
...๐๐๐...
Haikal membawa Dani ke markas, seperti biasa. Jika sudah sampai di markas, siapa pun orangnya, pasti akan langsung masuk ruang eksekusi.
Dan ke luar dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Haikal kembali ke hotel start, setelah selesai dengan mayat Dani yang berakhir di kandang buaya.
Dalam perjalanan menuju hotel start. Hape-nya Haikal bergetar.
Dreeet dreeet dreeet.
Haikal langsung menyambungkan nya pada aerphon yang selalu terpasang di telinganya.
[ "Ayang paman, lo lagi di mana? Bisa ke kedei gak? Sekarang! Gw kangen nih wahahahha." ] Ujar Novi dari sebrang sana.
"Jangan ngadi ngadi, bocah plangton. Aku tidak bisa, lain kali saja." Haikal menolak kembali keinginan Novi.
[ "Ihs gitu ya! Kira kira, ayang paman bakal ngajak gw liburan gak nih, setelah pengumuman hasil ujian kelulusan ke luar?" ]
"Lihat nanti aja, apa yang kau ingin kan? Sebagai hadiah, mungkin!"
[ "Emmmm gw pengen ayang paman ada waktu buat gw, itu udah cukup ko. Hadiaaaah yang gak bisa tergantikan." ]
"Lain kali aja kalo itu. Selain itu apa? Apa kau tidak ingin perhiasan? Tas branded, barang barang branded mungkin?"
[ "Kalo gw pake barang branded, yang ada anak anak mikirnya jelek ke gw ayang paman. Tar di kira gw ini sugar baby lagi." ]
"Apa kau itu tidak merasa sebagai sugar baby? Lihat usia mu! Usia ku dan usia mu berbeda jauh kan, bocah plangton! Apa namanya kalo bukan sugar?"
[ "Ihs, beda lah. Lo itu cuma punya gw ayang paman, beda lagi kalo lo udah punya bini. Baru gw yang jadi sugar lo!" ]
Lagi enak bicara, Haikal mendengar suara ketukan pintu, di iringi suara teriakan dari sambungan teleponnya.
Tok tok tok
"Woy buru lah! Lama amat lo di dalam! Betelor lo, Nov!"
Haikal mengerutkan keningnya, "Kau lagi di dalam toilet, bocah plangton?" Tebak Haikal.
[ "Hehehe, nanti gw telpon lagi ya ayang paman. Dah ayang paman, hati hati dalam bekerja!" ]
Sambungan telepon berakhir, setelah Novi memutuskan sambungan teleponnya.
Haikal tersenyum tipis, pasti saat kau keluar dari toilet, habis kau di marahi teman mu bocah plangton.
Itu ke biasaan Novi setelah dekat dengan Haikal, apa lagi sekarang mereka menjalin kasih, Novi akan selalu mengganggu Haikal dengan dering telpon nya.
...๐Hotel start๐...
__ADS_1
Setelah selesai membelikan berbagai barang untuk Naira, kini ke duanya kembali ke ruang kerja Pram.
Naira menggandeng lengan Pram sepanjang langkahnya, "Aku baru kali ini loh! Belanja di toko, tapi kaya belanja online."
Pram menatap Naira, "Benarkah?"
"Iya lah, nanti belanjaan tadi benar langsung di antar ke ruang kerja ka Pram?"
"Tentu saja, apa kau mau barang belanjaan mu langsung di antar ke rumah?" Tawar Pram.
"Bisa ka?" Tanya Naira dengan bersemangat.
Naira dan Pram kembali masuk ke dalam lift, khusus eksekutif.
"Kita mau ke mana lagi ka?" Tanya Naira.
"Kita kembali dulu ke ruang kerja ku!"
"Apa ka Pram tidak ingin, mengajak ku ke tempat hiburan yang ada di hotel ini?" Naira menatap Pram dengan nata yang berbinar, penuh harap, ayo dong ajak aku! Kan pengen liet liet, ada wahana apa aja di sini.
Pram mencondongkan wajah nya, semakin dekat pada wajah Naira. Hingga kening ke duanya saling bertautan.
Pram mendaratkan bibirnya pada bibir Naira, melumattt bibir bawah Naira.
Ting.
Pintu lift terbuka.
"Udah sampe ka!" Cicit Naira, "Huh." Naira membuang nafasnya dengan lega, amaaan... gak ada orang yang mergokin gw yang lagi ciuman sama Pram.
Hap.
"Kyaaa."
Pram membawa Naira dalam gendongannya, ke luar dari kotak besi dengan bibirnya yang menyeringai.
"Memang kenapa kalo ada yang melihat aku mencium mu, hem?" Tanya Pram dengan dingin.
Naira mengalungkan ke dua tangannya pada leher Pram, "Yang pasti nya aku malu lah! Ciumannn ko di depan umum! Emang kaka gak malu apa?" Ucap Naira ketua, dengan bibir yang mengerucut.
"Aku tidak malu, aku melakukan nya dengan mu. Apa kau lupa, aku sanggup menghabisi siapa pun yang mengusik mu! Mereka yang berani menghina mu, menyakiti mu!" Ucap Pram.
Naira membola, "Apa? Kaka melakukan itu semua untuk ku?"
Bukannya menjawab pertanyaan Naira, Pram malah balik memberi kan pertanyaan pada Pram, "Menurut mu?"
Sreeek.
__ADS_1
Naira mencengkrammm rambut belakang Pram, membuat kepala Pram tertarikkk ke belakang pula.
"Awwwh Nai! Singkirkan tangan mu itu? Itu sakit Nai!" Keluh Pram yang tetap melangkah kan kakinya menuju ruang kerjanya.
Naira melepasss kan tangannya dari rambut Pram, ke dua tangan nya melipat di depan dada. Ke dua mata Naira menatap nyalang, bak elang yang ingin menguliti buruan nya, nada bicaranya yang tegas.
"Jawab pertanyaan aku ka! Benar atau gak. Kalo kaka menghabisiii orang cuma buat aku?"
Aku harus tau apa jawab Naira, jika tau yaiaku lakukan di belakang nya! Apa dia akan membenci ku? Atau terkesan pada ku?
"Mau itu benar atau tidak, apa masalahnya untuk ku?"
Naira langsung berontakkk dan meminta di turunkan dari gendongan Pram, saat ke duanya sudah berada di depan pintu ruang kerja Pram.
Pram menurunkan Naira dengan hati hati. Ke duanya saling berhadapan, dengan Naira yang memunggungi pintu ruang kerja Pram.
Ke dua mata Naira mengembun, ke dua tangannya mengepal, astaga... jadi seperti apa orang yang aku nikahi selama ini? Ka Pram ini manusia berhati malaikat, atau manusia yang benar benar kejammm tanpa belas kasih?
"Jika itu benar adanya, aku akan sangat membenci mu, ka! Itu nyawa orang ka! Apa sebegitu tidak berartinya, nyawa orang lain bagi mu, ka?" Ucap Naira dengan penuh ke marahan.
Bugh.
Naira memukul dada Pram, "Aku sangat membenci mu!"
Pram terperangah melihat reaksi Naira, kau tidak akan pernah bisa marah atau membenci ku Nai, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!
Naira membalikkan tubuhnya dan mrmbuka pintu dengan kasar.
Brak.
"Astaghfirullah!" Aisah yang duduk di sofa dalam ruang kerja pemilik hotel, terperanjat kaget saat pintu di buka dengan kasar, "Bu Naira?" Ucapnya saat melihat ke arah pintu, dan tahu siapa yang membuka pintu.
Naira langsung mengusap, bulir bening yang meluncur bebas dari matanya yang indah, membasahi pipi chabinya.
"Ka Aisah?" Naira melangkah, mendekati wanita yang ia cari tadi saat di restoran.
"Maaf sudah membuat mu menunggu lama!" Ujar Pram dari belakang Naira, menyamai langkah kakinya dengan Naira, tangan Pram langsung mendarat di bahu Naira.
Naira menatap wajah Pram, mau apa lagi ka Pram dengan ka Aisah?
"Tidak apa Tuan, maaf Tuan meminta saya ke sini untuk apa ya?"
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
......................
...๐ Bersambung ๐...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐