
...๐๐๐...
"Aiiih masa iya Naira ngambek sama pak Pram?" Gumam Novi.
Pram menyeringai, malah berniat untuk mengerjai Naira dengan berpura pura marah.
"Apa begini cara mu menyambut ku, Naira?" Dengus Pram dengan suaranya yang berat.
Naira mengerucutkan bibirnya, harusnya kan gw yang ngambek. Kenapa jadi ka Pram yang marah sama gw! Uuuh.
Naira menghentakkan kakinya kesal.
Grap.
Tangan Naira menyambar paper bag yang ada di atas meja dengan kasar.
"Emang harus gimana, aku menyambut kaka?" Naira memutar tubuhnya hendak meninggalkan Pram.
Grap.
Tangan Pram menggenggam pergelangan tangan Naira dan menatap tajam wajah yang selalu ia rindukan. Tangan lain Pram bergerak dan menahan kepala Naira.
"Emmmm." Pram menyambar bibir ramun Naira dan melumattt nya dengan rakus di depan yang lainnya.
Novi bersorak heboh, "Aji gile!"
Sedangkan Ayu menatap iri pada ke duanya, kapan ya gw kaya gitu.
Mega menepuk jidatnya sendiri, "Bener benar sultan mah bebas, yang laen mah ngontrak." Gumam Mega.
Rion menarik sudut bibirnya ke atas, "Amboy, horang gedongan sekelas pak Pram, aiiih gile bener."
Angga berdehem menyadarkan Pram dan Naira yang kini, makin larut dengan ciumannn mereka yang dalam.
"Ehem ehem." Dehem Angga.
Pram melepasss kan tautan bibirnya pada bibir Naira, dan menyapu bibir Naira yang basahhh dengan jempolnya.
Naira memukul dada bidang Pram.
Bugh.
"Ka Pram bodohhh, udah tau ini tempat umum! Malu kan aku!" Gerutu Naira dengan wajahnya yang kini merona.
"Aku biasa saja." Ucap Pram dengan datar, menggenggammm jemari Naira dan mengambil sisa paper bag yang ada di atas meja.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Pram pada yang lainnya dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak ada, kami hanya lihat Novi dan Ayu yang lagi sakit!" Seru Angga yang tau harus berkata apa, mewakili teman temannya yang kini saling tatap.
"I- iya benar, Novi cepet lo sehat ya!" Seru Rion.
"Ko jadi gw sih?" Novi menunjuk dirinya sendiri.
Demi Naira, Pram mencoba berbaur dengan teman teman Naira, meski dengan wajahnya yang kaku dan irit bicara, membuat suasana yang tegang kian mencair.
Pram membatin dengan matanya yang menatap tajam satu persatu, teman sekaligus karyawan Naira yang ada di ruang rawat.
Mulai saat ini, aku harus lebih memperhatikan, siapa saja orang orang yang dekat dengan Naira.
Angga yang tidak sengaja bertemu pandang dengan Pram pun, menatap aneh pada pria yang kini berstatus suami bos-nya.
Ada apa ya dengan pak Pram, apa ada yang sedang ia sembunyikan?
Mereka makan bersama dengan makanan yang di bawa oleh Pram. Sesekali Naira dan Pram memperlihatkan kemesraan mereka. Dengan saling menyuapkan makanan mereka.
...๐โญ๐...
Hari berganti, malam berganti. Tanpa terasa 3 hari sudah di lalui. Karin dan Elisa bagai kan hilang di telan bumi, tidak ada yang tau ke beradaan mereka saat ini.
Kedei pun sudah mulai beroperasi kembali. Dengan Ayu yang masih harus melewati berbagai perawatan. Hingga dirinya terpaksaaa harus absen beberapa minggu untuk penyembuhan nya.
Sedangkan Novi kini sudah bisa kembali menjalani hari harinya.
Siang itu di jam istirahat. Naira, Novi dan Serli sedang di kantin untuk mengisi perut mereka yang tengah berdemo.
"Iya nih, gw juga heran. Yang lebih herannya lagi sekarang Ratna ikut ikutan gak ke lihatan, itu anak kenapa ya?" Ujar Novi.
"Emmn mungkin Ratna lagi ada urusan keluarga." Ucap Naira, apa mungkin Ratna lagi nemenin om om ya?
Sopur berdiri di samping Naira, dengan tangan kanannya membawa piring berisi somay dan tangan kirinya menggenggam botol minum.
"Boleh gw gabung sama kalian?" Tanya Sopur.
"Duduk aja Sopur!" Ucap Naira dengan menggeser duduknya dan membiarkan Sopur duduk di tempat yang semula ia duduki.
"Makasih ya!" Ucap Sopur.
"Ada angin apa nih, sampe sampe lo mau duduk sama kita di sini?" Sindir Novi dengan tatapan matanya yang menyelidik.
"Gw baru dapet kabar dari nyokap nya Ratna." Ucap Sopur, dengan tangan kanannya yang mulai menyuapkan somay ke dalam mulutnya.
"Kabar apa?" Tanya Naira.
"Ratna masuk rumah sakit dan sekarang dia lagi kritis." Ujar Sopur.
__ADS_1
Naira di buat tercengang mendengar perkataan Sopur, "Ratna kritis? Emang dia sakit apa?" Tanya Naira.
"Serius lo? Itu anak bisa sakit juga?" Tanya Serli.
"Kualat dia, sekian lama nyoba nyelakain lo Nai, kena batunya itu anak." Sindir Novi dengan bibirnya yang pedas.
"Suuuut, Novi... jangan kaya gitu. Biar gimana juga kan Ratna itu temen kita juga." Celetuk Naira.
"Eh Sopur, lo belom jawab tuh. Emang sohib lo itu sakit apa si? Sampe kritis segala, sakit parah emang ya?" Cecar Serli dengan tangannya yang memasukan bakso ke dalam mulutnya.
Sopur menoleh ke kiri dan ke kanan, dengan mencondongkan kepalanya ke depan.
๐Gedung pencakar langit๐
Kini Dega tengah berada di ruang kerja Pram, siap menyerahkan hasil penyelidikan nya selama di Bandung. Mencari tahu bagai mana hidup, yang di jalani Naira sebelum akhirnya bisa terdampar di Tangerang dan bertemu dengan Pram.
Pram duduk di kursi ke besarannya dengan punggungnya yang menyandar pada sandaran kursi.
"ini Tuan, berdasar kan dari hasil penyelidikan... yang saya lakukan selama tiga hari belakangan ini." Dega menyerahkan map coklat kepada Pram.
Pram menerima map coklat itu dengan tangannya, mengeluarkan setiap berkas yang ada di dalam nya. Berkas yang berisikan data data, yang berhubungan dengan Naira. Dengan matanya yang tajam memperhatikan setiap informasi yang ada di dalamnya.
Pram tersenyum puasss, saat mendapati kenyataan. Jika hape jadul Naira, di peroleh dari seorang pria tua, yang tidak lain adalah kakek kandungan nya Naira sendiri.
Namun senyum itu lenyap seketika dari bibirnya, berganti dengan tatapan matanya yang tajam dengan keningnya yang mengkerut.
Tangan Pram tampak meremasss lembaran terakhir, lembaran yang berisikan informasi. Di mana membuat darahnya mendidihhh seketika.
Dega membatin saat melihat reaksi Pram saat melihat berkas yang terakhir.
Pasti bakal ada tugas lagi nih buat gw! Secara Nona Muda itu, sekarang udah jadi ke sayangan bos Pram.
Pram beralih menatap Dega, dengan menyeringai seolah dirinya membenarkan, apa kata seruan batin Dega.
"Bagus jika kau sudah tahu tugas mu yang selanjutnya, Dega!" Seru Pram dengan suaranya yang datar namun tegas.
"Yaaah bos, saat tahu aja... saya udah pengen banget cincanggg itu cowok. Berani banget itu cowok sama Nona, sampe sampe Nona jadi punya trauma dengan suara keras." Ujar Dega dengan terus terang pada Pram.
"Cari dan bawa orang itu, hidup atau pun matiii!" Titah Pram yang tidak bisa lagi terbantahkan.
Bugh.
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
......................
...๐ Bersambung ๐...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐