Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Naira kepo


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Tidak jauh dari ruko, Daren menatap tajam ke dalam ruko yang terbuka itu.


"Apa mungkin status mereka hanya kekasih? Tapi kenapa sedekat itu? Aku harus tahu apa Naira dan Pram tinggal bersama atau tidak." Gumam Daren.


Di tengah pantauannya seorang diri Daren melupakan satu hal.


Kruk kruk kruk kruk.


Perutnya berbunyi minta di isi.


"Ah sial, aku lupa belum makan." Gerutunya kesal.


Daren menatap ke arah ruko yang tadi di masuki Naira, "Mereka pasti akan lama, aku tinggal saja lah dulu... nanti baru aku pantau lagi." Daren bermonolog sendiri.


Daren pun memutuskan untuk memasuki ruko penjual bakso yang berada tidak jauh dari ruko penjual seblak.


...πŸ‚ Di tempat lain πŸ‚...


Di gedung pencakar langit, Hotel Pelangi Dev di sibukkan dengan persiapan hotel yang akan segera melakukan opening.


Semua sudah di atur sedemikian rupa, kartu undangan pun sudah di kirimkan, semua sudah di perhitungkan dengan matang, belum lagi acara opening hotel kali ini akan melibatkan beberapa stasiun televisi swasta yang akan meliput selama acara opening berlangsung.


Tidak main main, Pram juga mengundang beberapa artis ternamaan, semua koleganya baik itu yang di dalam negeri maupun yang di luar negeri, Pram juga mengundang beberapa band papan atas yang akan menghibur para tamu undangan.


Dalam setiap usahanya, Pram tidak pernah melibatkan Aji. Baginya Aji hanya orang lain, orang tua yang tidak pantas di panggil ayah, orang tua yang sudah mengabaikannya.


Setelah lulus SD Pram melanjutkan sekolah SMP-nya dengan di masukkan ke pesantren tanpa sekali pun di jenguk Aji.


Meeting yang di lanjutkan Dev pun berjalan dengan lancar. Untuk acara opening Dev juga sudah menghubungi pihak WO untuk mengurus segala macamnya.


Dengan gagahnya Dev berjalan melewati lobby hotel dengan tangan kanannya membawa tas kerjanya menuju pintu utama hotel dan seorang pria berbadan tinggi dengan baju hitam membukakan pintu mobil untuknya.


Di saat Dev akan memasuki mobil, tatapannya tertuju pada seseorang yang mengenakan topi dengan jaket hitam tengah celingukan dari gerbang hotel.


Tatapan mata Dav memicing, orang itu mencurigakan sekali! Mau apa orang itu?


Di saat pria yang mencurigakan itu beradu pandang dengan Dev, orang itu langsung menutupi wajahnya dengan topi, lalu ia berbalik badan dan berlari menjauhi gerbang hotel.

__ADS_1


"Woy!" Dev berteriak, "Pak kejar orang itu!" Dev berteriak dengan menunjuk jari tangan kanannya ke arah gerbang hotel.


Beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari gerbang langsung mengejar orang yang di curigai Dev.


Dev pun ikut mengejar orang itu. Namun sayangnya Dev dan orang orang yang mengejarnya kehilangan jejak.


Dev menendang angin dengan nafas yang ngos ngosan, "Sialll, pake kehilangan jejak!" Serunya.


Yang tadinya Dev akan pulang pun mengurungkan niatnya dan memilih masuk ke dalam hotel kembali menuju ruang CCTV.


Sementara di gang sempit yang tidak jauh dari berdirinya Hotel Pelangi, seorang pria tengah membungkukkan tubuhnya sambil mengatur nafas setelah berhasil menghindar dari orang orang yang mengejarnya.


Pria itu membuka topi yang ia kenakan lalu mengipaskannya pada tubuhnya sendiri, "Siallll, sudah tidak berhasil menemuinya, aku malah hampir tertangkap... awas kau Pram! Tunggu saat kita bertemu nanti, saat itu pula ajal lebih dekat dengan mu!" Pria itu mengepalkan tangannya dengan wajah yang merah padam menahan kesal.


Pria itu mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, setelah mendil nomor telepon yang ia tuju langsung benda pipih itu menempel di telinga kanannya.


"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menyingkirkannya?" Tanya seseorang yang di hubunginya.


"Maaf bos, target tidak terlihat." Jawab pria itu.


"Awasi terus hotel itu, besok pasti dia akan datang."


"Bodohhhh, awas saja jika kau sampai tertangkap dan menyebut nama ku!" Sosok itu mengancam pria yang sudah di bayarnya mahal.


"Jika saya tertangkap, saya tidak mungkin bisa menghubungi anda bos!" Serunya dengan tangan kiri mengepal.


Sambungan di putus oleh seseorang yang di panggilnya bos.


πŸ‚Kembali pada DevπŸ‚


Setelah berhasil mencari tahu siapa orang yang mencurigakan itu, Dev langsung mengerahkan orangnya untuk mencari keberadaan orang itu dan melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi pada hotel.


"Orang itu pasti mengincar pak Pram." Dev bermonolog sendiri.


Dev langsung menghubungi Pram lewat benda pipihnya.


πŸ‚ Di ruko seblak.πŸ‚


Di saat kami tengah makan seblak, hape ka Pram yang ada di saku celana yang ia kenakan berdering.

__ADS_1


Tring tring tring tring


Pram pun menjawab sambungan teleponnya lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya.


"Ada apa, Dev!" Tanya Pram datar.


"Apa saat ini bapak ada di luar?" Tanya Dev.


"Iya, katakan saja." Peam memperhatikan Naira yang makan dengan lahapnya.


"Saya harap bapak untuk sementara waktu ini lebih berhati hati, pak." Ucap Dev lewat sambungan telponnya.


Pram Mengerutkan keningnya. "Memangnya ada apa?"


"Jadi begini, pak... tadi saya melihat ada seseorang yang mencurigakan tengah berdiri di depan gerbang hotel..." Dev pun menceritakannya pada Pram.


Sesekali Pram di buat menghela nafas panjang, kening mengkerut, wajahnya tampak tegang.


Aku pun merasa ada yang aneh saat mata ku menatap sorot mata dan eksperi yang di perlihatkan ka Pram yang tengah fokus mendengarkan seseorang yang sedang menelponnya justru membuat ku merasa curiga, karena yang ada di pikiran ku adalah seorang wanita yang sedang menghubungi ka Pram.


Naira memicingkan matanya dengan telinga yang siap ikut mendengarkan apa yang di bicarakan Pram dan si penelpon.


Aku pun menegakkan tubuh ku dengan mencondong kepala ke arah telinga Pram.


"Siapa sih yang pake telpon, ganggu orang lagi makan aja!" Dumel ku.


Novi dan Serli tengah asik menikmati seblak, sesekali melirik tingkah Naira yang sedang kepo pada Pram.


Panggilan telpon di akhiri Pram. Lalu Pram menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


Pram melihat Naira yang tengah duduk dengan punggung tegak, kepalanya condong ke arahnya, sedangakan matanya dan tangannya fokus pada seblak. Hingga mulutnya tetap mengunyah seblak.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Pram.


Bersambung....


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2