
...💖💖💖...
"Dan bukan kah pria itu adalah malaikat ganteng itu ya, Nai? Pengunjung yang waktu itu memberikan gw tips banyak, pria itu juga yang udah kasih Angga uang lebih saat buka kedei lebih awal, iya kan Nai?" Ujar Ayu yang bicara panjang lebar saat ingat siapa itu pria yang duduk di sebelah Naira.
"Jadi, dia ini itu ..." Ucapan ku terhenti saat ada dering telpon dari hape Pram.
Dring dring dring.
Semua mata tertuju pada pak Pram.
Ganggu aja nih! Umpat ku dalam hati.
Pram merogoh saku celana jinsnya dan melihat siapa yang menelponnya, "Kalian lanjutan saja!" Seru pak Pram yang lantas berjalan ke arah pintu ke luar kedei start.
Ku tatap punggung pak Pram yang berjalan menjauh dari pandangan ku.
"Nai, dia itu siapa lo?" Tanya Novi lagi.
"Rekan kerja papa gw sekaligus orang ke percaya papa." Ujar ku dengan senyum yang di paksakan.
"Serius lu Nai? Dia kan orang yang udah nyulik papa lu itu kan?" Tanya Ayu yang tidak percaya dengan pengakuan ku.
Novi membola kaget, "Apa, Nai? Papa lo pernah di culik? Sama itu orang?" Novi menatap pak Pram yang tengah berdiri di samping pintu mobil dengan menyandarkan tubuhnya di body mobil.
"Bukan begitu cerita'nya, kalian salah faham." Gila kenapa juga tadi ku paksakan untuk brifing, Novi dan ka Ayu ini sadar gak sih perkataan kalian menyudutkan ku.
Ku beri kode pada ka Ayu dan juga Novi untuk melihat ke arah depan ku, pengunjung kedei.
Ayu dan Novi menoleh ke belakangnya lalu menghadap ku lagi.
"Maaf, Nai ... gw keceplosan!" Seru Ayu saat mendapat tatapan tajam dari pengunjung yang duduk di belakangnya.
Angga memukul pelan kepalanya, begoooo, gw baru inget, itu kalo gak salah Haikal, orang yang waktu itu nahan gw sama Naira waktu kita ngikutin pak Pram buat nyari tahu keberadaan papanya Naira.
__ADS_1
Sedangkan Angga sudah ingat siapa pria yang duduk sebagai pengunjung kedei yang sedari tadi mengusik otaknya untuk berfikir dan mengingat, "Nai!" Angga mencondongkan tubuhnya ke depan meja dan yang lain mengikuti tingkah Angga, mencondongkan tubuhnya ke depan meja.
"Apa?" Tanya ku.
"Gw berharap pemikiran gw ini salah, mungkin gak kalo pengunjung di kedei start ini adalah orangnya pak Pram?" Tebak Angga yang memang benar adanya.
Kalo gw bilang iya, mereka pasti bakal sport jantung, gw bilang gak atau akui aja perkataan bang Angga ini ya? Duh pusing pala gw, ayo dong mikir, cari aman buat temen temen gw.
Mereka menatap ke arah ku, menanti jawaban apa yang akan aku berikan.
"Gini gays, kalian harus bisa bersikap seperti biasa, ok!" Seru ku.
"Jadi bener, pengunjung kedei sekarang ini orangnya pak Pram?" Tanya Juni takjub, gila keren banget pak Pram, bisa nyuruh orang orangnya buat dateng ke sini, tapi buat apa ya?
"Shuuuut." Jari telunjuk ku letakkan di bibir ku, "Hanya beberapa dari mereka yang orangnyak pak Pram."
Kami tersentak kaget mendengar suara pak Pram yang begitu dekat.
"Kalian sedang apa?" Tanya pak Pram.
Pak Pram berdiri di belakang ku dengan kedua tangannya menengger di atas pundak ku, "Apa brifingnya sudah selesai?" Tanya pak Pram.
Ku balas pak Pram dengan balik memberikannya pertanyaan, "Emangnya kenapa?"
"Ada yang ingin aku tunjukkan pada mu!" Seru pak Pram dengan datarnya.
"Ya udah gays, brifing kita akhiri sampe di sini ya!" Seru ku yang akhirnya memilih mengakhiri jalannya brifing.
Angga, Rion, Mega, Elsa, Ayu dan Novi pun bangkit dari duduknya dan berjalan kembali pada tempat yang seharusnya ia berada. Sedangkan Juni masih betah menatap ku dan pak Pram.
Pak Pram hendak menggendong ku dengan ke dua tangannya, tapi ku tahan dengan tangan kanan ku yang menghentikan aksinya.
"Apa lagi?" Tanya pak Pram dengan ketus.
__ADS_1
"Masa udah makan maen langsung pulang aja, pak! Bayar dulu lah!" Ku tadahkan tangan kanan ku di hadapannya.
Blussss.
Wajah pak Pram memerah menahan malu saat di tagih oleh ku.
Pak Pram mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana jinsnya, "Ihs kau ini!" Pak Pram mengeluarkan benda pipih berwarna hitam pada ku, "Bayar pake ini!" Serunya lagi.
Ku ambil kartu itu dari tangannya lalu ku bolak balik dan ku perhatikan kartu hitam itu, ide jail muncul di kepala ku, gw kerjain ah, kalo bayar pake kartu pasti d pasin, mending pake cash mayan biar bocah bisa pada jajan udah tadi di kasih spot jantung ama pak Pram dan anak buahnya, yaah itung itung ganti rugi ya pak hihihi.
Ku berikan lagi benda pipih berwarna hitam itu padanya.
"Kenapa kau kembalikan?" Tanya pak Pram dengan mengkerutkan keningnya.
"Kaga laku, pak!" Seru ku enteng dengan wajah tanpa dosa.
Pak Pram membola, "Tidak laku?" Tanya pak Pram tidak percaya.
"Mesin edisinya lagi rusak, udah pake uang cash aja deh." Pinta ku mengadahkan tangan kembali.
Pak Pram menyimpan kembali kartunya dan menyerahkan uang lima lembar berwarna merah.
Juni menopang wajahnya dengan ke dua tangan yang di letakkan di atas meja, wajahnya mengadah ke arah ku dan pak Pram, gila itu dompet pak Pram isinya duit apa kertas? Tebel amat.
Tatapan Juni penuh tanda tanya Gw baru liet ada kartu ATM yang warnanya item, apa emang bener kaga laku ya? Naira cantik, pak Pram ganteng, emang cocok, tapi kaga deh, pak Pram gak cocok ama Naira yang baik.
"Apa yang kau lakukan di sini!" Mata pak Pram tertuju pada Juni yang terpaku melihatnya.
Mampusss gw. Juni langsung terperanjat dari duduknya dan berdiri.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit