Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mulutnya manis kaya madu


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Aku menatap ka Pram dengan bingung, maksud ka Pram apaan ya? Haikal? Markas? Maid?


...πŸ‚ Di hotel Star, Bintaro πŸ‚...


Karin membuat keributan di meja resepsionis. Karin beradu argumen dengan Reina.


"Bagai mana, Nona? Apa sudah ada jawaban dari Tuan Pram?" Tanya Reina dengan wajah penuh kemenangan.


"Pram belum juga menjawab telpon ku!" Seru Karin dengan kesal.


Pasalnya sekarang Karin tidak bisa ke luar masuk sesukanya ke dalam ruang kerja Pram, kecuali memang Pram sendiri yang membutuhkannya dan menyuruhnya masuk untuk menemui Pram di ruang kerjanya.


"Maaf Nona, kalo begitu saya tidak bisa memberikan akses Nona Karin untuk memasuki ruang kerja pak Pram." Ujar Reina.


"Ihs, kau tahu kan aku ini siapa! Biarkan aku masuk?" Karin tetap ngotot ingin masuk ke ruang kerja Pram, Pram pasti ada di dalam sana... dia sedang menunggu ku!


"Maaf Nona, tapi saat ini pak Pram memang tidak ada di tempat." Ujar Debi dengan suaranya yang lemah lembut.


"Pram ke mana?" Tanya Karin.


"Untuk soal itu saya tidak tahu, Nona." Ujar Debi.


"Bilang Pram, aku tadi mencarinya!" Seru Karin yang lantas meninggalkan meja resepsionis dengan wajah di tekuk, siallll aku tidak berhasil menemuinya. Ke mana sih Pram itu!


Reina menatap tidak suka pada Karin, "Ihs lagaknya udah kaya istri pak Pram aja... sok memerintah gitu!" Seru Reina dengan bibirnya yang nyinyir.


"Hus, jangan gitu! Nanti kalo orangnya denger bisa berabe!" Ucap Debi.


"Ah ngapain takut sama model oplas kaya Karin, jangan sampe pak Pram milih nikah ama itu model, mit amiiiiit." Ujar Reina sambil mengetuk ngetuk meja resepsionis dengan kepalan tangan kanannya.


"Hihihi kamu itu Reina, jodoh siapa yang tahu." Debi mengerdikkan bahunya.


Dev melewati meja resepsionis dengan langkah pasti.


"Kerja yang benar! Ngobrol terus!" Seru Dev yang berdiri di antara karyawan resepsionis dengan di halangi meja.


"Ihs si pak Dev baru nongol! Kenapa gak dari tadi aja sih pak!" Gerutu Reina.


Dev mengerutkan keningnya, "Kenapa kau jadi mengatur ku? Mau ku pecat kau!" Seru Dev dengan mata menatap tajam ke arah Reina.


Reina menepuk mulutnya dengan jari tangan kanannya, salah ngomongkan tuh gw! "Jangan dong, pak!" Seru Reina.

__ADS_1


"Pak, barusan ada Nona Karin... tadi memaksa untuk memasuki ruang kerja pak Pram." Ujar Debi.


"Lantas?"


"Kami berhasil menghalanginya ko pak, sesuai dengan arahan bapak!" Seru Debi.


"Bagus, mulai saat ini... siapa pun yang ingin bertemu dengan pak Pram, harus ada temu janji dulu, jika tidak ada janji... bilang pak Pram tidak ada di tempat! Kalian mengerti!" Pesan yang di berikan Dev pada Reina dan Debi.


"Mengerti pak." Ucap Reina dan Debi.


"Beri tahukan pada resepsionis lainnya!" Dev meninggalkan meja resepsionis dan kembali menuju ruang kerjanya


πŸ‚Kembali ke Naira dan PramπŸ‚


"Dedi! Apa kau juga ingin ikut di bawa ke markas!" Oceh Pram yang masih berfikir bahwa yang ada si ruang kerjanya saat ini adalah pak Dedi, kepala pelayannya.


"Apa sih ka! Gak jelas banget!" Aku dudukan diri ku di kursi empuk yang ada di hadapan ka Pram meski terhalang meja kerja, aku dapat melihat ka Pram tampak kaget dengan kehadiran ku, sama dengan pak Dedi yang kaget tadi.


Ka Pram mengangkat kepalanya dan melihat ke arah ku dengan mata memicing tajam ia juga menghentikan jarinya yang tadi menari nari di atas keyboard laptop.


Astaga anak nakal ini, aku sudah menyuruhnya untuk istirahat di kamar, kenapa malah kesini?


Pram bertanya pada Naira lewat gerakan kepalanya.


Aku cukup mengerti dengan syarat yang di berikan ka Pram pada ku.


Pram menarik sudut bibirnya ke atas, anak nakal ini cukup mengerti ya dengan isyarat yang aku berikan!


Bukannya menerima hapenya, ka Pram malah menggelengkan kepalanya .


"Apa lagi? Ini kan hape mu ka!" Seru ku, "Tahu tidak... hape mu itu berisik dari tadi ngejerit jerit minta di angkat, banyak loh panggilan telpon dari teman wanita mu ka!" Entah kenapa bibir ini mengerucut dengan sendirinya.


Kenapa setelah bicara, anak ini malah mengerucutkan bibirnya? Apa dia sedang menunjukkan rasa cemburunya?


"Mendekat pada ku!" Pram meminta Naira untuk mendekinya, Pram memundurkan kursinya ke belakang.


Dengan malas aku berjalan mendekati ka Pram, mau apa lagi sih ini sama ka Pram, rubah mesummm aku harus hati hati ini mah!


Ka Pram menarik pinggang ku dan membuat ku duduk di atas pangkuannya.


Hap.


"Akh."

__ADS_1


Ka Pram melingkarkan ke dua tangannya di pinggang ku sedang punggung ka Pram menempel pada sandaran kursi yang ia sedang duduki.


Aku berusaha untuk melepaskan tangan ka Pram yang melingkar di pinggang ku, "Apa sih ka! Lepas gak!" Oceh ku.


Pram menggelengkan kepalanya.


"Aku cubit nih ya!" Ancam ku dengan tangan kiri siap mencubit pergelangan tangan ka Pram dan tangan kanan menggenggam hape ka Pram.


"Cubit saja!"


"Ooooh minta di beri nih!" Ku tolehkan wajah ku ke belakang dan melihat wajah ka Pram yang kali ini tersenyum manis pada ku.


"Jangan nyesel loh ka!" Cibir ku.


"Aku tidak akan menyesel, jika kau yang melakukannya!"


Dasarrr laki mulut ember, pantesan Karin, Harumi, Momo, Sita pada telponin ka Pram, mulutnya manis kaya madu, "Aiiih enak banget kalo ngomong!" Seru ku dengan ketus.


"Untuk apa kau ke sini?" Tanya ka Pram.


Tangan kiri ku mencubiti pergelangan tangan ka Pram.


"Aku ingin memberikan hape kaka." Tangan kanan ku terulur ke atas memberikannya pada ka Pram.


Kening Pram mengkerut, "Siapa yang menelpon?" Tanya ka Pram yang menaruh hapenya di atas meja.


"Model cantik dan beberapa nama wanita yang pasti bukan cowok!" Seru ku dengan ketus, "Ko gak di lihat daftar panggilan tidak terjawabnya?" Tanya ku bingung.


"Untuk apa aku melihat daftar panggilan tidak terjawab yang tidak penting, jika harus melewatkan pemandangan indah di depan mata ku!"


"Indah dari mana? Harumi itu siapa ka?" Pertanyaan meluncur bebas dari bibir ku.


"Investor dari jepang, ada apa?" Tanya ka Pram dengan memberi jarak pada tubuh ku dan tubuhnya, tangan ka Pram nangkring di pinggang kanan dan kiri ku.


"Hanya bertanya, gak boleh?" Tanya ku dengan menatap mata ka Pram, ada banyak yang tidak aku ketahui tentang mu ka, dan ada banyak pula pertanyaan yang berseliweran di kapala ku, apa kamu akan menjawab setiap pertanyaan ku itu dengan jujur ka?


Ka Pram menatap dalam mata ku, mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya padanya!


"Apa yang kau dengar saat aku dan Aji bicara?" Tanya ka Pram dengan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga ku.


Kening ku mengkerut, "Ka Pram bilang almarhum ibu kaka di racun sama Widia, memang ada apa dengan Widia dan almarhum ibu kaka? Kenapa kaka bisa sangat membenci ayah kaka?"


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis author gabut


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2