Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Dia menolak


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Karin menoleh ke arah suara yang berada di belakang nya.


Bugh.


Sebelum wajah cantiknya menoleh ke belakang, lengan Haikal lebih dulu mendarat di tengkuk leher Karin dengan kerasss.


Dengan pandangan yang kabur, tatapan matanya yang tajam. Karin mencoba mengenali wajah pria yang tidak asing di matanya.


"Ka- kau?"


Bugh.


Tubuh Karin ambruk dengan di sambar ke dua tangan besar Haikal dan menggendongnya.


"Kau urus yang satunya, ada di kedei Nona. Ingat, jangan sampai mencurigakan." Ucap Haikal.


"Beres bos."


"Gunakan lah mobil ku! Untuk memperlancar aksi mu!" Oceh haikal lagi.


"Siap bos!" Ucapnya dengan melangkah ke arah mobil Haikal yang berada tidak jauh di belakang mobil pink milik Karin.


Sedangkan anak buah Haikal yang kakinya berdarah darah, kini berjalan seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa apa.


Ia membukakan pintu mobil Karin yang berwarna pink, pada pintu bagian belakang. Membiarkan Haikal membaringkan tubuh Karin yang tengah tidak sadarkan diri di dalamnya.


"Kita langsung ke markas, bos?" Tanya anak buah Haikal yang kini berdiri di samping Haikal.


"Kemana lagi kalo bukan ke markas? Bodohhh kau ini!" Gerutu Haikal yang berjalan memutar ke arah pintu lain yang merupakan belakang kemudi.


Anak buah Haikal yang belum lama bergabung itu pun hanya diam terpaku di tempatnya, bagi dirinya dunia yang di geluti nya masih asing dan belum banyak yang ia mengerti apa yang harus ia lakukan.


Haikal yang sudah berada di belakang kemudi pun menyembul kan kepalanya ke kaca mobil yang sudah ia buka sebelum nya.


"Kau tunggu apa lagi?" Tanya Haikal.


"Menunggu perintah selanjutnya dari bos." Ucapnya polos.

__ADS_1


"Astaga!" Haikal menggaruk kepalanya dengan frustasi, "Cepat singkirkan motor mu! Menghalangi jalan ku saja!"


"Beres bos." Dengan segera ia menyingkirkan sepedah motornya yang membentang menghalangi mobil Karin.


"Kita kembali ke markas!" Ucap Haikal, yang lantas melajukan mobil Karin dengan di ikuti anak buahnya dari belakang dengan sepedah motornya.


Haikal melirik anak buahnya melalui kaca spion, "Untung saja hanya ada satu anak buah model seperti itu, jika ada lagi. Ya Tuhaaan, aku menyerah!" Gerutu Haikal.


Haikal fokus kembali pada kemudinya, dengan sesekali menoleh ke arah kaca spion, memantau keadaan Karin.


"Kali ini kau tidak akan bisa lagi bertingkah, Nona Karin!" Haikal menyeringai.


Karin di bawa ke markas, di tempat kan di sebuah ruang yang di sebut eksekusi, dengan tangan dan kaki yang terikattt Karin di dudukkan di sebuah kursi.


Byuuuur.


"Uhuk uhuk." Karin terbatuk batuk dan sadar dari pinsannya setelah Haikal menyirammm wajahnya dengan air segelas.


"Bangun Nona! Sudah saatnya... kau mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan mu selama ini!" Oceh Haikal yang kini berdiri di hadapan Karin.


"Lepasss kan aku! Siapa kau berani sekali memperlakukan ku seperti ini!" Ucap Karin dengan penuh emosi, berusaha melepasss kan ikatannn pada tangannya namun sayangnya, ikatannn itu di buat tali matiii oleh Haikal.


Haikal menyeringai, tangannya terulur mencengkrammm wajah cantik Karin, "Kau sudah puasss bermain main dengan bos ku! Kini sudah saatnya aku mengirim mu ke neraka! Hahaha!" Haikal menghempaskan wajah Karin dengan kerasss hingga tubuh Karin dan kursi yang ia gunakan untuk duduk jatuh ke lantai.


Bugh.


"Apa aku tidak salah dengar? Hah! Justru bos Pram yang meminta ku untuk menghabisiii mu!" Ucap Haikal dengan tatapan matanya yang tajam pada Karin.


Karin mengerutkan keningnya, "Itu tidak mungkin Haikal!"


Jika Pram sampai menghabisiii ku, sia sia usaha ku untuk menghancurkan bocah sialannn itu, terbuang percuma juga usaha ku selama ini! Sudah susah payah aku membayar orang untuk membakar dan menabrak bocah sialannn itu. Lalu hasilnya hanya seperti ini yang aku dapat? Ini tidak adil untuk ku! Aku tidak boleh tamat seperti ini!


Haikal berjongkok di depan wajah Karin, dengan tangannya yang menjambakkk rambut Karin. Hingga wajah Karin yang masih basahhh dengan air mendongak ke arah Haikal.


"Aaakkkhh, sakit Haikal!" Rintih Karin saat Haikal semakin kencanggg menjabakkk rambutnya.


"Harusnya kau berfikir 2 kali Nona, sebelum berencana untuk mencelakaiii Nona Muda ku! Kau tahu, saat ini kau berurusan dengan siapa!" Ucap Haikal dengan suaranya yang dingin.


Karin berdecih, "Cih! Kau tidak akan mampu melukai ku, Haikal! Aku ini wanita ke sayangan Pram!" Ucap Karin dengan percaya diri.

__ADS_1


Haikal melepaskan tangannya dari rambut Karin dan beranjak.


Haikal menyeringai, "Apa kau ingin tau bagai mana nasib orang bayarannn mu, Nona Karin!"


Karin menatap tajam Haikal, orang orang suruhan ku tidak mungkin tertangkap.


Prak.


Haikal melemparkan beberapa lembar foto yang kini berserakan di lantai.


"I- ini tidak mungkin! I- itu bukan mereka!" Karin tercengang dengan terbata bata, kaget dengan apa yang ada di dalam lembaran foto yang ia lihat.


Pria bayarannn yang baru saja ia perintah kan untuk menabrak Naira, tampak ke dua tangannya di potonggg hingga sebatas lengan.


Dengan ke dua matanya yang mengeluarkan darahhh segar, ke dua kakinya terdapat luka bekas senjata tajam dan yang membuatnya tercengang. Terdapat seonggok daging seperti lidah, yang berada tidak jauh dari tubuh pria itu.


Beberapa lembar lainnya nampak foto pria yang ia suruh untuk membakar kedei Naira dengan keadaan yang tidak jauh mengenaskan.


"Kalian kejammm! Kalian akan aku lapor kan pada polisi karena telah menghilangkan nyawa seseorang, kau juga sudah menculik ku." Ucap Karin dengan suara yang bergetar, aku harus bisa kabur dari tempat ini. Jika tidak, nasib ku bisa saja lebih buruk dari orang bayarannn ku itu! Aku tidak boleh mati konyol di sini!


Dor dor dor.


πŸ‚Di rumah sakitπŸ‚


"Maaf jika ke hadiran saya mengganggu pak Pram." Ucap Angga yang kini berdiri di depan Pram.


"Apa yang ingin kau bicarakan pada ku?" Tanya Pram datar dengan memberi perintah pada Angga untuk duduk di sampingnya.


Angga mendudukan dirinya di samping Pram, "Ada yang ingin saya sampaikan pada pak Pram. Mengenai kedei Naira yang terbakar itu, saya memang tidak tahu siapa pelakunya. Tapi beberapa hari sebelum kejadian kedei terbakar, saya melihat Elsa dengan seorang model tengah berdebat di depan kedei. Entah itu bisa di kaitkan dengan kedei atau tidak, tapi setelah ke jadian itu. Elsa jadi tampak kurang fokus pada saat bekerja."


Pram mengerutkan keningnya dan menatap tajam pada Angga, "Apa kau mencurigai Elsa?" Tanya Pram dengan serius.


"Tidak sengaja saya mendengar Elsa sedang berbicara di telpon dengan seseorang, dia menolak untuk melakukan pembakaran, baginya itu sama saja dengan penghianatan. Saya juga tidak menyangka jika yang Elsa maksud adalah pembakaran kedei."


"Ka!"


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2