
...πππ...
Pram mengetuk ngetukkan meja dengan jarinya. Menanti laporan yang akan di berikan Dev padanya, mengenai hasil kerjanya selama di Bandung.
Dev menjelaskan, apa saja ke putusan yang sudah ia ambil untuk Hotel cabang Bandung pada Pram dengan terperinci dan tidak ada yang terlewatkan.
Dev juga mengambil langkah tegas, untuk kepala devisi yang sudah dengan berani menyalah gunakan jabatannya dan menggantinya dengan orang yang bisa ia percaya.
Jika sudah begini, bukan lagi hanya sekedar menandatangani berkas, melaporkan hasil kerja melainkan meeting dadakan yang tengah Pram lakukan dengan Dev.
π Sekolah Nairaπ
Di tengah tengah jam pelajaran, yang bertepatan dengan mata pelajaran bu Rita. Yang lain tengah dengan serius mengerjakan tugas yang di berikan oleh bu guru yang terkenal kiler dalam memberikan soal.
Serli yang duduk di damping Naira, menempati kursi yang biasanya di duduki oleh Novi.
Dengan Ratna yang dengan tajamnya berusaha menguping pembicaraan apa yang sesekali di ocehkan oleh Serli dan Naira.
Daren di buat syok saat mendengar dari Juni, apa yang menimpa pada Novi, hingga dirinya absen dari kelas untuk beberapa hari.
"Jadi tar lo bener kan, Nai! Mau jengukin Novi?" Tanya Serli dengan matanya yang fokus pada buku tugasnya.
"Iya jadi lah, masa kaga sih." Jawab Naira.
"Tapi untungnya lo lagi gak ada di kedei, Nai. Coba kalo lo lagi ada di kedei, bisa ke bayang gak sih, gimana marahnya pak Pram?"
Naira mengerutkan keningnya, menoleh sejenak pada Serli. Lalu kembali fokus pada buku tugasnya.
"Ko lo ngomongnya gitu?" Tanya Naira bingung.
"Nih ya Nai, secara lo itu bininya pak Pram, pasti lah doi sayang beber sama lo. Gw rasa nih ya, kalo lo ampe jadi korban ke bakaran kedei lo itu, itu yang jadi pelaku pembakaran, bakalan di udak ama pak Pram ampe ke lobang semut sekali pun!" Ujar Serli dengan panjang lebar.
"Ihs lo, tapi gw masih gak habis fikir sih. Ko bisa ya kedei gw di bakar sama orang? Secara gw kan selama ini ga ada musuh, kedei juga selama ini baik baik aja kan?" Oceh Naira, mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ngoming ngomong, itu kalo buat korban ke bakaran giman Nai? Apa mereka udah pada pulih? Apa karyawan kedei lo gak akan ngalamin yang namanya trauma?" Tanya Serli.
__ADS_1
"Iya juga ya, gw gak ke pikiran ke arah itu. Nanti deh pas jam istirahat gw minta ka Pram buat para korban di konsultasi ama dokter psikolog." Ujar Naira.
"Emang ada tragedi apaan sih di tepat kedeinya Naira?" Tanya Ratna pada Sopur.
"Setahu gw sih ada orang yang berhasil bakar kedeinya, Naira. Ada 2 orang yang luka parah, salah satu nya itu ya, Novi." Terang Sopur dengan tangannya yang serius memperhatikan pertanyaan pertanyaan dari buku paketnya.
Ratna menatap tajam pada Naira, "Huhhh, kenapa gak ikut mati aja sih lo, Naira! Kenapa juga lo harus hidup." Gumam Ratna dengan pelan namun masih dapat di dengar oleh Sopur.
Sopur yang mendengar gumaman Ratna pun akhirnya menoleh ke arah Ratna.
"Ratna, jangan gitu lah. Biar gimana pun juga Naira itu teman kita loh!" Seru Sopur yang tidak sependapat dengan Ratna.
Ratna menatap tajam Sopur, sialannn nih anak, sebenarnya temen gw apa temannya Naira sih!?
Sopur mengerutkan keningnya di saat Ratna hanya menatapnya dengan sinis tanpa berucap satu kata pun, "Lo kenapa sih, Ratna?"
"Gak usah berkomentar deh lo! Gw gak suka!" Seru Ratna dengan ketus.
Sopur berkata dengan sedikit emosi dengan raut wajahnya yang sedikit kecewa pada Ratna, "Astaga Ratna, gw cuma ngingetin lo. Lo kalo gak di ingetin bakal berbuat nekat, lo ngak inget apa hukuman yang udah di jatohin ama lo?"
"Apa maksud lo, Ratna? Gw gak ngerti! Maksud lo, gw naksir gitu sama Juni? Cihhh, kaga level sama gw!" Oceh Sopur, kenapa Ratna bisa tahu ya? Perasaan gw gak pernah bilang apa apa sama ini anak.
Tanpa Ratna dan Sopur sadari, ke duanya kini terperengah saat mendapati ibu Rita tengah berdiri di samping tempat duduknya Ratna.
"Ehem ehem, jadi apa tugas kalian yang aku berikan sudah selesai? Apa kalian sudah mengerjakan nya?" Tanya bu Rita dengan wajahnya yang penasaran.
"I- ibu Rita? Ko bisa di samping, saya? Perasaan tadi ibu lagi di meja ibu!" Ucap Ratna dengan tergagap.
"Hihihi, kita lagi ini ko bu, bahas soal tugas yang ibu berikan." Ucap Sopur dengan terkekah.
Bu Rita menatap tajam pada buku tugas ke dua muridnya itu, selama ini kalian mengerjai apa? Hanya menjawab itu saja tidak becus!
Bu Rita berkata dengan tegas, "Kerjakan tugas kalian, jangan hanya ngobrol terus!" Bu Rita melangkah kembali ke meja guru.
Serli menoleh sejenak ke arah belakang, tempat di mana Ratna dan Sopur duduk, "Itu anak ya, hobi ko buat masalah! Gak cape apa di hukum mulu ama guru konseling?" Serli menggeleng gelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Yah lo, Ser. Namanya orang punya pemikiran beda beda lah, tujuan mereka juga beda beda. Asal jangan lo tiru aja kelakuan jelek mereka!" Ujar Naira.
"Iya juga tuh, bener apa kata lo, Nai. Ngomkng ngomong, lo kaya orang tau Nai, waktu ke jadian kedei ke bakar, lo ga ada di lokasi ke jadian." Ujar serli dengan matanya yang berbinar.
"Nietnya tuh gw mau ke kedei malam itu, cuma sayangnya ka Pram ngelarang gw buat ke kedei." Ujar Naira.
"Ko bisa? Pak Pram kasih alasan apa sampe lo gak dapat izin buat ke kedei? Gak mungkin pak Pram juga kan yang bakar kedei lo?" Tebak Serli.
Naira mekayangkan tangannya pada kening Serli.
Tak.
"Awwhhh." Serli merintih dengan tangannya yang mengusappp usappp keningnya yang di jitak Naira.
"Ada apa, Serli?" Tanya bu Rita yang langsung menoleh ke arah Serli dengan keningnya yang mengkerut.
Bukan Serli yang menjawab melainkan Naira, "Itu bu, di kening Serli ada nyamuk."
"Oh, lanjut kan lagi tugas kalian. Ibu pikir ada apa!" Ujar bu Rita dengan kembali fokus pada buku yang ada di hadapannya.
"Bege lo, Nai! Orang tua lo bohongin!" Ceketuk Serli.
"Masa iya gw harus ngaku jitak pala lo? Ya gak lah!" Kilah Naira.
"BTW Nai, apa alasannya pak Pram kaga ngasih lo buat ke kedei malam itu?"
"Tau deh, ada aja alasannya. Twoi kalo menurut gw nih ya, kalo misal gw ada di kedei, bisa aja kan gw bisa langsung ringkus itu oelaku pembakaran! Secara mana mau sih kedei yang udah gw bangun susah oayah dengan enaknya di bakar gitu aja! Salah gw apa voba?" Sungut naira.
"Lo punya musuh gak? Apa ada yang lo curigain gitu?" Tanya Serli.
......................
...π Bersambung π...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! π