
...💖💖💖...
Akhirnya aku bisa melihat mu sayang. Tanpa di sadari Pram, ia menarik sudut bibirnya ke atas.
Pak Pram hanya melihat wajah Naira saja bisa sesenang itu. Momen langka yang di lihat oleh Dev dari kaca sepion.
"Turun, Dev!" Pram meminta Dev untuk turun dan menghampiri Naira.
"Siap, pak!" Dev membuka pintu mobil dan berdiri di depan pintu mobil, di saat ia ingin melambaikan tangannya pada Naira, Dev melihat dengan mata kepalanya saat seorang siswa berseragam putih abu menghentikan laju motornya di samping Naira lalu menepuk bahu Naira, entah apa yang mereka bicarakan.
Naira tidak melihat mobil yang tadi mengantarnya ke sekolah, apa masih di jalan ya? Coba gw telpon dulu deh.
Naira berdiri di depan gerbang sambil merogoh hapenya dari dalam saku rok, niet hati ingin menghubungi pria yang tadi mengantarkan dirinya ke sekolah.
Daren yang menaiki sepedah motor langsung berhenti di samping Naira dan menepuk satu bahunya.
"Hai! Belum di jemput ya?" Tanya Daren.
Naira langsung menepis tangan Daren yang masih nangkring di atas bahunya dengan kasar, "Bisa ngomong aja! Gak usah pegang pegang!" Ketus ku yang merasa tidak nyaman saat orang asing menyentuh bahu ku apa lagi ini kan masih di lingkungan sekolah dan ingat status ku yang tidak lagi sendiri, banyak pasang mata yang melihat, entah apa yang ada dalam pikiran mereka.
"Sorry!" Daren mengangkat tangannya ke atas, "Gw bisa anter lo pulang!" Seru Daren mengajak Naira pulang bersamanya.
Ku tarik sudut bibir ku ke atas, emang dia pikir gw cewek apaan, mau nawarin gw pulang setelah nepuk bahu gw, sorry layaw, "Sorry, gw udah di jemput!" Tolak ku.
Aiiih gw pikir ini anak mau gw tawarin pulang bareng, ternyata malah mau nolak tawaran gw, siallll, "Gw gak liet jemputan lo, biar sama gw aja pulangnya! Gak enak lo lama lama berdiri malah kaki lu masih kaya gitu!" Daren memaksa dengan menarik pergelangan tangan Naira.
"Gw bilang gak! Lepasin tangan gw!" Tangan ku mengepal dengan suara penuh penekanan.
"Apa yang anda lakukan?" Seru Dev yang sudah berdiri di depan Naira dan Daren.
"Pak Dev!" Jika di sini ada pak Dev, pasti ada rubah tua itu kan?
__ADS_1
Dev menatap tajam tangan lancang yang sudah menyentuh tangan Nona mudanya, bisa gawat jika pak Pram sampai melihat ini, "Jauhkan tangan anda dari Nona Naira! Atau mau anda kehilangan satu tangan anda!" Gertak Dev dengan nada datar.
Daren menatap pria yang berdiri di depannya dengan penuh tanya, siapa sih ini cowok, sok berkuasa banget! "Ok!" Daren langsung melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Naira.
"Mari ikut saya, Nona!" Dev mengarahkan Naira untuk jalan duluan ke arah mobil yang terparkir di sebrang jalan.
Aku pun melangkahkan kaki ke arah yang di minta pak Dev dengan dia yang berjalan di samping ku. Itu kan mobil yang biasa di pake rubah tua, bearti bener dia ada di dalam, tapi masak iya dia ada di sini? Terus kenapa dia gak langsung turun aja? Kenapa harus nyuruh pak Dev yang turun, gak masuk akal. Yang suami gw itu rubah tua apa pak Dev sih?
Pak Dev membukakan pintu belakang mobil untuk ku.
"Makasih, pak!" Seru ku yang sudah duduk dengan menaruh tongkat penyanggah di dekat pintu.
Ku tatap wajah pak Pram yang merah padam, kali ini apa lagi yang membuatnya marah?
Pak Dev masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, "Tujuan kita sekarang kemana, pak?" Tanya Dev dengan menoleh ke belakang menatap wajah Tuan nya yang tiba tiba merah padam, aihs apa pak Pram tadi melihat saat bahu Nona Naira di sentuh? Dev menatap Naira.
"Bisa tidak pak, antar aku ke kedei ajah!" Seru ku menatap pak Dev.
"Maaf, sepertinya saya salah bicara." Dev membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan dengan ke dua tangan berada pada setir mobil, menunggu intruksi dari pak Pram kemana mobil akan melaju.
Pak Pram menatap tajam diri ku, apa Naira senang saat ada pria lain yang berani menyentuh bahunya? Tangannya? Apa lagi anak itu seusia dengannya, berbeda dengan ku yang jauh lebih dewasa darinya.
"Ada apa, pak? Kenapa bapak menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajah ku?" Kedua tangan ku terulur meraba wajah ku lalu ku condongkan wajah ku ke arah kaca sepion mobil, "Tidak ada yang salah dengan wajah ku." Tapi kenapa pak Pram gak jelas banget ya, aneh.
Tangan besar menarik pinggang ku hingga aku terduduk di atas pangkuan pak Pram.
"Akh." Ku coba bangkit dari pangkuan pak Pram tapi tangan besarnya melingkar erat di pinggang ku, tubuh depannya pak Pram menempel di punggung ku.
"Pak."
Pak Pram menyandarkan dagunya di bahu kanan ku, aku tidak rela jika ia bahagia saat di sentuh oleh pria itu.
__ADS_1
"Katakan pada ku, Naira! Apa kau senang saat pria itu menyentuh mu?" Tanya pak Pram dengan suara baritonnya.
Dari balik kemudi, telinga Dev mendengar samar samar saat pak Pram bertanya pada Nona Naira, Waaah ternyata pak Pram dalam mode cemburu nih.
Aku menoleh dan ku tatap matanya, "Untuk apa aku senang bila di sentuh olehnya? Aku dan dia tidak ada hubungan apa apa, mana mungkin aku bisa senang saat di sentuh olehnya!" Seru ku, untuk apa pak Pram menanyakan hal itu? Sudah jelas aku marah, mana ada seorang istri yang mau di sentuh oleh pria asing yang bukan suaminya, dasar rubah tua aneh, tidak mengerti perasaan wanita. Tanpa sadar bibir ku mengerucut.
"Apa kau senang saat di sentuh oleh ku?" Tanya pak Pram.
Deg deg deg deg.
Jantung ku berdetak dengan cepat saat pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir pak Pram. Ku palingankan wajah ku yang kini bersemu merah, pak Pram ngomong apa sih! Bikin gw salah tingkah kan jadinya.
Apa Naira senang saat aku menyentuhnya? Aku dapat merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Pram menarik sudut bibirnya ke atas.
"Kita jalan ke kedei!" Seru pak Pram memberi perintah pada pak Dev.
Mobil pun melaju membawa kami bertiga menyusuri jalan menuju kedei start.
"Pak Pram!" Ku panggil namanya.
"Heeem!"
"Apa kaki bapak tidak pegel?" Tanya ku yang merasa terlalu berlebihan jika aku harus berada di pangkuannya.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1