Pram yang tidak mendapati Naira di kamar pun langsung beralih ke kamar mandi.


Ceklek.


"Ke biasaan, mandi pintu tidak di kunci." Pram menyeringai melangkah perlahan mendekati bathtub.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2