Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pembalasan


__ADS_3

...💖💖💖...


"Baru juga kita akan berpesta, kenapa sekarang harus kembali ke markas?" gerutu Toda, namun tetap mengikuti kode yang di perintah Takeshi.


Berbeda dengan Zang, ia hanya mengikutinya tanpa bertanya.


"Ikuti saja apa yang di perintahkan ka Pram!" seru Takeshi.


Pram membawa Naira ke kamar nya, membaringkan Naira di atas tempat tidur.


"Maaf kan aku sayang! Aku harus melakukan ini pada mu!" Pram mengelusss pipi Naira, mengecup kening dan bibir Naira, menyelimuti tubuh Naira.


Pram melangkah ke arah lemari, menyingkirkan jas yang tergantung di dalam lemari pakaiannya, menekan kode pada tutup besi yang terdapat di baliknya. Pram mengeluarkan 2 buah senjata api miliknya, dari dalam berangkas tersembunyi miliknya.


Pram menyelipkan senjata apinya di punggungnya, dan satunya di balik saku dalam jas yang akan ia kenakan.


"Sebelum kau terbangun, ku pasti kan... aku akan ada di sisi mu kembali!" Pram menutup pintu kamarnya dengan rapat tanpa menguncinya.


Pram tidak lagi mendapati ke tiganya di dalam rumah. Pram langsung berjalan ke luar dan mengunci pintunya. Serta mengaktifkan tombol yang tersembunyi di balik pot yang ada di dekat pintu. Dengan seketika, pintu rahasia muncul menutupi pintu yang sebelumnya Pram kunci.


Pram masuk ke dalam mobil, duduk di depan samping kemudi.


Tanpa di perintahkan Pram, Takeshi langsung melajukan mobilnya kembali. Meninggalkan risort yang di tempati Naira dan Pram selama di Jepang.


"Memangnya ada apa sih ka? Apa ada hal yang genting, sampai kita harus kembali ke markas sekarang juga? Meninggalkan kaka ipar di risort itu seorang diri. Apa tidak apa ka?" cecar Toda dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, yang ada di kursi barisan ke dua.


Pram menoleh ke arah Takeshi, "Jadi kau belum mengatakan nya pada Zang dan Toda?"


"Belum ka." Takeshi menggelengkan kepalanya.


Pram menggelengkan kepalanya, "Kau ini sudah bergerak di bidang ini cukup lama, bukan baru tercebur di bidang ini kan Takeshi? Kenapa masih belum memahami nya? Kau tidak ingin kan membawa kami semua ke dalam lubang bahaya?" ucap Pram dengan serius.

__ADS_1


"Apa terjadi masalah, ka?" tanya Zang, dengan tatapan serius pada Pram dan Takeshi lewat kaca spion mobil.


Dreet dreet dreet dreet.


Takeshi merogoh hapenya yang ada di dalam saku celananya, menatap layar hape-nya dengan membola, setelah mengetahui siapa yang kini menghubunginya. Masih berani juga si penghianat ini menghubungi ku!


Sreet.


Pram langsung merebut hape Takeshi, menatap layar benda pipih milik Takeshi.


...Calling...


...Furio...


Pram mengerutkan keningnya, "Jadi, dia yang membantu Harumi melarikan diri dari markas?" tebak Pram.


"Benar ka." Takeshi membenarkan perkataan Pram.


"Jadi ka Pram tidak menghabisi nyawanya?" tanya Zang.


"Bukan ka Pram yang tidak menghabisinya, harusnya aku yang menghabisiii nya, tapi karena aku masih menginginkannya, dan membiar kan wanita itu tetap hidup." ujar Takeshi.


Pram menjawab panggilan telepon Takeshi, tanpa bicara sepatah kata pun. Pram mendengarkan apa yang di ucapkan si penelpon.


Bukan suara laki laki yang Pram dengar, melainkan suara seorang wanita yang berseru dengan penuh emosi.


[ "Kalian akan mendekam di penjara! Terutama kau Takeshi! Aku tidak akan membiarkan mu lolos dari hukuman mu! Setelah itu kau Pram dan wanita mu. Kalian berdua akan lenyap di tangan ku! Tunggu saja pembalasan dari ku!" ] ancam Harumi.


Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa berminat untuk menjawab perkataan Harumi. Pram menyerah kan benda pipih itu ke pemiliknya.


"Apa yang penghianat ikut katakan pada mu?" tanya Takeshi.

__ADS_1


"Nona Harumi mengancam kita, wanita itu sudah melapor kan ke jadian itu pada pihak ke polisi." ujar Pram dengan santainya, tidak ada gurat ke takutan yang nampak di wajahnya.


"Apa ka? Apa kaka serius dengan apa yang kaka katakan itu?" tanya Toda.


"Melaporkan atas ke jadian apa ka? Bukan kah harusnya ka Pram, yang melaporkan Nona Harumi ke pihak ke polisian... atas apa yang menimpa kaka ipar!" oceh Zang.


"Kita bersiap saja dengan kemungkinan terburuk di markas nanti, jika tidak sesuai dengan harapan kita." oceh Pram.


"Maksud ka Pram?" tanya Takeshi.


"Apa kau yakin... anak buah mu bisa di andalkan untuk melenyap kan barang bukti? Menyembunyi kan barang barang mu ke ruang bawah tanah?" cicit Pram.


"Aku yakin ka, mereka bisa di andalkan." ucap Takeshi.


"Persiapkan diri kalian saja. Kalian selalu siap kan udah kemungkinan hal terburuk?" oceh Pram.


"Ayo ka! Cepat kau kemudikan mobil ini! Aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan para polisi dan orang orangnya Nona Harumi!" ucap Zang dengan bersemangat.


"Aku juga ka, ini baru perayaan kaka ipar ke luar dari rumah sakit! Tangan ku rasanya sudah gatel ingin memukuli mahkluk hidup." cicit Toda.


Pram menyeringai, aku akan menghabisi mu Nona Harumi. Kau sudah berani bermain main dengan ku! Kali ini kau tidak akan aku biar kan lolos dari ku!


Takeshi menoleh ke arah Pram, "Maaf ka, ini karena ke salahan ku!" cicit Takeshi.


"Salah ku juga, karena terlalu lembek dengan mu! Jika terdesak, gunakan senjata, tapi jika masih aman, gunakan tangan kosong. Dengan begitu kita bisa siasati keadaan." ujar Pram.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2