Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Kegaduhan


__ADS_3

...💖💖💖...


Aku pun langsung mengistirahatkan tubuh ku yang lelah di atas kasur.


Pram turun dari helikopter, ia langsung berlari menuju kamarnya.


Senyum mengembang tampak di sudut bibir Pram dari sejak ia turun dari helikopter.


"Naira, aku pulang!" Serunya saat langkah kakinya hampir sampai di kamarnya.


Pram memikirkan kalimat apa yang harus ia ucapkan pada Naira setelah bertemu nanti, tangannya masih berada di handle pintu, "Aku minta maaf! Naira aku minta maaf, ah apa ya!" Pram berkali kali menggelengkan kepalanya.


Saat ini dia pasti sudah tertidur lelap, besok aku harus bangun lebih dulu darinya, baru aku bilang maaf padanya.


Setelah hatinya mantap dengan apa yang akan ia ucapkan, Pram membuka handle pintu.


Ceklek, ceklek, ceklek.


"Ah sialll, ada apa dengan pintunya? Apa iya rusak?" Sambil menggerutu Pram mencoba untuk membuka pintu kamar yang selama ini menjadi tempatnya berbagi udara saat bersama dengan Naira.


Tok tok tok.


"Nai! Buka pintunya Nai, Naira! Ini aku sudah pulang!" Pram berseru di depan pintu, berharap ada suara sahutan dari Naira yang ia pikir tengah tertidur pulas.


Pram berdiri di depan dinding pembatas dengan tangannya yang memegangi dinding pembatas.


"Dedi!" Teriak Pram memanggil nama kepala pelayan rumahnya.


"Saya, Tuan!" Pak Dedi berseru dari lantai bawah dengan kepala menoleh ke arah atas, tempat di mana Pram tengah menunggunya.


Pak Dedi mempercepat langkah kakinya untuk sampai ke lantai atas, aku harus mengatakan apa pada Tuan, jika sampai Tuan tahu Nona Muda tidak ada di kamarnya.


Sampai di lantai atas, nafas pak Dedi ngos ngosan.


"Saya, Tuan." Ucap Dedi saat sudah berada di depan Pram, hatinya kian takut jika Tuan nya ini akan mengamuk apa lagi di luar dugaannya, ternyata Pram pulang lebih awal dari perkiraan Dedi itu sendiri.


"Coba buka pintunya!" Pram memerintah pak Dedi untuk membuka pintu kamarnya.


"Tidak bisa, Tuan... saya tidak bisa membuka pintu kamar Tuan." Ujar Dedi.


Pram memicingkan mata, menatap tajam pak Dedi. Percuma alu memanggilnya!


"Kau menyimpan kunci serepnya kan Dedi? Cepat ambil!" Ucap Pram tegas.


"Emmm, anu Tuan, itu saya---"


Pram tidak lagi menghiraukan perkataan pak Dedi yang ada di depannya, pikirannya fokus melalang buana pada Naira yang ada di dalam kamar.


"Apa mungkin dia pinsan karena lapar ya?" Gumam Pram.


Pram menghampiri pintu kamarnya lagi dan menggedor gedor pintu berkali kali.


Dug dug dug dug.


"Naira, buka pintunya!" Wajah panik nampak jelas dari wajah tampan Pram.

__ADS_1


Pak Dedi yang melihat di buat terperengah namun hati kecilnya ingin tertawa, bagai mana jika Tuan sampai tahu jika Nona tidak ada di dalam kamar? Tunggu, sepertinya Tuan Pram mengira terjadi apa apa dengan Nona Muda di dalam kamar? Huh setidaknya itu lebih baik.


"Naira! Buka pintunya, dalam hitungan ke 3... jika kau tidak juga membuka pintunya, ku dobrak ya!" Seru Pram dengan tangan kanan bertumpu pada pintu yang masih tertutup rapat.


Penjaga yang ada di lantai bawah pun langsung menoleh ke lantai atas, mendengar kegaduhan yang di buat oleh Tuan nya.


Haikal dan Dega yang sudah berada di lantai bawah juga ikut di buat panik, ia bertanya pada penjaga lainnya yang ada di sana.


"Apa yang terjadi?" Tanya Haikal.


"Bukankah Tuan sedang di Jakarta?" Tanya Dega.


"Ada apa ini, pak? Saya seperti mendengar suara pak Pram?" Kini Amarta yang ikut bertanya pada Haikal, Dega dan penjaga rumah.


"Kalian berisik sekali!" Seru penjaga rumah.


Dega menatap malas pada Amarta, "Ini lagi, lampir tau tau nongol!" Seru Dega dengan ketus saat melihat Amarta.


"Iiih, dasarrr kau gendooo." Ketus Amarta mengatai Dega.


"Apa kau lihat lihat?" Ketus Dega.


Haikal menggaruk kepalanya frustasi, "Kalian kenapa jadi bertengkar sih?" Ucapnya tegas.


"Percuma bertanya pada kalian!" Seru Amarta yang kini memilih untuk menaiki anak tangga.


"Mau apa anak itu?" Dega menyenggol lengan Haikal dengan sikunya.


"Sepertinya dia akan menanyakannya langsung pada Tuan Pram!" Seru Haikal yang kini melangkahkan kakinya menyusul Amarta menuju lantai atas.


Pak Dedi ikut mengikuti arah Pram yang melihat Amarta, mau apa dia?


Amarta melangkah maju, "Tadi saya mendengar suara Tuan ribut ribut."


"Kapan Tuan kembali?" Tanya Haikal yang kini ikut melangkah maju mendekati Tuannya Pram.


"Belum lama." Pram menjawab dengan cuek.


"Kenapa Tuan masih di luar? Tuan tidak masuk ke dalam?" Tanya Amarta dengan polosnya.


"Bagaimana saya bisa masuk, jika yang di dalam sana tidak mau membuka pintunya." Ketus Pram.


"Pintunya di kunci?" Tanya Haikal.


"Kalian berisik sekali! Enyah kalian!" Pram memberi perintah dengan menoleh kepalanya ke lantai bawah.


"Kalo begitu kami permisi, Tuan." Ucap Haikal yang menarik tangan Amarta untuk ikut serta turun ke lantai bawah.


Dega berjalan di belakang Haikal dan juga Amarta.


"Iiih lepas!" Amarta menarik tangannya yang di genggam Haikal, "Cari cari kesempatan aja kau ya!" Seru Amarta yang mendahului Haikal di saat tangannya berhasil lepas dari genggaman Haikal.


"Dasarrr lampir!" Dumel Haikal.


Kini tinggal Pram dan juga pak Dedi yang tinggal di lantai atas.

__ADS_1


Aku harap Tuan tidak akan marah jika tahu Nona Naira tidak ada di dalam kamarnya.


Pram memegang handle pintu kembali, mencobanya untuk membuka pintu kamarnya sekali lagi.


Ceklek ceklek ceklek.


Pintu masih terkunci rapat.


Pram mengepalkan tangannya, membayangkan hal buruk terjadi pada Naira di dalam kamar, bagaimana jika Naira benar benar pinsan di dalam sana? Dia tergeletak di atas dinginnya lantai marmer, di bawah sinar terang bulan... wajahnya yang cantik, bibirnya yang ramun pasti kini sudah berubah pucat.


"Aku harus mendobrak pintu ini." Pram mengambil ancang ancang untuk mendobrak pintu kamarnya.


Deg deg deg.


Jantung pak Dedi semakin di buat tidak karuan melihat Tuannya.


Dedi menatap pintu kamar dan Pram secara bergantian, "Haduuh bagai mana ini, Tuan akan sangat marah besar jika tidak menemui Nona di dalam kamar!" Gumam pak Dedi dengan mengepalkan tangannya.


Pram mendorong pintu kamarnya dengan lengan kanannya yang di dorong kuat.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


Gubrak.


Pintu berhasil di buka setelah dobrakan yang ke 3.


Haduuuh bagai mana ini, mati lah aku. Pak Dedi menggigit bibir bawahnya mendapati Tuannya yang berhasil mendobrak pintunya.


Pram masuk ke dalam kamar, mencari sosok wanita yang dalam bayangannya tengah tergeletak lemah di lantai dinginnya marmer


"Naira! Naira! Kau di mana!" Seru Pram setiap membuka pintu yang terdapat di dalam kamarnya satu persatu.


Pak Dedi pun berpura pura ikut mencari keberadaan Nona Muda nya.


"Apa kau menemukan nya?" Tanya Pram pada Dedi.


"Tidak pak, Nona tidak ada di setiap ruang." Ujar pak Dedi, maaf pak, saya berbohong.


Pram mencoba mencarinya sekali lagi, berharap bisa menemukan Naira.


"Sayang, kamu di mana? Naira! Nai! Jangan bersembunyi Nai!" Pram memukul angin, "Ahhh sialll... kemana dia!"


Pak Dedi membola, apa aku tidak salah dengar, pak Pram memanggil Nona dengan kata sayang? Apa itu artinya Tuan Pram pada Nona?


Pram menatap CCTV yang ada di dalam kamarnya, "Apa? Tidak mungkin!"


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2