Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Lupa akal sehat


__ADS_3

...💖💖💖...


Naira mengelusss perutnya dengan tangannya, "Ooh itu."


Sopur menatap tajam gerakan tangan Naira yang mengelusss perutnya yang masih datar, apa mungkin Naira hamil? Masak sih? Apa yang di bilang Ratna itu bener kalo Naira simpenannn om om? Gak gak mungkin Naira cewe kaya gitu.


"Perut lo kenapa, Nai?" Tanya Sopur.


Pak Herman geleng geleng kepala melihat Sopur yang bukannya kembali ke kelas malah asik bertanya pada Naira, seakan tidak menganggap pak Herman ada di sana.


"Perut gw sakit banget, makanya gw ke sini minta obat pereda nyeri sama kaka dokter." Ucap Naira.


"Huft, bukan karena lo lagi hamil kan Nai?" Tanya Sopur dengan to the poin alisnya menukik tajam menunggu jawaban yang akan naira berikan.


Pak Herman membola mendengar pertanyaan dari mulut Sopur, "Sopur, apa yang kamu katakan?"


"A- anu pak saya cuma asal menebak." Ucap Sopur dengan tergagap.


"Lo ngomong apa sih Sopur? Masa iya gw hamil, laki gw mana? Gw lagi datang bulan tau!" Sungut Naira, apa Sopur tau gw udah nikah ya?


"Maaf, kalian semua apa bisa tenang?" Seru seorang dokter jaga UKS yang sedang menangani Lala.


"Apa ada luka yang serius dokter?" Tanya pak Herman yang melihat dokter memiringkan tubuh Lala.


"Ada beberapa luka lebam di punggung Lala, ini luka hantaman benda tumpul." Seru dokter Ike.


Pak Herman membola, "Luka lebam, dok?"


Dokter menganggukkan kepalanya dan meninggalkan ranjang rawat Lala menuju ruang kecil yang berada di belakang kursi jaga.


Pak Herman memicingkan ke dua matanya dengan kaki melangkah mendekat melihat langsung luka yang di maksud.


Sopur juga melangkah melihat luka lebam pada punggung Lala, "Astaga, bearti tadi Ratna megang sapu itu abis mukulin Lala pake sapu!" Ratna membekap mulutnya sendiri dengan tangannya dan bergumam pelan.


"Apa maksud mu, Ratna? Apa Ratna yang melakukan ini semua terhadap Lala?" Tanya pak Herman dengan tegas.


"Ya yang saya lihat tadi gitu pak, di toilet cuma ada Ratna yang menggenggam sapu dengan Lala yang udah tergeletak di lantai." Terang Sopur dengan menatap kasihan pada Lala.

__ADS_1


"Maunya apa sih anak itu? Benar benar anak yang tidak bisa di didik!" Pak Herman geram dengan kelakuan Ratna yang sudah di ambang batas, pak Herman mengepalkan ke dua tangannya dengan sorot mata yang marah.


"Maaf, apa kalian bisa tinggalkan ruang UKS! Apa pak kepsek sudah di beri tahu pak?" Tanya dokter Ike dengan tangan yang membawa mangkuk stainless yang berisi air dan handuk kecil untuk mengompres lebam pada punggung Lala.


Pak Herman menepuk jidatnya sendiri, "Saya lupa mengabari pak Radi. Saya titip Lala ya dok, tolong obati lukanya." Seru pak Herman yang melangkah meninggalkan ruang UKS.


"Tanpa bapak suruh, pasti akan saya obati lukanya." Terang dokter Ike yang mulai mengompres luka lebam pada punggung Lala.


Di depan pintu UKS pak Herman menghentikan langkah kakinya, "Kau juga kembali ke kelas mu, Sopur!" Oceh pak Herman yang lantas berjalan dengan tergesa gesa menuju ruang kepala sekolah.


"Gw balik dulu ke kelas, Nai!" Seru Sopur.


Naira menghentikan langkah kaki Sopur, "Lo bener gak salah liet Sopur? Kalo Ratna yang udah ngelakuin ini ke Lala?" Tanya Naira dengan kening yang mengkerut.


"Apa menurut lo, gw lagi berbohong?" Sopur kembali melangkah menuju kelasnya.


Naira menatap Lala dengan rasa iba, ya ampun Lala kasian banget si lo, pasti sakit banget punggung lo sampe sampe lo pinsan, Ratna pasti udah mukul lo dengan keras. Tapi ada masalah apa antara lo dan Ratna, La? Kenapa Ratna bisa setega ini sama lo!


Yang menjadi sasaran Ratna bukan lah Lala, tapi Naira. Karena sudah yakin jika yang di dalam toilet itu adalah Naira, dengan keras dan membabiii buta Ratna memukulll kan gagang sapu berkaki kali pada punggung Lala.


Sopur masuk ke dalam kelas dan melihat kursi Naira yang kosong, sedangakan Ratna duduk manis di kursi depan senyum yang mengembang.


Sopur mendudukan dirinya di kursi dan di sebelahnya Ratna duduk dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"I- ya pak, sa- saya habis dari toilet." Sopur menjawab dengan terbata bata.


Sopur menatap Ratna, astaga Ratna bener benar tega lo jadi manusia, gak ada tampang bersalah atau pun ke takukan aksi busuk lo udah gw pergokin, masih bisa bisanya lo tersenyum sementara Lala masih belom sadarin diri karena ulah lo.


"Kenapa kamu lama sekali kembali ke kelas?" Pak Asep melirik kursi yang di duduki Naira masih kosong, "Kenapa ini anak belum juga kembali!" Sungut pak Asep dengan kesal.


"Tadi saya lihat Naira di ruang UKS pak," Ujar Sopur.


Ratna meoleh ke arah Sopur, "Jadi lo bantuin Naira ke UKS? Dia udah matiii belum?" Tanya Ratna dengan suara yang pelan dan mata yang menatap tajam, gw yakin udah mukul punggung Naira dengan keras.


Serli membola, "Naira di UKS?"


Novi mengerutkan keningnya, "Naira di UKS? Bukannya tadi izinnya ke toilet?"

__ADS_1


"Apa kamu tahu mau apa Naira berada di UKS?" Tanya pak Asep.


Tok tok tok tok.


Belum sempat Sopur menjawab, pak Herman lebih dulu mengetuk pintu kelas yang membuat semua mata termasuk pak Asep melihat ke arah pintu.


"Maaf pak, saya mengganggu jam pelajaran anda." Pak Herman melangkah masuk ke dalam kelas dan langkah kakinya membawanya sampai pada meja guru.


"Ada apa ya pak?" Tanya pak Asep.


"Saya ingin membawa Ratna dan Sopur untuk menghadap ke ruang kepala sekolah, pak! ......." Seru pak Herman dengan suara yang pelan dan hanya bisa di dengar oleh pak Asep memberikan alasan kenapa Sopur dan Ratna di minta untuk ke ruang kepala sekolah.


Ratna menoleh pada Sopur, "Lo gak bilang apa apa kan?" Tanya Ratna dengan mata yang menatap tajam.


"Menurut lo? Gw bakal bilang atau tutup mulut?" Tanya Sopur dengan keningnya yang mengkerut, dasarrr lo Ratna, cinta membuat lo lupa akal sehat lo, cinta udah buat lo buta. Tega lo berbuat kejiii sama orang yang gak tau apa apa!


Ratna menyeringai, "Gw puasss karena udah nyakitin Naira, pasti saat ini dia terbaring lemah di ruang UKS, gw bahkan berharap dia mampusss!" Seru Ratna dengan mata yang berbinar senang.


"Gila lo!" Sungut Sopur.


Serli menowel bahu Novi, Novi memundurkan tubuhnya ke belakang kursi hingga punggunggunya menempel pada kursi yang ia duduki.


"Kira kira Naira ngapain di UKS?" Tanya Serli.


"Lo pikir dia ngapain? Tidur apa minta obat pereda nyeri?" Novi malah memberikan pertanyaan dan pilihan pada Serli.


"Bego lo, gw nanya malah lo balik tanya!" Sungut Serli.


"Ratna, Sopur! Kalian ikut bapak ke ruang kepala sekolah!" Seru pak Herman.


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉


__ADS_2