
...💖💖💖...
"Bodo amat, sukurin tuh! Weeek!" Naira menjulurkan lidahnya saat berada di pintu pembatas antara taman dengan ruang belakang.
Bugh.
Naira menabrak pintu kaca yang menjadi pembatas antara ke dua ruang itu.
"Awwwwwhhhhhh! Sialll, sejak kapan sih pintunya tertutup!" Sungut Naira dengan tangannya yang mengusappp usappp keningnya yang membentur pintu kaca.
Pram tergelak melihat ke bodohan Naira dengan berseru, "Itu namanya karma! Karma istri yang sudah berbuat aniaya pada suaminya!"
"Enak aja kalo ngomong!" Naira menoleh ke arah Pram dengan wajahnya yang kesal.
Dari arah pintu ruang belakang pak Dedi membukakan pintu kaca itu.
"Nona tidak apa apa?" Tanya pak Dedi dengan wajah yang tampak merasa bersalah saat ia sudah membuka pintu kaca dan mendapati Nona Muda-nya dengan wajah masam.
"Gak apa apa gimana! Gak liet ni landasan kapal makin lebar!" Naira menunjuk jari telunjuk kanannya pada keningnya yang kini berdenyut dengan warna ke merahan.
Pak Dedi membola dan bertanya dengan polosnya, "Tidak ada landasan kapal Nona! Itu kening anda memar Nona!"
Pram yang masih tergelak langsung kembali pada moodnya yang dingin lalu menghampiri Naira saat mendengar kata memar dari mulut pak Dedi, wajahnya berubah menjadi serius tangannya mengepal.
"Ihs nyebelin!" Naira melangkah meninggalkan taman dengan mulut yang mengerucut. Nyebelin banget, siapa lagi yang nutup pintu kaca! Perasaan tadi udah ke buka itu pintu.
Pak Dedi termangu di tempatnya, maaf kan saya Nona, tadi saya yang menutup pintunya. Saya pikir Nona masih berada lama dengan Tuan di taman, maaf sekali Nona!
Pram menatap tajam pada pak Dedi, melewati kepala pelayan itu dengan suara dinginnya ia berkata, "Jika sampai Naira merajuk kembali, kau yang harus bertanggung jawab!"
Pak Dedi menggelengkan kepalanya, aduuuuh ada saja.
Naira menaiki lift seorang diri tanpa menunggu Pram untuk kembali ke lantai atas.
Ting.
__ADS_1
Pram memukul angin saat pintu lift tidak bisa lagi terbuka dan terus membawa yang berada di dalamnya naik ke lantai atas.
Tanpa pikir panjang, Pram berlari ke arah anak tangga dan berlari melewati anak tangga yang selama ini hampir tidak pernah ia gunakan.
Langkah kaki Pram lebih cepat saat berlari, ia menyandarkan punggungnya di pintu kamar dengan satu tangan berada di saku celananya, lama sekali lift itu!
Naira melihat ke arah Pram dengan tanda tanya, sejak kapan ka Pram ada di sana? Tadi kan ka Pram masih di bawah! Apa ka Pram terbang ya? Apa mungkin selain bisa mendengar batin ku, ka Pram juga bisa menghilang? Kaya yang di tivi tivi gitu, sekali memejam kan mata bisa pindah ke lain tempat.
Pram tersenyum kecut, dasarrr istri nakalll korbannn sinetron, mana ada hal yang seperti itu? Menghilang, ada ada saja anak ini!
"Kaka sedang apa di sini?" Tanya Naira dengan mengadahkan wajahnya ke arah Pram yang berpostur tubuh lebih tinggi darinya.
Pram menatap tajam kening Naira, tangannya terulur menyentuh kening Naira yang membengkak.
"Awwwhhhh!"
"Maaf maaf, apa ini sakit?" Tanya Pram dengan wajahnya yang serius.
"Gak, cuma gini doang masa sakit. Sakitnya tuh ya saat kaka bilang dia kekasih ke dua ku, apaan tuh! Nanya gak sakitnya gimana?" Oceh Naira dengan mendorong tubuh Pram dari depan pintu dengan cueknya.
Naira membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Pram, ke dua tangannya melipat di depan dada, ke dua matanya menatap tajam pada Pram, alisnya ikut menukik tajam, Naira menjinjitkan ke dua kakinya ingin menyamakan tinggi tubuhnya dengan tubuh Pram.
Pram mengerutkan keningnya dengan tingkah Naira, matanya bertanya tanya dengan istrinya kini, apa lagi yang ada dalam pikiran bocah ini?
"Kaka pikir aku selemah itu?" Naira berbalik badan dengan menghempaskan rambut panjangnya ke wajah Pram dengan sengaja, melanjutkan langkahnya menuju balkon dengan cueknya.
"Kau sedang menggoda ku, Naira!"
Dengan pedasnya bibir Naira mengomentari diri Pram tanpa mengenal rasa takut. Perasaannya kembali berkecamuk kesal saat otaknya mengingat ada wanita wanita lain yang masih dekat dengan Pram, berusaha acuh itu mudah, tapi saat hatinya sudah bermain dengan perasaan. Rasa marah yang ia pendam dan ia sembunyikan akhirnya akan meledak juga seperti bom waktu.
"Siapa juga yang menggodaaa kaka. Ka Pram sadar gak, kalo ka Pram itu otaknya dangkal, pemikirannya cetek kalo masalah hati wanita, kalo soal bisnis aja baru keren! Kaka payahhhh buat ngertiin perasaan dan ke inginan ku!" Terang Naira dengan dadanya yang naik turun, jantungnya yang berdegup kencang, perasaannya yang kesal mulai mereda seiring apa yang ingin ia ucapnya namun tertahan selama ini akhirnya bisa ia katakan pada Pram.
Tangan Naira memegang dinding pembatas balkon, matanya menatap langit hitam yang di terangi bulan dengan bertabur bintang.
Pram menyentuh bahu Naira, ia merasakan tubuh Naira yang bergetar.
__ADS_1
"Kau tahu ka, diri itu ibarat bulan yang di kelilingi bintang, sama seperti mereka!" Naira menunjuk ke arah langit.
"Pandai sekali kau mengibaratkan aku seperti itu!" Pram berkata dengan lembut tidak ada ke marahan dari wajahnya mendengar perkataan Naira.
"Ka Pram bersinar namun kadang meredup, ka Pram lupa siapa diri kaka. Seorang istri itu ingin cahaya suaminya di nikmati sendiri, rasa sayang dan cinta suaminya ya untuk satu istrinya. Bukan untuk di bagi bagi seperti rumus matematika! Pasti ada pembagian dan perkalian."
Pram menjitak kepala Naira dengan tangannya.
Tak.
"Awwwhh." Naira menatap pram dengan sebal, bibirnya mengerucut.
"Jangan membandingkan ku dengan rumus matematika! Kau itu hanya ada satu, istri ku hanya ada satu. Kau tahu kenapa aku berkata pada media jika Momo adalah kekasih ke dua ku?" Pram menatap dalam mata Naira yang memerah terlihat jika wanita yang kini ada di depannya masih menyimpan rasa. Rasa sedih dan rasa kecewanya.
"Karena apa? Karena Momo itu model, cantik, seksiii, jika ada acara resmi kaka bisa membawanya tanpa rasa malu? Apa kaka sudah mendapatkan anak dari wanita itu?" Cerocos bibir Naira tanoa adanya rem.
Pram menghembuskan nafasnya dengan kasar, Naira, kapan kau bisa berfikir dewasa, bisa berfikir jauh ke depan, aku melakukan semua ini hanya untuk melindungi mu.
"Ka Pram gak bisa jawab kan? Dil ya, setelah ujian sekolah ku selesai, aku mau liburan ke Bandung!" Naira beranjak dari balkon menuju ranjang.
"Iya, kita akan berlibur ke Bandung. Menghabiskan waktu liburan mu bersama dengan keluarga mu itu!" Seru Pram yang mengekori langkah kaki Naira.
Naira menghentakkan kakinya dan berbalik badan menatap tajam Pram, "Tidak ada kata kita, hanya aku! Kaka urus aja tuh kekasih ke 2 kaka, wanita lainnya juga!"
Grap.
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉
__ADS_1