
...💖💖💖...
"Kau siapkan mobil!" titah Pram pada Haikal.
Naira mengadahkan wajahnya pada Pram, "Emang kita mau ke mana ka? Apa yang sedang kaka rencanakan?" tanya Naira dengan penuh selidik.
Pram menatap datar Atmaja, lalu menatap penuh hangat pada Naira, Heni dan Dito, "Pemakaman untuk papah kalian!" ucap Pram datar dengan menarikkk lengan Naira, hingga tubuhnya beranjak dari duduknya.
"Ka Pram!" tatapan marah di tunjukkan Naira pada Pram.
Heni dan Dito langsung beranjak dengan tatapan yang membola, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Pram.
Atmaja yang naik pitam, langsung beranjak dari duduknya dan ingin menyerang Pram dengan tangan kosong yang mengarah pada Pram, "Kurang ajarrr kau!"
Namun Pram lebih dulu menghindar dan menarik Naira ke dalam pelukannya, lalu mendorong punggung Atmaja, hingga pria paruh baya itu jatuh terduduk di sofa yang tadi di duduki Pram.
"Apa kau tidak punya sopan santun, papah mertua? Aku hanya bergurau, kau menanggapinya dengan serius!" Pram menatap Atmaja dengan tatapan yang meremehkan.
Pram menatap Heni dan Dito, "Rupanya kalian terbawa suasana ya? Aku tidak akan melukai kalian, kecuali ada di antara kalian, yang berniat untuk memisahkan ku dengan Naira! Gadis kecil ku!" Pram menyeringi.
Bugh.
Naira memukulll dada Pram yang bidang, "Kalo bercanda tuh liet sikon ka! Jantung ku hampir copot karena ucapan kaka itu!" Naira mengerucutkan bibirnya, membantu Atmaja untuk berdiri.
"Lihat itu! Menantu macam apa yang memperlakukan ayah mertua nya seperti ini!" Atmaja membenar kan pakaiannya.
Dito menggondong tanganya di punggung, mengalihkan pandangannya dari Atmaja sambil berseru, "Itu kan karena salah papa juga! Dari tadi buat Tuan Pram marah, mungkin Tuan Pram hanya memberi pelajaran sedikit buat papa!"
Atmaja mengepalkan tangannya, menatap nyalang pada Dito, "Anak kurang ajarrr kau, berani berkata seperti itu pada papah mu? Aku ini papah mu!"
"Sudah sudah, dari tadi papa dan Dito selalu selisih paham, malu ih... ini kan di rumah nak Pram, masa kesan pertama setelah lama tidak bertemu, meninggalkan kesan buruk." oceh Heni dengan sok bijak nya.
"Tumben mama bijak!" celetuk Naira.
__ADS_1
Pram berjalan ke luar dengan menggenggammm pergelangan tangan Naira, "Sudah debatnya lanjut nanti saja, sekarang kalian ikut aku!"
Naira berseru dengan menoleh ke arah belakang, "Ayo mah, pah, Dito!"
"Apa kami harus ikut nak Pram?" tanya Heni yang kini sudah berada di dalam mobil, bersama dengan Atmaja serta Dito yang ada di kursi belakang. Sedangkan Pram yang mengemudi, Naira di samping Pram.
"Iya Tuan Pram, memang kita ini mau pergi ke mana sih? Itu mobil yang di belakang... memang sengaja untuk mengikuti mobil ini ya, Tuan Pram?" tanya Dito yang melihat 2 mobil hitam, berada persis di belakang mobil yang tengah Pram kemudian, bak iring iringan mobil pejabat yang di kawal.
Pram melirikkan matanya lewat kaca spion mobil, kenapa aku tampak risih ya di panggil Tuan oleh Dito dan bu Heni? Apa semenyeramkan itu, aku di mata keluarga istri ku?
"Bisa kalian panggil aku Pram saja? Tanpa embel embel kata Tuan?" tanya Pram dengan tatapan yang datar.
"Wah kalo gitu mah bisa banget Tuan, eh maksudnya ka Pram... aku kan memanggil ka Nai, jadi aku panggil ka Pram juga ya? Tidak masalah kan? Atau mau aku panggil om Pram?" ledek Dito, yang paling bisa beradaptasi dengan keadaan.
"Setua itu aku di mata mu, Dito?" tanya Pram.
"Memang kau tidak punya cermin untuk berkaca, tampang mu tua. Tidak pantas di panggil ka oleh anak anak ku!" ucap Atmaja dengan ketus, tatapan meremeh kan Pram.
"Sayang! Sepertinya aku harus pertimbangkan perkataan ku tadi... maaf ibu mertua jika kau harus menjadi janda dalam waktu dekat ini!" Pram berkata dengan serius.
"Heh, memang siapa diri mu? Aku harus takut gitu pada mu? Kau bukan malaikat pencabut nyawa! Jangan sombong kau Pramana Sudiro!"
"Oh ya! Sungguh kau tidak takut pada ku?" tanya Pram dengan tenangnya, tetap fokus pada jalan dan kemudi.
"Papah, ka Pram... bisa tidak sih kalian berdamai, jangan ribut terus!" Naira menatap Pram dan Atmaja secara bergantian, dengan tatapan yang penuh harap.
"Tau nih papa, terlalu mendramatisir keadaan, ka Pram pasti cuma bercanda. Gak akan serius, bukan begitu ka Pram?" tanya Dito.
Pram tidak menanggapi perkataan Dito, mobil berhenti tepat di parkiran.
"Kita sudah sampai! Ayo kita turun!" Pram ke luar dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Naira.
Pram menggenggammm jemari Naira, menunggu yang lainnya ke luar dari dalam mobil. Tidak lama, 2 mobil hitam ikut memarkirkan mobilnya, di sisi kanan dan kiri mobil Tuannya.
__ADS_1
"Apa istimewanya, hanya tempat seperti ini... aku juga bisa membawa kalian ke sini!" sungut Atmaja dengan sombongnya.
Haikal menghampiri Pram, "Semuanya sudah di atur, bos! Tinggal masuk saja!" seru Haikal.
Atmaja menatap ke sekitar, kenapa tampak sepi, harusnya ramai pengunjung kan? Dan lagi cuma ada 3 mobil yang terparkir. Gak mungkin juga kalo Pramana Sudiro membuking area ini hanya untuk kami.
"Sepertinya papah mertua lagi lagi harus menelan kecewa, aku memang sudah membuking tempat ini untuk kalian." Pram merekatkan tangannya di pinggang Naira, "Ayo sayang kita masuk!" ujarnya lagi.
Atmaja terpaku di tempatnya, a- apa bocah sialannn itu sungguh sungguh membuking tempat ini? Berapa uang yang harus ia keluar kan untuk ini semua?
"Wah ka Pram keren, itu artinya hanya ada kita saja ka yang berada di dalam?" tanya Dito dengan antusias.
Pram hanya mengangguk kecil, "Apa kau bahagia, sayang?" tanya Pram dengan lembut di telinga Naira, membuat hembusan hangat nafas Pram terasa di kulit mulus Naira.
"Tapi laen kali jangan seperti ini lagi ya ka! Kasian mereka yang ingin masuk ke tempat ini, harus kembali pulang dengan wajah sedih." ujar Naira.
"Siapa bilang mereka sedih? Masih banyak tempat lain yang bisa mereka kunjungi, aku kan datang ke sini... ingin menghabiskan waktu dengan keluarga mu tidak setiap saat! Wajar jika mereka mengalah pada ku!" gerutu Pram yang tidak mau kalah dari Naira.
Naira mencubit gemas pinggang Pram, "Dasarrr tua keladi yang gak mau ngalah!" Naira berlari kecil menghampiri ke dua orang tuanya, yang sedang menikmati sejuknya udara puncak dari ketinggian.
Mereka mengelilingi tempat yang sudah di sewa Pram. Dengan jumlah yang cukup menguras dompet.
Atmaja mengelusss kepala Naira, "Apa kau bahagia dengan pria tua itu, sayang?" tanyanya dengan menatap tajam Pram.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊