
...πππ...
"Bagai mana, bos? Apa berjalan dengan lancar?" Tanya Haikal saat ia sudah mendudukan dirinya di kursi belakang kemudi.
Bukannya menjawab, Pram kembali memberikan pertanyaan pada Haikal dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil dan melepaskan beberapa kancing kemeja yang ia kenakan.
"Menurut mu?"
"Pasti berjalan dengan lancar, bos!" Seru Haikal yang mulai melajukan mobilnya meninggalakan kantor polisi.
"Kita kembali ke kantor pusat saja, Haikal." Ucap Pram dengan memejamkan ke dua matanya.
Haikal melirik bosnya yang tampak kelelahan, tampaknya penyelidikan tadi menguras tenaga bos Pram.
"Tidak usah sok tau, Haikal!" Gerutu Pram dengan memijit keningnya.
"Baik bos." Benar benar bos ini paling tau isi pikiran anak buahnya, aku kan hanya menghawatirkan nya saja.
"Aku mendengar mu Haikal!"
Haikal diam di bibir dan diam di hati, berusaha fokus pada jalan yang akan ia tuju.
Namun beberapa saat kemudian, pikirannya melalang buana pada Novi, sedang apa ya bocah plangton itu?
Bugh.
Pram menendang kursi bagian belakang yang sedang di duduki Haikal dengan kakinya.
"Mengganggu saja!" Seru Pram dengan tatapan yang tajam.
Sampai di kantor Pram menyaksikan Sita yang tengah di pegangi lengannya oleh satpam yang berada di dalam hotel hendak di giring ke luar dari hotel.
"Lepas, aku ingin bertemu dengan Pram!" Teriak Sita dengan berusaha memberontak pada ke dua satpam yang terus menyeretnya ke luar dari lobby hotel menuju pintu utama hotel.
"Maaf Nona, jangan buat ke ributan di sini!" Seru seorang satpam.
"Tau nih, sudah saya katakan, Tuan tidak ada di tempat." Seru seorang satpam lainnya yang memegangi lengan Sita.
"Kalian pasti sedang berbohong pada ku, aku ingin bertemu dengan Pram, lepas!" Seru Sita dengan amarah yang membeludak.
Pram menatap matanya dengan tajam ke arah Sita, "Menangani satu wanita saja tidak becus!"
Haikal melihat ke arah ke ributan terjadi, astaga wanita itu lagi. Bukannya sudah di atasi, kenapa bisa muncul lagi!
Pram menatap tajam ke arah Haikal, "Kau menanganinya tidak becus!" Seru Pram dengan suara yang dingin.
"Maaf bos." Haikal menundukkan kepalanya.
Pram memberikan perintah pada Haikal dengan kepalanya.
__ADS_1
"Siap bos. Kali ini tidak akan gagal lagi." Seru Haikal yang melangkah menuju ke arah Sita yang kini berada tidak jauh dari anak tangga pintu keluar masuk hotel.
Ke dua satpam melepaskan lengan Sita dengan mendorongnya ke depan.
Bugh.
Bahu Sita di tahan oleh Haikal hingga ia tidak jatuh terjerembab ke lantai.
Haikal menyeringai dengan sorot mata yang tajam, "Rupanya peringatan yang kemaren belum juga membuat mu jera Nona!" Ucapnya dengan suaranya yang datar.
"Kau lagi? Kau pikir aku akan takut dengan ancaman mu? Hem, hanya gertakan saja, tidak akan membuat aku gentar untuk menemui calon suami ku!" Sita menepis tangan Haikal yang menyanggah ke dua bahunya.
"Kita lihat saja Nona, itu ancaman yang akan menjadi kenyataan atau hanya sekedar isapan jempol!" Sungut Haikal, dasarrr wanita gila, aku harus berbuat kejam padanya!
Pram berjalan melewati Sita begitu saja.
Sita yang melihat Pram langsung mengejarnya, "Pram! Pram tunggu aku Pram! Pram!"
Sreek.
Hap.
Tangan Haikal menarik lengan Sita dan memanggul tubuh wanita seksi dengan mini dress yang menampilkan ke dua pahanya yang mulus. Lalu membawanya menjauh dari hotel.
Bugh bugh bugh.
Sita memukulll mukulll punggung Haikal dengan tangannya.
Ceklek.
Bagasi mobil di buka oleh Haikal.
Bugh.
Haikal menurunkan tubuh Sita ke dalam bagasi.
"Hai, kau kau gila Haikal! Kau pikir aku ini apa?"
Brak.
Haikal menutup bagasi dan mengunci tubuh Sita yang berada di dalamnya.
Bugh bugh bugh.
Sita memukulll mukulll kan tangannya ke arah bagasi dengan berseru meminta Haikal untuk membukakan pintu bagasinya.
"Buka, buka Haikal! Dasarrr bodohhhh kau, kau bisa nembunuhhh ku, Haikal buka bagasinya! Buka!"
Haikal masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, melajukan mobil meninggalkan hotel.
__ADS_1
Pram mendudukan dirinya di kursi ke besarannya dengan punggung dan kepala yang menyandar pada sandaran kursi.
Tok tok tok.
πDi sekolahπ
Sopur melangkah ke luar dari toilet dan dengan wajah tegang meminta bantuan untuk membawa siswi yang terluka ke UKS.
"Pak, tolong pak. Tolong saya pak." Ucap Sopur yang menghentikan langkah kakinya pak Herman yang saat itu sedang lewat.
Pak Herman memicingkan ke dua matanya, "Ada apa Sopur?" Pasti ada yang gak beres nih.
"I- itu pak, di dalam ada siswi yang pinsan." Seru Sopur.
Pak Herman dan Sopur langsung berlari ke arah toilet.
"Astaga apa yang terjadi, Sopur?" Tanya pak Herman saat mendapati putri kepala sekolah tengah tidak sadarkan diri.
"Saya juga gak tau gimana ceritanya pak, mending kita bawa dulu deh pak Lala ke UKS, takut ada lukanya yang parah pak!" Seru Sopur.
Pak Herman semakin tercekat, "Luka?"
Sopur menganggukkan kepalanya, pak Herman langsung membawa tubuh Lala dengan ke dua tangannya menuju UKS tanpa banyak bertanya lagi.
"Loh Nai? Lo di sini?" Tanya Sopur saat mendapati Naira yang tengah berbaring di atas ranjang yang ada di UKS.
"Iya gw di sini." Jawab Naira dengan menoleh ke arah Sopur, "Lo itu kenapa?"
Naira melihat pak Herman yang masuk ke dalam ruang UKS dan membaringkan tubuh Lala di atas ranjang lainnya.
Sopur membatin, apa mungkin tadi Ratna mau coba celakain Naira dan sayangnya yang kena malah Lala. Sementara ini kan yang paling di benci Ratna ya cuma Naira. Apa Ratna punya masalah baru sama Lala, sampe Ratna berbuat nekat ke Lala?
Petugas yang berjaga di UKS langsung bergerak cepat memberiksn pertolongan pertama pada Lala.
"Kamu kembali ke kelas mu, Sopur! Biar Lala di tangani oleh petugas yang berjaga di UKS." Oceh pak Herman yang melihat Sopur masih berdiri mematung di antara ranjang yang ada Naira dan Lala.
"Tapi pak, Lala gimana?" Sopur melihat bibir Lala yang tampak pucat.
"Pokonya kamu kembali dulu ke kelas mu, nanti jika saya butuh keterangan dari mu, kamu akan bapak panggil." Oceh pak Herman.
"I- iya udah deh pak, saya kembali ke kelas." Sopur menatap Naira, "Lo bukannya tadi izin sama pak Asep mau ke toilet ya Nai?" Tanya Sopur dengan sorot mata penuh selidik saat mengajukan pertanyaan pada Naira.
Naira mengelusss perutnya dengan tangannya, "Ooh itu."
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ