
...💖💖💖...
"Apa pak Pram membawa mu menginap di sebuah hotel miliknya, Nai? Atau pak Pram membawa mu tinggal di sebuah apartemen yang mewah? Atau mungkin pak Pram diam diam ternyata sudah memiliki rumah di Jepang?" Novi mencecar Naira kembali dengan berbagai pertanyaan.
Tak.
Serli menjitak kepala Novi dengan kepalan tangannya.
"Lu nanya apa mau sensus penduduk?" sungut Serli yang melihat Novi terus ngerocos tanpa henti.
"Yeee lo, emang ga penasaran apa sama Nai! Udah seminggu lebih lo kita gak ketemu, malah hampir 2 minggu. Lo betah bangat Nai di Jepang hahahaha, cuacanya enak itu ya buat bikin adonan! Bikin kuping gitu!" ledek Novi dengan tatapan menggoda Naira.
"Ihs lo kalo ngebacot, suka bener deh!" ucap Naira dengan pipi merona, kepalanya menunduk tanpa berani menatap dua sahabat nya.
Serli membola, "Serius lo? Beneran lo udah itu sama pak Pram?" Serli mengkode dengan jari telunjuk yang saling beradu.
"Ya elah, gak udah kaget gitu kali. Wajar lah Nai sama pak Pram udah gitu... malah sebelum kalian liburan kan, Nai... sebenarnya lo udah wik wik sama pak Pram!" cicit Novi.
Serli menatap Naira dengan tidak percaya, "Anjiiiim gw ketinggalan berita jauh banget. Jadi lo udah lama gak itu?"
"Udah ah jangan bahas itu, malu tau! Ngomong ngomong setelah ini kalian mau lanjut kulian apa gimana?" tanya Naira.
"Gwe masih betah Nai, kerja sama lo... jangan pecat gwe ya! Kalo perlu, bisa lah ya gaji gwe di taekin dikit mah. 1 apa 2 juta juga ora apa lah Nai!" ledek Novi dengan menyeruput minumannya.
"Lo minta naek gaji apa ngerampok? Pecat bae gwe mah punya anak buah model lo!" ledek Serli.
"Bisa di atur kalo naek gaji mah, tapi lo yang ngerjain sendiri ya! Ahahaha." ledek Naira.
"Dih bisa gitu."
"Bisa lah." ucap Naira.
"Punggung lo, bener udah gak apa, Nai?" tanya Serli.
"Udah mendingan ko."
"Ko bisa sih, itu orang nusuk lo! Gumana ceritanya?" tanya Novi dengan tatapan seriusannya.
"Ya namanya juga lagi musibah, datang sekejap mata kan!" ucap Naira.
"Gwe heran Nai sama lo, bisa bela diri tapi masih bisa aja gitu celaka. Pak Pram juga, orang orangnya kan banyak, kenapa gitu bisa kejadian kaya gini!" sungut Novi dengan kesal.
Pluk.
Serli melemparkan kacang goreng ke arah Novi, "Bacottt bae lo! Di pecah pak Pram baru nyaho lo!"
"Ya abisnya gw kesel, emang lo gak kesel apa denger temen kita ini jadi korban!"
Naira membuang nafasnya dengan kasar, "Selama gwe gak ada di sini, ada kabar terbaru gak. Mengenai Elisa sama Ratna gitu!" tanya Naira dengan menatap Serli dan Novi bergantian.
"Boro boro kabar dari mereka, yang ada si Daren juga gwe gak pernah liet batang hidungnya lagi sekarang." cicit Novi.
Naira mengerutkan keningnya, "Daren ngilang? Serius lo?"
"Masa gwe bohong sama lo! Serius lah gw!" oceh Novi.
__ADS_1
"Mungkin gak hilang kali Nov, bisa aja kan si Daren lagi pergi ke mana gitu. Lo aja yang lebay! Udah ada paman Haikal, masih aja perhatian sama cowok laen." cicit Serli.
"Sambil nyelem minum air itu namanya... gwe gak dapet bodyguard nya Naira, kali aja gwe bisa dapetin ade iparnya Naira hahahah. Kita iparan gitu Nai!" Novi tergelak dengan guyonannya sendiri.
Naira mengerdikkan bahunya, "Gwe iparan sama lo? Bakal jadi apa hidup gwe, hahahha."
"Yang lebih malangnya lagi, gimana coba hari hari Daren kalo punya bini kaya lo, ahahaha, gw gak bisa bayangin, si otak mesummm sama si irit ngomong. Gwe jamin hidup Daren pasti udah kaya di neraka kalo sama lo!" ledek Serli yang ikut tergelak, bahkan ujung matanya berair membayang kan hidup yang akan di jalani Novi dan Daren jika bersama.
"Astaga kalian, tega banget si mentertawakan gwe... aminin orang mah kalo gw ngomong tuh!" Novi mengerucutkan bibirnya dengan tatapan jengkel pada Serli dan Naira.
🌷🌷🌷
Ke esokan harinya di meja makan.
"Sudah jangan merajuk terus, habiskan dulu makanan mu! Setelah itu baru aku akan mengantar mu ke kedai. Tapi harus di temani Haikal selama kau pergi!" ucap Pram dengan tegas.
"Kenapa tidak dengan pengawal bayangan aja ka? Apa gak akan risih kalo ada bang Haikal? Setidaknya baju bang Haikal di ganti ka, jangan item item." protes Naira.
"Tidak ada pengawal bayangan. Aku sudah mengatakan pada Dev, dua minggu dari sekarang, kita akan mengadakan resepsi pernikahan." ucap Pram dengan menyuapkan makanan ke mulut Naira.
Naira di buat melongo dengan ke putusan yang di buat Pram, "Apa ka? Dua minggu dari sekarang? Terus yang nyiapin undangan, tamu yang akan di undang, gaun pengantin, tempat dan hidangan untuk resepsi, siapa yang nyiapin itu semua ka? Apa akan cukup waktunya dalam 2 minggu?"
"Kau tenang saja, semuanya akan di urus Dev dan WO, kau cukup nikmati hari mu selama kau belum di sibukkan dengan mata kuliah." Pram mengeluarkan beberapa obat yang akan di konsumsi pagi ini oleh Naira.
"Apa aku harus meminum obat ini ka?" Naira menatap ngeri dengan beberapa butir obat yang ada di telapak tangan Pram.
"Demi kesehatan mu, sayang!" Pram semakin mendekatkan tangannya ke depan Naira.
"Tapi itu besar besar ka!" Naira memundurkan tubuhnya ke belakang, hingga punggungnya mentok dengan sandaran kursi.
"Ihs siapa suruh main ambil ke putusan sendiri, itu kan juga pernikahan ku! Hari bersejarah untuk ku!" cicit Naira yang dengan perlahan mulai menelan satu persatu obatnya.
"Anak pintar... tidak ada kegiatan lagi kan di sekolah?" Pram menyodorkan piring kecil yang terdapat potongan apel di atasnya pada Naira.
"Coba ini!" Naira mengambil potongan apel dan mengarahkan nya ke mulut Pram.
"Enak juga, tapi tidak seenak rasa mu! Tubuh jauh lebih gurih untuk aku cicipi." ledek Pram.
Prak.
Naira menggeprak lengan Pram dengan tangannya.
"Rayuan mu garing ka!" cicit Naira.
"Garing tapi membuat mu melayang kan?" ledek Pram dengan memiringkan kepalanya, menatap wajah Naira yang tampak bersemu pipinya.
Naira mengerucutkan bibirnya tanpa berkata ia beranjak dari duduknya, melangkah meninggal kan Pram yang masih diam di tempatnya.
"Ayo cepat jalan... kalo bicara terus, kapan kita berangkatnya ka!" gerutu Naira.
Pram menggelengkan kepalanya, "Kau yang membuat kita lama di meja makan, sayang! Secara tidak langsung, malah kau menyalahkan ku!" gerutu Pram.
"Namanya juga wanita, makhluk Tuhan yang maha benar Tuan!" timpal Dedi yang kini mengekori Tuannya Pram.
"Aku tidak meminta pendapat mu, Dedi!"
__ADS_1
"Maaf Tuan, tapi telinga saya dapat mendengar keluh kesah Tuan." bela Dedi.
Naira hendak meraih paper bag yang ada di atas meja ruang keluarga, namun suara bariton Pram mencegahnya.
"Jangan kau yang bawa, Nai! Biar Dedi saja yang membawakan nya ke mobil!" cegah Pram.
"Ini enteng ka!" Naira meraih paper bag itu, namun dengan cepat Pram merampasnya dari tangan Naira, dengan tangannya yang mencekal pergelangan tangan Naira.
Sreek.
Pram menatap tajam Naira, "Sudah aku katakan, tidak ya tidak!" Pram menyerahkan paper bag itu ke Dedi.
"Dasar ka Pram!" Naira menepiskan tangannya dari Pram.
"Selamat pagi, Nona!" ucap Haikal yang membukakan pintu untuk Naira.
"Heumm." Naira hanya berdehem dengan wajah masam.
"Pasti ada pertengkaran kecil lagi!" gumam Dev.
Pram membukakan pintu mobil untuk Pram, "Selamat pagi, Tuan!"
"Hem!" Pram berdehem.
Pak Dedi menyerahkan paper bag yang ia bawa pada Dev, "Ini milik Nona, jangan biarkan Nona membawanya seorang diri!"
"Mereka bertengkar karena ini?" Dev menunjukkan paper bag yang kini ia pegang pada Dedi.
"Jangan banyak bertanya! Jika kau tidak ingin membuat Tuan Pram mengamuk!" pesan Dedi.
"Cihsss kalian berdua sama saja!" decih Dev.
Pram menurunkan kaca mobilnya, berkata dengan datar, "Dev, kau masih mau bekerja atau ingin aku kirim ke Afrika?"
Dev langsung masuk ke dalam mobil, dan menyerahkan paper bag yang ada di tangannya pada Haikal, "Jangan biarkan Nona yang membawanya!" pesan Dev.
"Berikan itu pada ku!" Naira mengulurkan tangan kanannya, minta paper bag yang ada di tangan Haikal.
Dev mulai melajukan mobilnya, meninggalkan Kediaman Pramana.
"Bagai mana, bos?" Haikal bertanya pada Pram.
"Berikan saja, asal jangan Naira yang membawanya!" ucap Pram yang kini merengkuh pinggang Naira hingga tubuh ke duanya merapat.
Naira membuka paper bag miliknya, mengeluarkan dua buah benda dari dalam sana.
"Ini untuk kalian berdua!" Naira menyodorkan ke dua benda itu pada Haikal dan Dev.
Pram menatap tajam benda yang di sodorkan Naira, "Kau memberi kan itu pada mereka?"
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Makasih yang sudah dengan setia