Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mengabaikan


__ADS_3

...💖💖💖...


"Jelas kau harus beruntung! Hanya aku satu satunya pria yang tampan, berani, berkarisma, kaya raya, berkuasa, akan melakukan apa pun demi mu!" ucap Pram dengan bangga.


"Iya iya iya, apa pun itu. Terserah dengan apa yang ingin kau katakan ka! Apa aku harus memakai pakaian yang itu lagi ka?" tanya Naira, dengan tatapan yang mengarah pada pakaian pasien yang tadi iya kenakan. Kini teronggok di lantai kamar mandi karena tanpa sadar, Pram menghempaskan nya sembarang arah.


Pram menggelengkan kepalanya, "Tidak akan aku biarkan kau mengenakan pakaian yang sama, kau tunggu lah di sini! Aku akan mengambilkan dress untuk kau kenakan." terang Pram yang kini sudah melilittt kan handuk di pinggangnya.


"Gak pake baju pasien lagi ka? Apa aku sudah boleh memakai baju ku?" cecar Naira.


"Tentu sudah, apa pun yang kau ingin. Pasti di perbolehkan oleh dokter." Pram menyunggingkan senyumnya dan ke luar dari kamar mandi.


Ceklek.


Pram ke luar dari kamar mandi, mengerutkan keningnya saat mendapati Zang yang kini terbaring di atas sofa. Tatapannya semakin menajam, saat indra pendengaran nya mendengar gerutuan batin Zang.


Zang membatin, itu pasti ka Pram yang ke luar dari kamar mandi. Pasti mereka lama di kamar mandi karena sudah ngina nginu. Curang sekali, hanya membuat ku pengen saja. Tidak tahu apa jam segini bar milik ka Takeshi masih tutup. Harus kah aku menunggun hingga larut, untuk bisa melakukan apa yang ka Pram lakukan dengan kaka ipar?


Pram melangkah ke arah Zang, sialnnn... jadi rupanya bocah ini sudah bangun!


"Ehem ehem! Mau berapa lama lagi kau berpura pura tidur, bocah nakal!" gerutu Pram yang kini berdiri di dekat Zang.


Zang mengulet, mengendurkan urat urat pada tangan dan kakinya yang kaku. Dengan membuka matanya perlahan.


"Eh ka Pram, dari mana ka? Wah ka Pram sudah mandi? Ini sudah jam berapa sih?" tanya Zang dengan berpura pura kaget, saat melihat Pram yang sudah segar dengan rambut yang masih basahhh, dan bertelanjang dada.


"Jangan pura pura bodoh! Nanti kau akan bodoh beneran! Pergi sana! Carikan aku sesuatu yang bisa di makan!" oceh Pram.


Zang menurunkan ke dua kakinya dari atas sofa. Menatap punggung Pram yang kini berjalan, menuju lemari yang ada di dalam kamar VVIP Naira di rawat.


"Bukan kah belum lama ini kaka sudah makan? Bagai mana mungkin, ka Pram sudah merasa lapar lagi?" Zang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung dengan maunya Pram.


"Kau lakukan saja apa yang aku katakan!" dengus Pram yang kini sudah mengeluarkan sebuah dress dari dalam lemari, lengkap dengan sepasang kain kecil untuk menutupi bagian inti dan si kembar bulat milik Naira.


"Apa kaka ipar sudah boleh meninggalkan rumah sakit, ka?" tanya Zang, dengan tatapan yang mengarah pada apa yang di bawa Pram di tangannya.


Pram menggelengkan kepalanya, "Orang yang banyak bertanya, akan semakin sedikit usianya!" celetuk Pram dengan meninggalkan Zang begitu saja.

__ADS_1


"Dasar ka Pram dan ka Takeshi, sama saja!" Zang meninggalkan ruang rawat Naira.


Pram masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mengetuk pintu lagi. Membuat Naira yang sedang fokus, pada pantulan dirinya di depan cermin jadi terperanjat kaget.


Ceklek.


"Astaghfirullah! Ka Pram! Mengagetkan ku saja! Apa gak bisa mengetuk pintu dulu?" sungut Naira dengan jengkel.


Pram terkekeh, "Ahahahha." menyerahkan apa yang ia bawa pada tangan Naira, "Kau pakai ini!"


Naira meletakkan pakaiannya di atas tepian westafel, "Apa yang kaka tertawakan, memang ada yang lucu apa!"


"Ada, wajah mu sangat lucu saat kau terkejut. Seperti kau sedang melihat hantu. Ahahhaha sangat lucu!" Pram kembali tergelak, melihat wajah Naira yang tampak lucu di matanya.


"Dasar pria aneh! Sana ke luar! Tidak lihat apa aku mau pakai baju!" Naira menatap jengkel Pram yang masih anteng berdiam diri, menatap dirinya.


"Tidak, aku akan mengawasi mu! Kali saja kau akan butuh bantuan ku!" Pram menyandarkan punggungnya di dinding kamar mandi, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada. Sepasang mata elangnya mengamati tubuh Naira.


Naira mengenakan pakaiannya dengan memunggungi Pram, Dress sebatas lutut yang Pram bawakan, memiliki resleting di belakang, dengan agak panjang, membuat tangan Naira sulit untuk menjangkaunya.


Pram melangkah maju, mendekat dan berdiri di belakang Naira tanpa di minta.


"Biar ku bantu!" ucap Pram.


Tangan Naira memegangi rambutnya ke atas, mempermudah Pram untuk menarik resletingnya. Namun dengan tindakan Naira, membuat jiwa mesummm Pram kembali meronta ronta.


Pram menatap leher jenjang Naira yang tampak menggoda, membuat Pram menelan salivanya, jakunnya bergerak naik turun. Namun saat tatapannya semakin turun pada punggung Naira, mendapati punggung Naira yang berbalut perban plastik yang menutupi bekas jahitan. Membuatnya mengepalkan tangannya.


"Apa ini masih sakit?" tanya Pram dengan tangannya yang menyentuh bagian punggung Naira yang masih berbalut perban.


Naira menggelengkan kepalanya, "Hanya sedikit jika aku terlalu banyak bergerak."


Cup.


Pram mendaratkan kecupan hangat di punggung Naira.


Pram membiarkan Naira beristirahat di kamarnya, dengan Toda yang kini menemani Naira di ruang rawat.

__ADS_1


Pram menemui dokter Akira di ruangan dokter.


"Saya ingin besok setelah sarapan, istri saya bisa ke luar dari rumah sakit, dok!" ujar Pram yang mengutarakan maksud ke datangannya ke ruang dokter.


"Bisa saja, asal selama masih menggunakan perban plastik, Nona masih harus kontrol ke dokter, untuk mengecek apa kah jahitan nya sudah menyatu. Jika memang sudah memungkinkan, perban plastik itu sudah bisa di lepas dari punggung Nona!" ucap dokter Akira panjang lebar.


"Ke betulan di Indonesia, saya memiliki dokter pribadi, dokter yang sudah menangai Naira saat sakit." terang Pram yang merasa kini dokter Samuel ada gunanya kembali untuk Naira.


Dokter menganggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang di katakan Pram.


"Terima kasih atas bantuannya selama ini dokter!" Pram mengulur kan tangan kanannya ke depan dokter Akira.


Dokter akira menyambut uluran tangan Pram dan mereka saling berjabat tangan.


"Itu sudah menjadi ke wajiban saya sebagai dokter." terang dokter Akira.


Pram kembali ke ruang rawat Naira dengan senyum yang tersungging. Dengan tangannya yang merogoh saku celananya. Mencoba menghubungi seseorang di Indonesia.


[ "Astaga bos, ku pikir kau lupa untuk menghubungi ku!" ] sungut Dev dari sebrang sana.


"Kau pikir aku ini amnesia hah! Sampai mengatakan aku lupa? Apa kau sudah bosan untuk hidup?" sungut Pram dengan suaranya yang datar.


[ "Jika aku sudah bosan hidup, sudah lama aku tinggalkan ini hotel, bos! Ku biarkan saja... beberapa hotel mu berantakan setelah di tingggal pemiliknya berbulan madu!" ] ucap Dev dengan ketus.


Pram mengerutkan keningnya, dengan tergelak ia berkata, "Kau mengancam ku? Kau tidak akan mungkin bisa meninggalkan hotel ku, Dev! Dalam jiwa mu... sudah terpatri untuk mengabdikan hidup mu untuk ku! Hahahha"


[ "Apa kau sedang menguji ku, bos? Kau kan sudah tau... apa jawaban yang akan aku berikan!" ]


Seperti biasa, Pram akan mengabai kan perkataan yang menurutnya tidak lah penting untuk di tanggapi. Pram memberikan pertanyaan pada Dev.


"Bagai mana dengan hotel ku di Indonesia dan negara lainnya, tidak ada masalah kan?"


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2