
...💖💖💖...
Pram membelalakkan matanya saat dirinya sudah duduk di belakang kemudi, "Apa? Kau ingin menjenguknya?"
Naira hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Kalian juga?" Pram bertanya pada Serli dan Novi lewat kaca spion.
"Jujur nih ya, gw mah males banget pak jengukin itu anak." Ucap Novi dengan menyandarkan punggung nya pada kursi.
"Saya mah ikut apa kata Naira aja lah pak." Terang Serli.
"Nai?" Pram menoleh ke arah Naira dengan tangannya yang mengena kan sabuk pengaman pada pinggang nya.
"Udah jalan aja ka, jengukin orang sakit itu dapat pahala tau! Menjaga tali silahturahmi juga kan!"
Pram pun memacu kendaraannya meninggalkan area sekolah Naira. Dengan di ikuti beberapa bodyguard bayangan, yang selalu serta mengikuti arah ke mana perginya Naira.
"Tau gak ka, hari ini tepat 4 hari sudah Elisa gak masuk sekolah. Dan ternyata Elisa itu masih ada hubungannya dengan model yang pernah dekat dengan ka Pram itu." Ujar Naira dengan sesekali memperhatikan wajah Pram yang fokus dengan jalan.
Pram tampak biasa saja, tidak ada rasa keterkejutan nya saat mendengar perkataan Naira.
"Karin, Nai. Nama model yang lo maksud itu namanya Karin." Serli meluruskan nama model yang Naira maksud.
"Kira kira itu Karin sama Elisa pergi ke mana ya? Bisa gitu menghilang di saat yang berdekatan." Ujar Naira yang masih memikirkan menghilangnya Elisa dan Karin.
"Kalian tahu dari mana Elisa dan Karin menghilang?" Pram menoleh sesaat pada Naira berpura pura tidak tahu apa apa.
"Berita menghilangnya Elisa dan Karin itu sudah tersebar ka di sekolah, bahkan ada yang bilang jika mereka di culik, lalu di jual ke luar negeri." Terang Naira.
"Kalo gw berharap itu anak terdampar di pulau terpencil, terus tubuhnya itu di makan sama binatang buas!" Sungut Novi.
Plak.
Serli yang duduk di samping Novi, melayangkan tangannya pada lengan Novi.
"Sadisss amat si pemikiran lo!" Sarkas Serli.
"Biarin, biar gak ada orang yang kaya dia lagi. lo mikir deh, gw sama anak kedei yang lain pada terluka gara gara kebakaran di kedei itu, belum lagi Nai harus mengalami ke rugian yang jumlahnya itu gak sedikit, nah itu anak luka ga? Malah ga ada empatinya sama sekali ke Naira, atau pun yang lain. Satu lagi, gw curiga sama Elisa, cuma gw gak berani bilang sama kalian." Gerutu Novi dengan berapi api.
__ADS_1
Pram yang mendengarkan nya pun mengerutkan keningnya, apa yang anak ini tau dari Elisa?
"Lo tau apa, Nov?" Naira memiringkan tubuhnya ke arah belakang, tempat di mana ke dua sahabatnya duduk.
"Tau nih, lo tau apa tentang Elisa? Kenapa selama ini lo diem aja?" Sungut Serli.
"1 hari sebelum ke jadian tuh ya, gw mergokin Elisa lagi marah marah mulu di telpon nyebut nama ka Karin.
...☘️Flashback Novi....
Novi yang berniet ingin membuang sampah dapur ke tong sampah luar kedei. Mendengar Elisa yang tengah berbicara di telpon di samping bangunan.
"Apa lagi sih ka? Itu kan cuma sekedar saran dari gw buat bakar kedei, ancurinnn kek itu masa depan Nai, terserah mau gimana pun cara lo! Intinya gw udah kasih saran ke lo ka Karin! Duit lo kan banyak, lo bisa aja suruh orang buat bakar kedei ini, tapi setelah gw ninggalin itu kedei, baru lo bakar deh itu kedei." Sungut Elisa pada seseorang di telpon, dengan memunggungi dinding.
Novi yang mengupingnya di buat geram dengan tangan yang mengepalll, sialannn itu anak, gak tau diri, udah di tolongin sama Nai, malah sekarang mau ngancurin ini kedei, sialannn lo Elisa.
"Ya udah, lo jangan lupa kabarin gw kalo udah dapet orangnya." Ucap Elisa dengan menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya.
"Sekarang gw hanya perlu bersabar buat beberapa hari lagi, setelah saatnya tiba, gw akan dapetin apa yang harusnya gw milikin. Makanya jangan sok baik di depan gw, Nai. Untung aja ide gw buat ngomporin Karin berhasil, dengan begitu Karin akan gelap mata dan berusaha lebih keras lagi buat rebut Pram dari Naira." Gumam Elisa.
Kreng.
"Siapa itu?" Elisa menoleh ke arah asal suara namun tidak ada siapa siapa saat ia melihatnya, Elisa pun memilih untuk kembali ke dalam kedei.
"Hampir aja gw ketawan, licikkk banget cara lo Elisa!" Gumam Novi yang bersembunyi di belakang tong sampah besar dengan berjongkok.
Flashback end.
Prak prak.
Serli menggeprak geprak paha Novi dengan gemas.
"Awwwh age lo, sakit!" Novi menepis tangan Serli dengan kasarrr.
"Ya lo begooo! Udah tau Elisa kaya gitu, tapi lo diem aja! Tanpa kasih tau Nai atau pun gw!" Sungut Serli.
"Itu kan terlalu cepet, gw. tuh pengen cari buktinya dulu, tapi malah gw duluan yang apes." Gumam Novi dengan suaranya yang merendah.
Naira menghembuskan nafas nya dengan kasarrr, "Sudah lah itu kan sudah terjadi, anggap saja itu teguran buat gw biar lebih berhati hati lagi pada orang yang ada di sekitar gw." Ujar Naira.
__ADS_1
Pram yang mendengarnya di buat tersendak dengan salivanya sendiri, "Uhuk uhuk."
Naira menoleh ke arah Pram, "Ada apa ka? Apa ada yang salah dengan perkataan ku?" Cicit Naira.
Pram menggelengkan kepalanya dengan satu tangannya mengelusss kepala Naira.
"Tidak ada, itu bagus jika kau punya pemikiran yang seperti itu!" Sialll kenapa aku merasa tersindirrr dengan apa yang di katakan nya! Seakan akan aku ini manusia paling jahat yang harus di waspadainya juga.
Mereka sampai di rumah sakit.
Langkah mereka membawanya pada sebuah ruang IGD, tempat di mana Ratna di rawat.
Novi memilih ke toilet karena sudah merasa kebelettt. Sedangkan ke tiganya kini berada di depan pintu rawat Ratna.
"Apa kaka akan masuk?" Tanya Naira pada Pram.
"Kau saja lah, aku akan menunggu mu di sini!" Pram menyentuh ke dua bahu Naira, lalu berbisik di telinganya.
"Jangan lama lama!" Ucap Pram yang malah membuat Naira bergidik dengan hembusan nafas Pram.
Di dalam ruang rawat ada Naira, Serli, ibunya Ratna serta Ratna yang masih terbaring di atas ranjang rawat. Dengan alat bantu pernafasan yang tersemat di hidungnya dan beberapa selang yang menancap pada tubuh Ratna.
"Kenapa Ratna bisa kaya gini, tan?" Tanya Naira dengan matanya yang mengiba dengan kondisi Ratna.
Wanita paruh baya menjelaskan dengan terisak, bulir bening terus menerobosss dari pelupuk matanya.
"Ratna mencoba untuk menggugurkan kandungan nya di salah satu tukang urut, namun sayangnya terjadi pendarahan dan tidak hanya sampai di situ saja, ada beberapa saraf Ratna yang membuatnya tidak lagi berfungsi dengan baik. Dengan kata lain, terjadi ke rusakan pada fungsi syaraf Ratna."
Serli tersentak kaget di buatnya, "Apa Ratna, hamil?"
Naira tercengang setelah mendengar penjelasan kondisi Ratna saat ini, "Hamil?"
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊