
...💖💖💖...
"Pakai mobil yang biasa aja, jangan lupa tongkat penyanggah untuk ku!" Seru ku dengan memasang senyum semanis mungkin.
Pak Pram menghela nafas kasar dan bangkit dari duduknya berjalan menghampiri ku.
Mati dah lu, pak Pram mau ngapain nih.
Pak Pram menatap wajah ku yang tiba tiba tegang, seru juga jika aku kerjain!
"Bapak, mau apa lagi! Ini kita lagi sarapan lo!" Seru ku dengan menghadang tubuhnya dengan sendok di tangan kanan ku agar tidak semakin mendekat ke arah ku.
Pak Pram menahan tangan kanan ku dengan tangan kanannya, tangan kirinya menahan tengkuk leher ku, ia memiringkan kepalan ku dan benda kenyal itu menempel lagi di cuping ku, turun ke leher.
Pak Pram melakukan apa yang ia lakukan tadi saat di kamar hanya bedanya ini leher ku yang jadi korban, tidak suci lagi leher ku akibat ulah nakal bibir pak Pram yang mesummm.
Pak Pram menggigit kecil, menye sapnya, lidahnya bermain main di sepanjang leher ku yang jenjang.
"Emmm, pak!" Erangan nakal ke luar begitu saja dari bibir ku yang mungil, siallll bisa gila gw kalo kaya gini terus, pak Pram gila, sintinggg, rubah tua, mesummm.
Trang.
Sendok yang ku genggam lepas dari tangan ku dan jatuh ke lantai.
Tab tab tab.
Langkah kaki Pak Dedi yang berlari ke arah ruang makan, tempat di mana aku dan pak Pram berada.
"Anda tidak apa apa, Tuan?" Tanya pak Dedi dengan terpaku di tempatnya berdiri atas apa yang tidak seharusnya ia lihat, bodoh kenapa tidak aku lihat dulu dan langsung bertanya, mati lah sudah riwayat ku, bagai mana ini. Pak Dedi merutuki kebodohannya sendiri.
Tadi pagi pak Pram yang bertingkah dan bertindak bodohh, sekarang anak buahnya yang tidak lain adalah kepala pelayan alias pak Dedi. Memang sebelas dua belas bawahan dengan atasannya.
__ADS_1
Pak Pram enggan melepaskan bibirnya dari leher Naira, lagi lagi Dedi mengganggu ku! Awas kau ya Dedi!
"Pak! Sudah, ada pak Dedi! Aku bisa telat pak!" Ku coba berusaha melepaskan diri dari rubah tua yang hilang kendali ini dengan mendorong tubuhnya dengan tangan kiri ku.
Ku balikan badan ku, "Maaf pak, saya tidak lihat apa apa!" Lalu aku pergi meninggalkan pak Pram yang sedang berbuat mesumm pada istri kecilnya di ruang makan, bukan tempat yang seharusnya.
Setelah pak Dedi pergi, pak Pram baru melepaskan leher ku dari bibir mesummmnya, ke dua tangannya merapihkan rambut ku dan berusaha menutupi tanda kemerahan yang ia tinggalkan di leher ku yang putih mulus tanpa celah.
Bugh.
Kepalan tangan ku melayang di perutnya yang sispeck, "Bapak, jahat! Bagai mana ini jika ada teman ku yang melihatnya!" Seru ku marah.
Pak Pram duduk kembali di kursinya dengan santai, seolah tidak terjadi apa apa dan tidak merasa telah membuat ibu singa mengamuk.
"Memang kenapa dengan leher mu? Apa yang membuat mu malu dari teman teman mu? Hem!" Tanyanya dengan nada datar menahan tawa karena melihat ku yang mengerucutkan bibir ku, bagi pak Pram itu imut.
"Jangan memancing ku lagi, Naira! Mau kau tidak ku izinkan untuk tidak ke sekolah hari ini? Ku buat kau tidak bisa jalan dan hanya terbaring di ranjang?" Ancam pak Pram.
"Hanya beberapa." Ucap pak Pram enteng, "Tau dari mana tentang hal itu? Apa kau pernah melakukannya sebelum dengan ku? Jawab yang jujur!"
"Bapak kalo ngomong enak banget sih! Gak pake di saring dulu itu bibir kalo bacot!" Ucap ku ketus.
Entah kenapa semenjak kenal dan tinggal bersama dengan pak Pram, aku merasa ini bukan lah diri ku yang seutuhnya. Di dekatnya aku mudah sekali meluapkan kekesalan ku, keluh kesah ku dan emosi ku menjadi meledak ledak saat ada saja masalah yang menimpa, atau masalah yang di timbulkan dari pak Pram.
Pak Pram melihat diri ku yang sudah selesai sarapan.
"Dedi!" Pak Pram memanggil nama Dedi.
Dedi berdiri di samping pak Pram setelah sebelumnya ia membungkuk patuh pada pak Pram.
"Apa mobil yang akan membawa Naira ke sekolah sudah siap?" Tanya nya.
__ADS_1
"Sudah dari tadi, Tuan?" Seru pak Dedi.
Pak Pram bangun dari tempat nya duduk, pak Pram membawa ku dalam gendongannya masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintunya untuk ku.
Pak Pram mendudukan ku di kursi belakang dan di sana ku lihat sudah ada tas dan dua buah tongkat penyanggah ku.
Pak Pram mengeluarkan benda dari dalam dompetnya dan menaruhnya di dalam saku baju seragam ku.
"Buat apa bapak menyerahkan kartu itu pada ku, pak?" Tanya ku.
"Tentu saja agar kau gunakan untuk membeli barang yang kau butuhkan!" Seru pak Pram.
"Emang apa yang mau aku beli, pak?" Tanya ku
Pak Pram menutup pintu mobil, lalu mengetuk kaca mobil supir.
"Lakukan seperti apa yang sudah aku katakan pada mu!" Seru pak Pram.
"Baik, pak."
Kini pak Pram beralih ke arah ku.
"Jangan nakal ya!"
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1