
...πππ...
"Sok tau lo, Nona Muda kita ini orang baik, di mana mana orang baik pasti juga ada musuhnya!" Sungut pengawal lainnya.
"Yah kalo di pikir pikir susah juga ya, mau jadi orang jahat atau pun baik, tetep aja ada selalu musuh mao itu dari temen baik atau orang yang iri sama kita, atau emang udah dasarrr nya musuh dari sononya ada." Ujar pengawal lainnya.
"Ke banyakan bacot lo, udah hayo kita kerja lagi. Gak inget lo apa pesen, bos Haikal!" Oceh pengawal yang sedang memberikan polesan pada dinding kaca kedei.
"Iya gw inget, kerjaan harus klir sebelom pukul 6 pagi." Oceh pengawal lainnya.
"Gila gak tuh, ini tempat yang habis kebakaran harus kembali seperti dalam keadaan semula dalam waktu singkat?"
"Ah lo, secara bos besar apa juga bakal di lakuin buat Nona Muda. Udah lah yok kerjain lagi, biar cepet klir ini kedei Nona!" Sungut pengawal yang sedang membetulkan atap.
Tanpa banyak berkata lagi, beberapa pengawal yang di tugaskan untuk merapihkan kedei Naira kini fokus dengan pekerjaan mereka.
Pekerjaan yang di haruskan selesai hingga pukul 6 pagi. Dan jika mereka tidak dapat menyelesaikan nya. Maka mereka semua yang akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari ini.
πDi markasπ
Haikal dan Dega bermain main dengan pria yang sudah lemas dan hampir matiii.
Bugh bugh bugh bugh bugh.
Sreeeet sreeeet sreeet.
Pukulannn demi pukulannn dan setrummm yang berkali kali menyengattt tubuhnya membuat nya semakin lemas dan tidak berdaya, namun bibirnya masih tidak bergeming akan siapa yang sudah memberinya perintah untuk membakar kedei milik Naira.
"Bagai mana ini, Haikal? Bisa mati jika dia terus saja diam tidak mau mengatakan siapa dalangnya!" Oceh Dega yang sudah merasa putus asa jika ia tidak akan mendapatkan keterangan yang di inginkan nya.
Mata Haikal menatap dua benda yang ada di atas meja dalam ruangan itu.
Haikal meraih dompet si pelaku pembakaran dan tangannya mengeluarkan apa yang tertarik dari pandangannya dengan menyeringai.
Haikal memperlihatkan selembar foto yang ia ambil dari dompet tawanannya kini.
"Lo salah besar kalo kita gak akan dapet keterangan apa apa dari pria ini. Kita bisa gunain ini kan?" Haikal menatap sinis pria yang kini menunjukkan raut wajah takutnya.
"Jangan kalian apa apakan mereka! Mereka tidak bersalah, mereka tidak tahu apa apa!" Sungutnya dengan tangannya yang mengepal.
Dega menajamkan tatapannya pada sehelai foto yang di pegang Haikal.
"Biar gw suruh dia buat selidikin foto ini! Lumayan lah, cantik lagi... itu bocah kalo di jual lumayan membawa duit man! Ibunya bisa di jadiin pelayan di rumah bos Pram! Iya gak?" Tanya Dega yang merasa idenya sudah brilian.
__ADS_1
Pria yang tidak lagi berdaya itu berseru dengan merangkak karena ke dua kakinya kini tidak mampu lagi menopang tubuhnya untuk berdiri.
"Jangan! Jangan kalian sentuh mereka!"
Dega menyeringai menatap pria yang terlihat mengenaskan itu.
Tak.
"Awh."
Haikal menjitak kelapa Dega.
Haikal berujar dengan tanpa rasa belas kasih dengan menatap sinis pada pria yang masih berusaha merangkak menghampiri ke duanya.
"Dari pada di jadiin pelayan, ibunya bisa kita jual ke tempat pelacurannn, bocahnya bisa kita jual organ tubuhnya! Itu cukup menguntungkan bukan?"
"Dasarrr kalian manusia kejammm, jangan kalian sentuhhh mereka... aku yang bersalah di sini." Ucapnya dengan mata yang menatap benci pada Haikal
Haikal melangkah ke arah pria itu, "Jadi, apa kau mau mengatakan siapa yang sudah berani menyuruh mu?" Tanya Haikal dengan berjongkok di depan wajah pria yang kini mendongak menatap ke arah Haikal.
"A- aku, aku di perintah oleh -----"
Belum selesai pria itu bicara, hapenya yang ada di atas meja berdering.
Tring tring tring tring.
Haikal memberikan kode pada Dega untuk melihatnya dan membawanya ke padanya.
Pria yang akan mengaku kini menajamkan pandangannya pada benda pipih miliknya yang di bawa Dega, itu pasti wanita itu! Wanita yang sudah membayar ku mahal untuk melakukan semua ini!
Haikal meraih benda pipih itu dari tangan Dega dan melihat nomor telepon yang tidak tersimpan yang kini melakukan panggilan.
Haikal menyeringai, "Pandai juga kau rupanya ya! Tidak menyimpan nomor telponnya!"
"Sudah jangan membuang waktu, angkat saja Haikal! Suruh pria itu yang bicara!" Omel Dega dengan tangan yang mengepalll siap memberikan bogemmm mentah pada wajah pria yang menatap Haikal dan Dega dengan penuh benci.
"Sialannn kalian berdua, lihat jika aku bebas dari tempat ini. Kalian yang akan aku laporkan pada polisi karena sudah melakukan tindak penganiayaan pada ku!" Oceh pria itu dengan tangannya yang mengepal.
Kreeek.
"Aaakkkkhhh." Pria itu menjerit.
Dega menyeringai dan menginjak jemari pria itu.
__ADS_1
"Jangan mimpi! Kau tau, orang yang sudah masuk ruangan ini! Ke luar dalam ke adaan tidak bernyawa, begitu pun juga dengan diri mu!" Ucap Dega dengan merebut selembar foto yang ada di tangan Haikal.
Dreeet dreeet dreeet.
Pesan masuk ke nomor pria itu dari nomor yang tadi melakukan panggilan. Haikal lantas membuka isi pesannya dan membacanya Haikal.
Angkat telpon ku, dasar pria bodoh! Aku ingin mendengar hasil kerja mu, membakar kedei bocah silannn itu!
Tidak berselang lama nomor itu melakukan panggilan lagi.
Tring tring tring tring.
Dari belakang tubuhnya, Haikal mengeluarkan pistolll dan menodongkan pistolll itu ke arah kepala si pria.
Dengan tangan kirinya Haikal mengarahkan hape ke depan wajah si pria untuk ia bicara dengan mode spiker.
"Jika kau ingin selamat, jawab telpon ini. Katakan jika kau sudah berhasil melakukan apa yang ia minta!" Ucap Haikal dengan penuh penekanan.
Di bawah tekanan Haikal dan tidak ada lagi pilihan untuk pria itu berkilah. Ia pun menuruti apa yang di katakan Haikal.
"Iya Nona, maaf tadi saya tidak tahu jika Nona menelpon saya!" Seru pria itu.
[ "Sekarang katakan pada ku, apa tugas yang aku berikan sudah kau kerjakan?" ] Tanya wanita itu dari sebrang sana.
Haikal dan Dega langsung dapat mengenali suara wanita yang tengah melakukan panggilan itu, ke duanya menatap tajam.
Dega membatin, dasarrr wanita ular.
Haikal membatin, kurang cukup pelajaran yang sudah gw berikan rupanya ya!
"Iya Nona. Saya sudah berhasil membakar kedei yang Nona minta. Bahkan ada korban yang sampai di larikan ke rumah sakit."
[ "Apa bocah sialannn itu yang menjadi korbannya? ]
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ
__ADS_1