
...💖💖💖...
Telpon rumah berdering.
Pram menyeringai, kita lihat Atmaja, apa setelah ini ke sombongan mu masih berlaku!
Atmaja melirikkan matanya menatap art yang melangkah ke arah ruang makan.
"Maaf Tuan besar, itu ada pak Aziz yang ingin bicara dengan Tuan di telpon." ucap teteh Mimi, saat sudah berdiri di depan Atmaja.
Atmaja mengerutkan keningnya, "Ada apa lagi ini, tidak biasanya Aziz menghubungi ku lewat telpon rumah, kan bisa ia langsung menghubungi ku lewat hp!" Atmaja beranjak dari duduknya, meninggal kan ruang makan dengan mulut yang terus bergumam.
"Di jawab saja dulu pah, setelah itu kau baru tahu... kenapa pak Aziz menghubungi mu malam malam begini!" seru Heni.
Naira bertanya pada Heni, "Mah... rayuan apa yang membuat papa mau memakai daster?" tanya Naira dengan memainkan alisnya naik turun.
"Yang pastinya rayuan seorang istri pada suaminya, masa buat calon cucu sendiri... papa kamu gak mau pake daster sih. Toh calon cucu mama ini kan gak minta yang aneh aneh!" terang Heni yang secara tidak langsung membela Pram.
Suara Atmaja yang tiba tiba meninggi saat berbicara di telpon, terdengar sampai di telinga yang lain, yang sedang berada di meja makan.
"Bagai mana bisa? Memang ke mana supir yang biasanya?" bentak Atmaja dengan suaranya naik 2 oktaf.
Naira mengerutkan keningnya, menoleh ke arah di mana papanya berada, bibirnya pun sudah tidak bisa diam lagi untuk bertanya pada sang mama, "Papa lagi ngomong apa ya mah? Ko kayanya serius banget!"
"Entah lah, kan mama di sini bersama dengan kalian. Jadi mama juga gak tahu apa yang sedang di bicarakan papa kamu." Heni mengedarkan pandangannya pada Naira, Dito dan Pram.
__ADS_1
Pram hanya tersenyum tipis, melanjutkan makan malamnya dengan tenang, mengabaikan Atmaja seolah ia tidak mendengar suara Atmaja yang ribut sendiri.
Heni beranjak dari duduknya, "Kalian lanjutkan saja makan malamnya, mama mau lihat papa dulu!" Heni melangkahkan kakinya meninggal kan ruang makan.
"Kau harus makan yang banyak sayang!" Pram mengarahkan sendok makan yang ada di tangan nya ke depan mulut Naira.
Tanpa berpikir buruk pada Pram, Naira menerima suapan dari tangan Pram.
"Kaka romantis banget sih!" oceh Dito yang melihat tingkah ke duanya.
"Eh anak kecil, tau tauan aja bahasanya romantis. Emang kamu tahu apa itu artinya romantis?" Naira menatap Dito dengan penuh selidik.
"Lah ya tau lah, mesra mesraan kan?" jawab Dito dengan asal.
Sampai ke tiganya sudah selesai dengan makan malam mereka, Heni dan Atmaja tidak kembai ke meja makan. Membuat ke tiganya meninggalkan meja makan, setelah Naira memanggil teteh Mimi untuk membereskan meja makan.
Tampak Heni yang sedang memijat keningnya Atmaja di sofa dengan kaki Atmaja yang berada di atas sofa dengan berselonjor kaki. Dari wajah, Atmaja tampak lesu, kurang bergairahhh untuk hidup.
Naira mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi, pah? Mah?" Naira menyentuh bahu Heni yang berdiri di belakang sofa yang sedang di duduki Atmaja.
"Mobil yang bermuatan kayu kayu yang akan di bawa ke gudang, mengalami kecelakaan lalu lintas, nak... dan dari kecelakaan itu, terdapat korban yang berjatuhan." terang Heni.
"A- apa mah? Lalu bagai mana dengan keadaan supirnya, mah?" tanya Naira.
"Supirnya melarikan diri, dan apes nya lagi supir itu bukan supir yang biasanya mengantar kayu ke gudang, melainkan hanya supir pengganti." terang Atmaja dengan tatapan matanya yang kosong.
__ADS_1
Atmaja membatin, bagai mana ini... untung belum ku dapat, tapi malang yang kini menimpa ku. Bagai mana cara ku mengganti rugi pada korban? Mudah mudahan saja tidak ada korban meninggal.
Pram mendudukan dirinya di sofa, menatap Atmaja dalam diam, lalu menyeringi, aku harap kau senang dengan ke jutan yang aku berikan untuk mu papa mertua ku sayang!
"Tapi di lokasi kejadian, sudah ada kepolisian kan pah?" tanya Dito.
"Sudah, kita hanya bisa menunggu kabar saja dari Aziz, berharap supir yang melarikan diri itu, mau mengakui ke salahannya." ucap Atmaja.
"Yang sabar ya pah! Pasti akan ada jalannya, mudah mudahan saja tidak banyak memakan korban." harap Naira.
Pram angkat suara, dengan suaranya yang dingin, "Maaf sebelumnya jika saya ikut campur. Apa tidak bisa di selidiki dari tempat pengambilan kayu? Mustahil jika mereka tidak mengenal dengan supir yang mereka minta untuk mengantar barang."
"Bodoh, kenapa aku tidak terpikir ke arah itu!" celetuk Atmaja yang seketika otaknya tidak bisa berfikir jernih jika bukan seruan dari Pram.
Atmaja meraih gagang telepon, dan menekan tombolnya.
"Ini aku Atmaja, kau pasti tau kan! Siapa orang yang mengantar kayu ke gudang ku malam ini?" tanya Atmaja dengan berapi api, saat panggilan telepon yang ia lakukan di jawab oleh seseorang di sebrang sana.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭✌️
__ADS_1