Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Lebih dekat


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kaaaa, aku bukan anak kecil. Aku sudah istirahat beberapa jam belakangan ini kan! Ayo jawab pertanyaan ku tadi." cecar Naira.


"Sudah lah ka, ceritakan saja sama kaka ipar. Dari pada kaka ipar jadi penasaran. Memang apa lagi yang harus di tutupi?" ujar Takeshi.


"Diam kau! Aku tidak sedang bicara dengan mu!" omel Pram.


"Singkatnya aku dan yang lain berhutang nyawa sama ka Pram. Jadi apa pun yang ka Pram butuhkan sekarang, akan menjadi tanggung jawab kami... kaka ipar." terang Takeshi yang menjelaskan dengan singkat tanpa di minta.


Naira mengerutkan keningnya, menatap tajam Pram dengan pemikirannya sendiri, tidak salah jika pria yang bernama Takeshi itu berhutang nyawa sama ka Pram. Tapi mereka berhutang nyawa karena apa ya?


"Sudah lah sayang, jangan banyak berfikir. Anggap di ruang ini hanya ada kau dan aku." oceh Pram.


Takeshi beranjak dari tempatnya, "Sudah lah. Aku pergi saja. Jika butuh sesuatu, langsung hubungi aku atau yang lain ya ka!" seru Takeshi yang langsung meninggal kan ruang rawat.


"Ada apa? Apa yang sedang kaka sembunyikan dari ku?" tanya Naira yang melihat tatapan Pram berbeda dari biasanya.


"Tidak ada yang aku sembunyikan dari mu, aku hanya sedang berfikir." Pram mengelusss pipi Naira, lalu mendaratkan kecupan di bibirnya.


Pram berkata dengan serius, "Cepat sembuh! Aku merindukan mu! Apa pun yang terjadi, jangan lakukan ini lagi! Aku sudah terbiasa terluka, tapi aku tidak bisa melihat mu terluka. Kau mengerti itu?"


"Aku sudah tidak apa apa. Aku tidak selemah itu ka, buktinya aku masih di sini, menani mu ka! Apa kata dokter? Berapa lama aku seperti ini? Aku kurang nyaman ka." keluh Naira dengan posisinya yang tengkurap di atas ranjang rawat.


"Sabar ya sayang! Setidaknya sampai jahitan di punggung mu kering... kau tenang saja, aku sudah meminta dokter, untuk memberikan obat yang paling mahal untuk mempecepat jahitan di punggung mu, di tambah dengan asupan makanan yang sehat dan bergizi, pasti kau akan cepat pulih... sabar ya!"


"Maaf ya ka, karena aku jadi merusak bulan madu yang sudah kaka rencanakan." ucap Naira dengan penuh penyesalan, menyalahkan dirinya sendiri.


"Ini semua bukan ke salahan mu, ini semua terjadi karena kelalaian ku dalam menjaga mu. Aku yang harusnya kau salahkan. Maaf, karena aku tidak becus dalam menjaga mu!" ucap Pram dengan penuh penyesalan.


Naira menggenggammm jemari Pram dengan erat, "Jangan saling menyalahkan... anggap saja ini ke salahan kita berdua. Aku hanya ingin melindungi mu. Selama ini kaka yang selalu melindungi ku kan?" Naira menyunggingkan senyum manisnya pada Pram.


Pram menemani Naira selama Naira di rawat di rumah sakit, hingga alat kateter di lepas, selang infus dan kantong darah, sudah tidak lagi tertancap di pergelangan tangan Naira. Luka jahitan di punggung Naira yang kian mengering. Bahkan kondisi Naira pulih lebih cepat dari perkiraan dokter.


Waktu mereka di rumah sakit tidak hanya di habiskan dengan berdua, tapi sesekali Takeshi, Zang dan Toda mengunjungi dan menemani nya. Membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat, meski Pram tampak menunjukkan sisi cemburu nya. Tak ayal menjadi bahan ledekan untuk Takeshi dan Toda. Berbeda dengan Zang yang masih tampak sinis saat bicara dengan Pram dan Naira.


Seperti saat ini.


Seorang perawat wanita, datang membawakan makan siang untuk Naira.

__ADS_1


"Ini pasti makan siang untuk kaka ipar!" celoteh Takeshi.


"Benar, Tuan." jawab suster dengan membawa nampan berisi makan siang untuk Naira, kakinya melangkah masuk.


"Berikan saja pada ku, sus!" Takeshi langsung merebut nampan itu dari tangan suster.


"Kalo begitu, saya permisi." perawat langsung meninggalkan ruang rawat.


"Ayo ka, kita makan siang dulu!" seru Takeshi dengan mendudukan dirinya di kursi yang biasanya di duduki Pram.


"Kalian makan aja duluan. Aku bisa makan siang setelah ka Pram kembali." Naira menolak halus, ajakan Takeshi untuk makan siang sekarang.


"Sudah lah ka, ka Pram bisa makan siang sendiri. Lebih baik kaka ipar makan sekarang. Kan kaka ipar harus minum obat." ujar Toda yang bersama dengan Zang menggotong sofa panjang, agar lebih dekat dengan ranjang rawat Naira berada.


Takeshi mengerutkan keningnya, menatap aneh oada Zang dan Toda, "Hei kalian! Apa yang akan kalian lakukan dengan sofa itu?" tanya Takeshi dengan melepas plastik lip, yang menutupi hidangan makan siang Naira.


"Tentu saja ingin menemani kaka ipar makan siang. Kami harus lebih dekat dong!" seru Toda.


"Apa ka Pram bilang pada kalian, dia pergi ke mana?" tanya Naira.


"Tidak, memang ka Pram tidak mengatakan apa apa pada kaka ipar?" Takeshi malah memberikan pertanyaan pada Naira.


"Dia bikang hanya akan pergi sebentar." ucap Naira.


"Aku kan bisa makan nanti saja. Kalian makan saja duluan jika lapar!" Tolak Naira.


"Tidak baik mengulur waktu untuk minum obat ka!" bujuk Takeshi.


Naira pun menerima suapan dari Takeshi, mengingat perutnya yang memang sedang lapar.


"Gitu dong, itu baru kaka ipar." Takeshi merasa senang, bisa menyuapi Naira dengan tangannya.


"Apa selama kaka ipar mengenal ka Pram, kaka ipar pernah melihat ka Pram menghajarrr orang?" tanya Toda dengan mengambil mi ramen dalam kemasan yang sudah siap di santap.


"Pernah."


"Bagai mana cara kaka ipar bisa menaklukkan hati ka Pram?" tanya Zang.


"Entah lah. Aku sendiri tidak menyadarinya... jika aku bisa menaklukkan hati rubahhh mesummm itu." ucap Naira dengan jujur.

__ADS_1


Takeshi mengerutkan keningnya, "Eh, apa itu rubahhh mesummm?"


Ceklek.


Pram berseru riang setelah membuka pintu, "Sayang aku bawakan..." Pram tidak melanjutkan perkataannya, melihat Takeshi yang sedang menyuapkan Naira makan siang dengan sendok.


Mata bulat Naira berbinar saat melihat Pram yang sudah kembali, "Kaka sudah kembali!" seru Naira dengan mulut yang sambil mengunyah makanannya.


Pram menatap tajam Takeshi, dengan melangkah masuk ke dalam, menghampiri ranjang rawat Naira.


"Apa yang kau lakukan Takeshi? Kau harus tahu batasan mu!" ucap Pram dengan datar, mengingatkan posisi Takeshi di mata Naira.


Naira berusaha menjelaskan pada Pram, namun perkataannya langsung di sela oleh Pram.


"Ka! Dengarkan aku, Takeshi hanya ----"


"Aku tidak meminta mu untuk menjelaskan nya sayang!" Pram hanya melirikkan matanya sebentar pada Naira, lalu mengarah kan mata tajamnya pada Takeshi.


Naira membatin, ka Pram... jangan seperti itu, Takeshi hanya berniat baik ingin membantu ku makan siang. Tidak lebih, kendalikan emosi mu! Jangan berfikir buruk pada Takeshi.


"Maaf ka, aku yang memaksa kaka ipar untuk makan siang sekarang... tadi kaka ipar ingin menunggu mu kembali. Tapi kan kaka ipar harus minum obat." Takeshi berusaha menjelaskan pada Pram.


Zang dan Toda langsung beranjak dari duduknya.


"Itu benar ka! Ayo kaka ikut makan bersama dengan kami!" terang Toda dengan tangan yang mengepal, rasa cemas meliputi hatinya.


"Aku pikir kaka masih lama kembalinya, aku juga ikut mendesak kaka ipar untuk makan siang sekarang!" oceh Zang, ka Pram tidak akan memukul Takeshi kan?


Pram berdiri di depan Takeshi dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku sungguh ka, tidak ada maksud lain. Lagi pula aku sudah memiliki kekasih ka. Mana mungkin aku akan merebut kaka ipar dari mu!" ujar Takeshi dengan panjang lebar, menatap Pram dengan sungguh sungguh.


"Apa kau pikir, aku akan mendengar kan perkataan mu?" ucap Pram dengan penuh penekanan.


"Ka Pram! Aku masih lapar." ucap Naira dengan manja, dengan duduk menyandar di atas ranjang rawatnya.


Krukkk krukkk.


......................

__ADS_1


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2