Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Kecewa


__ADS_3

...💖💖💖...


Pak Pram membawa ku ke ruang kerjanya. Ia mendudukkan ku di sofa panjang dan membiarkan kaki ku berselonjor di atas sofa.


"Tunggu sebentar, aku harus mengecek laporan pekerjaan yang di kirim Dev hari ini." Ujarnya.


Pak Pram meletakkan hapenya di tangan ku, "Main game." Ucapnya yang lantas berjalan menuju meja kerjanya berada.


Udah seneng di kasih hape pak Pram, aku bisa kepoin nih isi galerinya, kali aja nemu foto cewe.


Ku lihat pak Pram yang tengah duduk di kursi kebesarannya, terlihat gagah meski hanya dengan kaos lengan panjang yang di gulung sebatas siku, tangannya sibuk berselancar di atas keyboard sedangkan matanya tertuju pada layar datar laptopnya, itu artinya ia sudah mulai mengecek laporan yang di kirimkan pak Dev.


"Pak! Password-nya apaan ini?" Tanya ku.


"Tanggal lahir mu!" Seru pak Pram yang tetap fokus pada layar laptopnya, tanpa menoleh sekali pun wajah imut tapi amit amit istrinya ini.


Tanggal lahir ku? Apa benar yang di katakan pak Dedi, aku ini spesial di mata pak Pram? Aiiih aku merasa terbang ke atas langit menembus awas, tinggi sekali mengalahkan tingginya burung yang sedang terbang dengan sayapnya, hati ku di buat terbang hanya karena pak Pram bilang password hapenya pake tanggal lahir ku.


Ku panggil namanya dengan mendayu, "Paaak!"


"Ada apa?" Tanya pak Pram singkat dengan mode seriusnya.


"Emmm tidak sih, hanya ingin bertanya." Ku rebahkan tubuh ku di atas sofa ku tatap wajah tampan itu yang sedang serius dengan pekerjaannya, garis wajahnya yang tegas, sorot matanya yang tajam, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, manis kali ya itu rasanya? Ku tepuk bibir ku dengan jemari tangan kanan ku, ngoceh apa si ini bibir, sadar Naira ...dia itu belom berkoar cinta sama lu, kalo pak Pram udah nyatain cinta ama lu, baru dah lu boleh buka hati lu! Inget, cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan.


"Tanya apa?"


"Kenapa bapak kepikiran pakai tanggal lahir ku untuk password hape, pak?" Ku buka galeri foto pada hapenya, ku scroll sampai bawah kali aja nemu yang menarik mata.


Tidak mungkinkan aku bilang agar aku inget dengan tanggal lahirnya?


"Hanya kebetulan, paswodnya baru aku ganti kemarin." Bisa besar kepala dia.


Seketika bibir ini lesu untuk berkata, "Owh gitu ya, pak?" Kirain benar kata pak Dedi, ternyata hanya kebetulan tanggal lahir ku. Apaanya yang spesial ini mah sama aja bodong.


Rasa kecewa itu ada, baru aja aku terbuai hanya karena tau paswod hapenya pak Pram menggunakan tanggal lahir ku, tapi hati ku langsung di hempas ke dasar jurang yang paling dalam mengalahkan dalamnya sumur saat pak Pram bilang hanya kebetulan.


Di tengah kesibukannya mengecek laporan dari beberapa hotelnya, Pram menyempatkan diri mengirim email untuk Dev, mengingat ia akan pergi dengan Naira tentunya akan membahayakan keselamatan Naira jika sampai musuh Pram mengetahuinya.


Lewat laptopnya, Pram langsung mengirim email pada Dev.

__ADS_1


Aku mau kau singkirkan pengunjung yang ada di kedei star. Agar Naira dan mereka tidak menaruh curiga, kirim beberapa orang bayangan mu untuk menyamar sebagai pengunjung disana.


Dev langsung membalasnya.


^^^Untuk apa, pak? Apa yang mau bapak lakukan di sana?^^^


Aku dan Naira akan ke sana.


^^^Apa perlu aku jemput pak?^^^


Tidak perlu.


^^^Kapan bapak akan ke kedei start?^^^


Sekarang bodoh!! Lakukan saja perintah ku, tidak perlu banyak bertanya!!


^^^Baik pak.^^^


Di galeri hape pak Pram tidak ada foto satu wanita pun yang berpose sendiri apa lagi berdua dengan dirinya, yang ada hanya foto dirinya saat tengah bersama dengan rekan kerjanya, foto bersama dengan pria berjas yang mungkin seusia dengannya dan beberapa foto hotel.


Mata ku membola saat ku temukan wajah yang tidak asing di mata ku, "Ini kan, foto ku? Dari mana bisa pak Pram mendapatkannya?" Gumam ku.


Pak Pram menyambar hapenya dari tangan ku dan menyimpannya langsung di saku celana jins yang ia kenakan.


"Ayo, jalan!" Serunya dengan wajah yang terlihat ada yang sedang di tutupi dari ku.


Bodoh, harusnya langsung ku belikan hape yang baru untuknya, kalo begini aku juga yang repot jika ia bertanya tentang foto itu. Pram merutuki kebodohannya sendiri.


"Tapi, pak itu!" Pak Pram langsung membawa ku dalam gendongannya, "Seneng banget gendong aku ya pak?" Ku mainkannya ke dua alis ku naik turun.


"Jangan menggoda ku, Naira!" Seru pak Pram.


"Ihs siapa juga yang menggoda rubah tua kaya apakah!" Seru ku dengan mengerucutkan bibir ku yang mungil ini.


"Cincin pernikahan kita, kau pakai kan?" Tanya pak Pram saat kami berada dalam lift.


Ku perlihatkan jemari, "Ada kan!"


"Bagus, jangan pernah kau lepas cincin itu dari jari manis mu!" Seru pak Pram dengan sudut bibirnya yang di tarik ke atas, tatapan matanya begitu hangat.

__ADS_1


Ting.


"Tuan? Anda mau ke mana, Tuan?" Tanya pak Dedi yang berdiri di antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Aku ingin ke luar bersama Naira, siapkan mobil!" Perintah pak Pram.


"Baik, Tuan." Pak Dedi langsung menghubungi seseorang dari earphone yang terpasang di telinga kanannya.


"Tunggu, Tuan!" Teriak Amarta dengan kemoceng di tangan kanannya.


Pak Pram mengerutkan keningnya menatap Amarta, begitu pula dengan ku, menatap ka Amarta.


Kenapa ka Amarta membawa kemoceng?


Pak Pram menatap tajam Amarta, untuk apa perawat ini menghentikan langkah ku!


"Ada apa, ka?" Tanya ku.


"Maaf Nona Naira dan Tuan Muda Pram, apa kalian tidak akan membawa ku serta?" Tanyanya dengan menatap penuh harap.


"Selesaikan hukuman mu! Setelah itu, baru kau boleh pulang!" Seru pak Pram yang langsung melanjutkan langkahnya menuju pintu utama.


"Aiiihs malangnya aku, biasa berteman dengan perban dan kapas, sekarang harus bertemankan kemoceng dan debu." Seronoh Amarta yang kembali membersihkan guci yang ada di ruangan dengan kemoceng.


Pelayan yang mendengarnya hanya terkikik geli melihat perawat baru yang kini menjadi rekannya.


Mobil sedan hitam mewah terparkir di depan, pintu mobil juga sudah di bukakan orang pria berjas hitam.


Naira di dudukkan di depan bagian kursi penumpang, sedangakan Pram yang mengemudi.


"Anda yakin, pak mau membawanya sendiri?" Tanya pak Dedi yang melihat Pram menyuruh supir untuk mundur.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit

__ADS_1


__ADS_2